Arham Malik Diningrat sudah berencana akan datang ke rumah orang tua Aliza Aurelia. Laki-laki itu tidak sabar untuk menjadikan wanita yang ia cintai sebagai istrinya. Kesibukannya membuat Arham lelah namun ia tidak mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah calon mertuanya.
Sore hari ini ia sudah dalam perjalanan menuju rumah calon istrinya. Laki-laki itu sangat nekat pergi ke tempat itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kepada dirinya.
Sampailah Arham di depan rumah keluarga Aliza. Dia memandangi bangunan tersebut, sudah bertahun-tahun ia tidak menginjakkan kakinya di tempat itu.
Sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah. Arham mulai keringat dingin, apalagi ketika dua orang keluar dari dalam sana.
"Mas," lirih Ajeng menatap suaminya.
"Beraninya dia datang ke sini." Ucap Hardi Bramastyo.
Pria dan wanita paruh baya itu memandang Arham dengan sangat tajam. Setelah bertahun lamanya mereka berdua kembali melihat Arham. Anak dari orang yang melakukan kecurangan membuat perusahaan mereka hancur drastis.
"Om, Tante," sapa Arham.
Hardi tersenyum miring melihat pria itu. "Wow, ternyata kamu punya nyali juga datang ke rumah saya."
Arham mendekati orang tua Aliza, saat hendak meraih telapak tangan pria itu Hardi malah menghindar, begitu pun dengan Ajeng.
"Saya mau ngomong sama Om dan Tante."
"Ngomong atau mau menertawakan kami karena kalian sudah berhasil membuat perusahaan kami hancur."
"Bukan ... Saya mau berbicara tentang Aliza."
Hardi dan Ajeng saling memandang.
"Ngapain kamu bahas tentang anak kami. Urusan Aliza dengan keluarga kalian sudah selesai. Jangan bahas tentang saudara kamu yang meninggal itu."
"Saya mau melamar Aliza, Om."
Kedua orang tersebut membulatkan mata. Perlahan Hardi mendekat kearah Arham dan meninggalkan pukulan pada wajah pria itu.
Bugh!
Arham mengusap bagian ujung bibirnya yang mengeluarkan noda darah.
"Berani sekali kamu ngomong seperti itu. Kamu pikir anak saya mainan ... Setelah tidak jadi menikah dengan saudara kamu sekarang dengan enaknya kamu melamar anak kami."
"Kan yang membatalkan pernikahan itu Aliza, Om. Bukan saudara saya." Ungkap Arham
"Jadi kamu menyalahkan anak saya?" tanya Hardi. "Tidak puas kalian sudah menghancurkan perusahaan kami."
Bugh!
Lagi-lagi Arham mendapatkan pukulan pada sisi lain wajahnya.
"Kamu pikir Aliza akan mau setelah orangtua kamu membuat kekacauan pada perusahaan kami. Jangan harap Arham." Timpal wanita yang sedang bersama mereka.
"Kamu lihat rumah kami sekarang. Kami bangkrut gara-gara keluarga kalian."
"Atas nama Papa, Mama. Saya minta maaf sama Om dan Tante."
"Minta maaf kamu bilang?"
Ajeng mendekati pria itu dan melayangkan tamparan pada Arham.
Plak!
Hari yang sangat sial dialami oleh Arham Malik Diningrat. Sudah beberapa kali ia mendapatkan kekerasan fisik dari kedua orang tua Aliza.
"Saya dan Aliza sepakat untuk menikah."
"Jangan mimpi kamu," ucap Ajeng.
"Mama! Papa!"
Seorang wanita baru saja keluar dari dalam mobil, dia baru saja pulang dari toko nya. Aliza sangat kaget ketika melihat ada Arham di sana. Karena laki-laki itu sama sekali tidak memberitahu apapun tentang kedatangannya.
"Arham."
"Aliza." Lirih Arham tersenyum simpul.
"Bibir kamu kenapa?" tanya Aliza.
"Biarin Aliza, dia pantas mendapatkan itu," sambung Hardi.
"Papa yang mukul Arham?" tanya Aliza. "Kenapa Papa lakuin itu?"
"Kamu kenapa malah belain Arham?"
"Aliza! Jangan bilang kalau kamu memang sudah sepakat menikah dengan laki-laki ini?" tanya Ajeng penasaran.
Aliza menoleh kearah Arham. "Arham. Kenapa kamu nekat sih?"
"Aku serius sama kamu karena itu aku datang ke sini."
Sejenak Aliza memejamkan matanya. Dia tidak habis pikir jika Arham Malik Diningrat akan datang menemui orangtuanya tanpa sepengetahuannya.
"Jadi bener kalau kamu mau nikah sama pria ini?" tanya Hardi dengan nada suara tinggi.
Aliza terdiam, ia tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Jawab Aliza," sambung Ajeng yang mulai emosi.
"Ma, Pa ... Aliza sayang Arham, Aliza nggak mau menikah kalau bukan sama Arham."
Ajeng menggenggam telapak tangan anaknya. "Sayang ... Maksud kamu apa?"
"Arham akan menjadi suami Aliza. Aliza mau nikah sama dia."
"Aliza. Kamu pikir pernikahan itu main-main, kamu ini mantan calon istri saudaranya."
"Aliza yang salah, Pa ... Aliza pikir yang melamar Aliza adalah Arham, ternyata bukan. Karena itu Aliza membatalkan pernikahan dengan Irham."
"Aliza sayang, kamu nggak perlu menikah sama dia. Banyak laki-laki diluar sana yang lebih baik dari pada Arham," ucap Ajeng.
"Maaf, Ma. Tapi Aliza nggak bisa. Aliza lebih memilih Arham."
Arham tersenyum melihat keberanian wanita itu. Dia bangga kepada Aliza karena wanita itu tegas dalam pendiriannya.
"Aliza ... Kamu harus ingat, orang tua dia sudah membuat bisnis Papa hancur. Sampai kamu harus ikut mencari uang demi menghidupi keluarga kita."
"Papa juga harus ingat, gara-gara Aliza, Irham saudara kembar Arham meninggal dunia."
"Kamu berani melawan kata Papa?"
"Tapi kenyataannya gitu, Pa. Papa jangan melupakan kejadian yang membuat orang tua Arham dendam sama kita."
"Aliza!"
Hardi mendekati anak perempuannya, tangannya sudah siap untuk melayang namun tertahan oleh Arham.
"Jangan, Om."
"Papa mau nampar Aliza?" tanyanya.
Hardi terdiam karena terlalu emosi ia hampir saja kehilangan kendali. Dengan kasar pria paruh baya itu menepis tangan Arham.
"Kamu lihat sekarang! Kamu itu membawa pengaruh buruk buat Aliza. Gara-gara kamu dia berani melawan kami," ucap Ajeng.
"Enggak, Ma ... Arham sama sekali nggak salah dalam hal ini. Dia cuma korban dari perbuatan Aliza."
"Sadar, Aliza. Kamu jangan termakan sama cinta pria ini."
"Aliza sadar, Ma. Aliza baru sadar kalau kita berdua memang saling mencintai." Ungkapnya.
"Aliza! Jangan kurang ajar kamu. Kamu itu harus pikirin masa depan kamu. Laki-laki ini nggak sesuai sama kamu."
"Kali ini Aliza nggak akan turutin perkataan Papa sama Mama. Aliza mau nikah sama Arham."
"Enggak. Papa nggak setuju."
"Mama nggak setuju Aliza. Keputusan itu bisa aja membuat kamu sengsara karena masuk ke dalam keluarga mereka."
"Arham baik Ma, Pa ... Karena dia, Aliza nggak mau menikah sampai saat ini," ucapnya. "Aliza berharap Arham kembali, dan kesempatan itu sudah ada sekarang."
"Papa nggak setuju. Kamu harus ikuti kata kami."
Perlahan Aliza menggelengkan kepalanya. "Nggak, Pa. Aliza akan tetap menikah sama Arham. Aliza nggak mau kesempatan kali ini terbuang lagi."
"Jangan membantah Aliza. Kamu belum tau tentang kehidupan rumah tangga."
"Mama nggak akan restuin kamu kalau kamu menikah dengan Arham."
"Mama sama Papa harus restuin kami. Karena—" Aliza menghentikan ucapannya.
Gadis itu menatap Arham dengan mata yang berkaca-kaca membuat Arham terharu melihat keberaniannya. Lalu ia kembali menoleh kearah kedua orangtuanya.
Aliza memejamkan matanya dan berkata. "Kami udah pernah tidur berdua."
Ketiga orang itu kaget dengan perkataan Aliza. Arham tidak tau apa maksud dari gadis yang ia cintai. Tetapi dia merasa heran kenapa Aliza sampai berbohong seperti itu.
"Jadi kamu sudah berani melecehkan anak saya."
Bugh!
Untuk kesekian kalinya Arham mendapatkan pukulan dari orang tua Aliza.
"Papa," lirih Aliza.
"Aliza! Bilang sama Mama kalau kamu bohong."
"Enggak, Ma ... Aliza nggak bohong. Aliza dan Arham memang pernah tidur bersama."
"Pergi kamu dari sini sebelum saya benar-benar kehilangan kendali," ucap Hardi.
"Papa jangan usir Arham, dia punya niat baik datang ke sini."
"Tapi pria ini sudah kurang ajar karena berani menyentuh kamu."
"Enggak ... Aliza sadar apa yang udah Aliza lakukan. Ini bukan kesalahan Arham sepenuhnya."
"Om, yang Aliza bilang itu—"
"Arham diam," ucap Aliza.
Aliza tidak mau Arham jujur tentang kebohongannya. Bagaimanapun caranya dia harus bisa meyakinkan kedua orangtuanya agar merestui hubungan mereka.
"Pokoknya Aliza akan nikah sama Arham. Aliza sayang sama dia."
"Aliza, aku nggak mau kamu bertengkar sama—"
"Arham. Bawa aku pergi."
"Aliza. Kamu udah berani kurang ajar ya," ucap Hardi.
"Pa, Aliza minta maaf. Aliza punya jalan sendiri," ucapnya. "Arham. Bawa aku sekarang juga."
"Tapi—"
"Kalau kamu beneran menginginkan aku, bawa aku sekarang," ucap Aliza memberi tantangan kepada calon suaminya itu.
"Om, Tante. Saya minta maaf, saya harus bawa Aliza."
Dengan beraninya Arham menggenggam telapak tangan gadis itu. Hardi dan Ajeng tidak percaya jika kedua orang itu pergi dari rumah mereka.