Bianca menguap dengan lebar lalu memegangi kepalanya yang masih terasa sangat berat dan pusing, aroma alkohol masih menyeruak indra penciumannya, sepertinya ia benar-benar terlalu berlebihan semalam.
"Au, sakit." Rintihnya usai merasakan rasa perih di area bawah sana. Bianca menyibak selimut yang menutupi tubuhnya sebelum ia turun dari ranjang, namun alangkah terkejutnya ia saat menyadari bahwa saat ini dirinya tengah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Dengan cepat Bianca langsung menyelimuti tubuhnya kembali. Dengan kepala yang masih terasa sangat berat dan pusing, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
Setelah berpikir selama 30 menit dengan susah payah, ingatannya hanya sampai di mana dirinya membayar tagihan bill alkohol yang ia minum, setelah itu ia sudah tidak ingat apapun lagi.
"Atau jangan-jangan, gue di jual sama Luna?" Pekiknya dengan syok usai pemikiran tersebut melintas di otak cantiknya. "Atau gue di culik?" Bianca melihat tasnya berada di meja samping ranjang, dengan cepat ia meraihnya, mengecek isi dompetnya dan menghitung uang cash yang ia bawa, tak banyak, hanya tiga ratus ribu. Ternyata uangnya masih utuh, begitu pula dengan beberapa kartu kredit dan kartu atmnya, semuanya masih lengkap. Kini, giliran ponselnya yang ia cek, ada banyak panggilan tak terjawab dari Luna, lengkap dengan puluhan chat yang menanyakan di mana dirinya semalam.
"Kalau Luna gak tahu gue di mana semalam, apa mungkin gue jalan sendirian?" Bianca turun dari ranjang, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu tak sengaja menatap dirinya di cermin. Ada beberapa bekas merah di leher dan dadanya, bahkan jika di amati lebih dalam lagi, ia memiliki bekas kecupan di pahanya. Lalu bercak merah darah di ranjang menjadi saksi bagaimana perawannya terenggut.
"Kok gue gak inget rasanya?" Gumam Bianca dengan pelan. "Terus, cowoknya siapa? Gue anuan sama siapa?" Ada banyak pertanyaan yang ada di dalam otak Bianca sekarang, saking banyaknya bahkan ia sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Alden. Nama itu, ia telah mengkhianati pemilik nama tersebut. Keperawanannya seharusnya Alden yang berhak mendapatkannya, tapi nyatanya apa? Ia justru berhubungan dengan pria lain yang bahkan ia tidak tahu siapa dia dan bagaimana rupa wajahnya.
Bianca menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Mencoba untuk menenangkan dirinya bahwa semua yang terjadi tidak masalah baginya. Lagi pula, ia tak pernah di anggap ada oleh Alden, lalu kenapa dirinya harus setia? Apa setelah itu, ia perlu mencari pria lain untuk mengingatkannya mengenai bagaimana rasanya malam pertama?
-
"Bi!" Seru Luna dengan keras usai pagi tadi Bianca menghubunginya dan memintanya untuk bertemu saat makan siang. "Lo kemana aja? Gue cariin Lo, sampai di seret keluar sama penjaga club. Gue khawatir."
"Yakin Lo khawatir?" Sinis Bianca pada sang sahabat.
"Jelas lah, Lo ngilang gitu aja."
"Bukan Lo, yang jual gue?" Tuding Bianca dengan nada bicara yang ketus.
"Sumpah demi tuhan, enggak Bi. Gue tinggalin Lo bentar buat ke toilet, pas gue Balik Lo nya udah gak ada."
"Kenapa Lo gak ajak gue ke toilet sekalian?"
"Lo gak sadar, Bi. Gue bopong Lo susah payah buat keluar dari club, pas udah di luar, gue kebelet. Gak mampu kalau harus bopong Lo ikut ke toilet."
"Gue gak inget apapun semalem, terakhir yang gue inget adalah, gue bayar semua tagihan bill pakai kartu kredit. Udah, itu doang. Yang lain gue gak tahu."
"Wajar Lo gak tahu, Lo mabuk berat. Sampai gak sadar, gue juga takut Lo tiba-tiba sekarat terus mati di sana."
"Jadi Lo, gak jual gue?"
"Istigfar, Bi. Gue gak sejahat itu."
"Gue bangun di kamar sewaan club tadi pagi, dalam keadaan telanjang bulat, ada bercak merah-merah di leher, d**a, sama paha gue. Gue juga lihat ada darah di seprei ranjang. Lo tahu kan, apa maksudnya itu?"
"Lo di perkosa?" Syok Luna sembari berbisik, jangan sampai orang lain dengar.
"Gue gak tahu, yang jelas bagian bawah gue sakit. Dan gue yakin karena perawan gue udah ilang. Dan gilanya lagi, gue gak tahu siapa yang lakuin. Saat gue bangun, tuh orang udah gak ada."
"Kita laporin ke polisi. Minta polisi buat cek cctv, ayo periksa ke dokter buat visum."
"Enggak perlu." Tolak Bianca dengan cepat.
"Lo baru aja dapat pelecehan."
"Belum tentu itu pelecehan, bisa jadi karena gue mabuk, gue duluan yang nerkam."
"Bisa-bisanya Lo mikir gitu."
"Gue cuma penasaran, siapa orangnya? Kan gak lucu kalau ternyata semalam gue anuan sama om om tua Bangka perut buncit."
"Semalam gue sempat tanya sama penjaga club tentang Lo, katanya Lo di bawa sama bosnya. Bos, pemilik club."
"Fix, bosnya pemilik club yang udah jual gue." Tuding Bianca secara sepihak.
"Bisa jadi. Terus, kita harus gimana? Lapor polisi sekarang?"
"Gue kan udah bilang, gak perlu."
"Perlu dong!"
"Enggak." Tolak Bianca dengan tegas. "Gue gak mau masalah ini makin ribet. Anggap aja gak pernah terjadi, dan jangan kasih tahu siapapun tentang hal ini. Ini rahasia kita berdua. Paham?"
"Kenapa Lo gak mau usut kasus yang nimpa Lo?"
"Karena gue gak mau Alden semakin nginjak-nginjak harga diri gue. Bayangin kalau dia tahu kalau gue tidur sama cowok lain karena mabok. Bisa-bisa akan jadi masalah besar."
"Karena dia cemburu?"
"Cemburu tidak ada di dalam kamus Alden. Masalahnya di sini adalah dia bakal buang gue, dan rendahin keluarga gue yang gak sepadan sama keluarganya. Gue gak mau nyokap bokap kena imbas akibat kesalahan yang gue lakuin. Jadi mulai sekarang, jangan bahas masalah semalam." Cerocos Bianca dengan panjang lebar.
"Dan mulai sekarang juga, Lo bebas mau cerita apapun tentang masalah rumah tangga Lo ke gue. Jangan di Pendem sendirian, gue gak bakalan bocorin cerita Lo ke siapapun. Gue gak mau Lo kayak semalam, mabok dan terlihat menyedihkan kayak gitu. Lo gak sendirian, Bi. Ada gue, gue akan selalu ada buat Lo. Ngerti?"
Ke duanya saling menatap satu sama lain setelah itu saling berpelukan dengan penuh kasih sayang antar sahabat.
"Pakai pakaian yang lebih tertutup biar gak terlalu mencolok tanda merah di leher. Dan lagi, kasih consealer buat nutupin bekasnya, dan pastiin Lo gak deket-deket sama Alden. Ok?"
Bianca mengangguk pelan. "Udah, pulang gih Istirahat. Minum wedang jahe anget, buat enakin badan, istirahat yang cukup."
"Iya, bawel. Lagi pula Alden mana mau Deket sama gue. Gue cuma butuh nyembunyiin ini dari beberapa pembantu di rumah supaya mereka gak gosip di belakang."
"Bianca, semangat!"
"Apaan sih Lo? Lebay!"