Kejutan yang dia berikan benar-benar membuat hatiku bergejolak, kejutan yang tak terduga itu benar-benar membuatku menyadari akan satu hal. Harapanku hanyalah sekedar harapan.
***
Erin telah selesai mempersiapkan diri, hari ini ia akan menunggu Kenzie di halte biasanya, mungkin Kenzie hari ini tidak membawa peci alias motor kesayangan cowok itu karena ternyata motor tersebut sedang di service di bengkel. Erin menatap pantulan dirinya di cermin, dia memoleskan lipgloss nya di bibir serta menaburkan bedak di wajahnya dengan merata, tak lupa parfum stroberinya ia semprotkan keseluruh badan.
Erin memulai hari dengan senyuman lebar, dia menuruni anak tangga sambil bersenandung ria, Erin yang tidak pernah sarapan pagi pun duduk di kursi tempat makan, menunggu makanan yang bunda masakkan.
Ema terlihat buru-buru keluar dari dapur dengan piring sajinya sambil menengok ke arah pintu kamar Erin.
"Erin! Ayo sarapan dulu. Ini bunda udah masak loh!" teriaknya.
Erin menatap bundanya diam, sambil mencomot selai coklat dengan sendok. Bunda yang berbalik untuk meletakkan piring saji terkejut saat Erin menatapnya sambil mencomot selai coklat.
"Loh?! Kapan turun?!" Erin tersenyum. "Udah dari tadi Bun, Erin disini," ucap Erin mengaku.
"Kok.. Tumben?"
Erin mendengus. "Emang, Erin gak boleh sarapan?"
"Ehhh... Boleh lah! Tapi... "
Ayah Erin datang, dengan selembaran koran. "Sudahlah bun. Syukur, Erin mau sarapan, nggak kabur kayak biasanya."
"Betul tuh Ayah, Bun."
Mereka bertiga pun makan dengan nikmat dan tenang, sesekali saling melempar pertanyaan dan menjawabnya. Setelah selesai, Erin pamit terlebih dahulu dengan menenteng skateboard kesayangannya.
Erin membelah jalanan dengan riang gembira, tak sabar menunggu kejutan Kenzie. Sampai disekolah Erin segera masuk, namun di koridor dekat lapangan basket langkah Erin terhenti. Dia melihat segerombolan anak-anak dan sebuah balon berbentuk love.
"Cielahhh! Nembak gitu amat, dasar alay!" ejeknya.
Saat akan berjalan menuju kelas, Lisa dan Syiela menubruk badan dan menarik kedua tangan Erin pula karena sempat akan terjungkal ke belakang.
"Lo--"
"Hot news!" potong Lisa dan Syiela.
Erin menaikkan alisnya, penasan mengapa kedua temannya ini terlihat seperti panik? Gelagapan? Ah, Erin tidak mengerti kenapa sikap mereka berdua seperti ini!
"Apa?" Keduanya menunjuk ke arah lapangan yang tengah penuh dengan beberapa orang memekik karena ada adegan romantis yang ia tonton. Alis Erin bertautan, bingung apa maksud kedua temannya ini.
"Kenzie udah nembak."
Erin menggeleng lalu tersenyum tipis mendengar ucapan Lisa. "Belom, kok. Gue belum di tembak sama Ken."
Lisa dan Syiela saling tatap, bingung, mereka berdua bingung. Ingin menjelaskan tapi mendadak lidah mereka berdua kelu melihat antusiasme atau yang terlihat, sikap kepedean Erin yang bahagia menunggu khayalannya.
"Gimana, nih?" gerakan mulut Lisa di balas gendikan bahu oleh Syiela, pasalnya, mereka benar-benar tidak tahu, bagiamana cara memberitahukan pada Erin bahwa...
"Gue aja, nggak liat si Ken, dari tadi pagi.. " Erin memberengut, "Kayaknya sih ya dia hari ini ma--"
"Woi. Bukan gitu. Gue sama Lisa kesini mau ngasih tau lo, kalo, si Kenzie..." Syiela tak meneruskan ucapannya dan menunjuk ke arah gerombolan yang ada di tengah lapangan.
Erin pun menatap kearah lapangan tempat gerombolan kaum alay yang ia pikir sangat mencolok tersebut, memangnya apa apa disana? Hendak membuka mulut, seseorang keluar memecah gerombolan yang ada.
Kenzie.
Kenzie keluar membelah gerombolan sambil tersenyum manis dan menatapnya seraya mengedipkan sebelah mata. Erin pun masih menatap bingung, Kenzie menghadiahimu dua ibu jari, sambil berucap tanpa suara.
Yang Erin tangkap hanya satu. "Sukses." hanya kata itu saja.
Setelahnya Kenzie melangkah mendekati Erin dan menyempatkan diri menepuk puncak kepala Erin kemudian berlari menjauh.
Erin yang tadi memutar kepala untuk menatap punggung Kenzie kembali pada porosnya, menatap ke depan dengan berpikir tentang apa yang terjadi barusan, kepalanya bahkan dimiringkan karena sangking bingungnya.
Tiba-tiba gerombolan perempuan kelasnya yang sempat mejeng di tengah lapangan tadi melewatinya dengan beberapa kicauan terdengar.
Lisa dan Syiela memilih diam, membiarkan Erin mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
"Yaampun, Kenzie romantis banget."
"Iyaaa, gue jadi pengen punya pacar kayak Kenzie."
"Lo beruntung banget di tembak Kenzie, Tiara!"
Kalimat terakhir yang di ucapkan salah satu dari teman kelasnya itu berhasil membuat Erin tersadar akan satu hal. Kejutan Kenzie, bukan untuknya. Kenzie, tidak memberikan kejutan itu padanya.
Sejatinya, kejutan itu memang bukan untuknya.
***
Sekarang mata Erin seakan mengeluarkan laser yang mematikan, dari awal pelajaran tadi hingga jam ke empat yang setelah ini istirahat, Erin tetap saja memfokuskan laser matanya itu k arah Tiara yang duduk di depan sebelah kanannya. Tiara terlihat tersenyum bahagia sambil melihati cincin, kalung, dan gelang yang dia kenakan.
Cinci, kalung, dan gelang pilihan Erin!
***
Kembali lagi sekarang, setelah istirahat tadi, Erin masih sempat-sempatnya memandang Tiara dengan tatapan tidak sukanya. Erin mengabaikan usaha Lisa dan Syiela yang menyalurkan rasa prihatin sekaligus menyalurkan semangat untuk Erin, agar tidak menatap Tiara terus menerus.
Bahkan saat mata Tiara kebetulan menabrak tatapannya, Erin tak kunjung memutuskan kontak matanya.
Karena merasa risih dengan tatapan Erin, Tiara beranjak dari kursinya meninggalkan Jessica alias teman sebangkunya yang tengah duduk di seberang Erin, duduk di kursi ruangan laboratorium.
Erin yang merasa Tiara memang melangkah ke arahnya langsung memutus kontak matanya dan berpura-pura sibuk dengan tabung dan cairan di depannya. Aissshhh!
Kenapa Tiara kesini, sih?!
Tiara menarik kursi dan duduk disebelah Erin, "Erin." panggilnya.
Erin berdeham dan memasang wajah polosnya, dia menoleh ke arah Tiara sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa, Tiara?"
"Kamu... Ada yang mau kamu omongin ke aku?" Erin mengernyit bingung, tepatnya berpura-pura kebingungan, ia tau maksud pertanyaan Tiara.
"Enggak, tuh." jawab Erin dengan wajah polosnya.
"Tapi, daritadi, kamu terus ngeliatin aku. Ada apa ya? Ada yang salah sama aku?" cerca Tiara, Erin mengeram tertahan.
Kesal, dia sangat kesal melihat Tiara memakai benda pilihannya.
Erin terkekeh, lalu memukul bahu Tiara pelan. "Ah! Itu. Emm.. Gue tuh liatin lo, karena kayaknya, lo cocok banget, pake cincin sama kalung itu."
Munafik.
Erin meruntuki mulutnya yang berujar tidak seperti pikirannya, benar-benar munafik.
Tiara terlihat menghembuskan napas lega. "Ohhh.. Aku kira, kamu ada yang mau diomongin.”
“Oh enggak,” kilah Erin.
Tiara meraih tangan Erin dan menebar senyum paling manis, “Aku harap kamu bakalan temenan sama aku kayak kamu temanan sama Kenzie,” katanya.
Erin membalas dengan tersenyum paksa lalu melepaskan tangan Tiara.
“Gue harap juga gitu,” balas Erin dengan berat hati.
“Oh iya, Kenzie bilang kamu yang pilihin ini semua ya?” tanya Tiara sembari menunjukkan barang pemberian Kenzie.
Erin berdecih, "Sorry, enggak, tuh." elak Erin.
"Loh, beneran? Kata Kenzie, ini kamu yang pilihin. Bagus banget, Erinnnn..." Tubuh Erin terguncang karena Tiara meluapkan kebahagiaannya dengan memeluknya girang.
Erin memasang wajah muak, meledek, dan memutar malas bola matanya tapi setelah Tiara mengurai pelukannya Erin memasang senyum yang terlihat di paksakan.
Erin punya rencana, rencana agar hubungan Kenzie dan Tiara cepat usai!
Erin terkekeh ringan dan memegang bahu Tiara. "Lo tau nggak kalo barang-barang yang Kenzie kasih ke lo itu adalah hadiah giveaway. Hahahaha
Erin melihat wajah Tiara yang tadi tersenyum menjadi cemberut dan mengeryit tidak percaya. Erin yakin, setelah ini pasti Tiara akan memutuskan Kenzie karena tau bahwa hadiah itu dapat dari giveaway, kan kesannya Kenzie nggak modal banget, pikir Erin.
Namun, kali ini senyuman Erin yang berganti memudar kala Tiara kembali tersenyum lebih cerah dan bernapas lega.
"Huhhh... Untung aja, aku kira Kenzie beliin ini buat aku. Ini kan pasti mahal." Erin melongo di tempat, tidak! Ini tidak seperti perkiraannya.
"Erin, kalo gitu aku kesana dulu ya. Makasih infonya." Tiara melongos meninggalkan Erin yang melongo tak percaya di tempatnya.
Erin menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah Tiara.
Erin menggelengkapn kepalanya tak percaya, "Apaan, sih. Dasar, sinting kali. Mau aja sama cowok, nggak modal!"
Dan sebenarnya Kenzie bukanlah cowok tidak bermodal seperti yang Erin katakan. Erin tahu bahwa Kenzie adalah laki-laki bermodal.