Aku masih terdiam setelah mendengarkan semua penjelasan Athaya. Niatanku untuk mandi pun kuurungkan. Bagaimana bisa Natasha menjadi sekejam itu? Dia tak hanya membenciku, namun dia juga membenci anak yang tengah kukandung. Karenanya, aku hampir kehilangan anak ini. Athaya menatapku lekat-lekat. Sorot mata penuh rasa bersalah begitu jelas terpancar di kedua matanya. Kukatakan padanya untuk jangan terus-menerus menyalahkan diri atas semua yang sudah terjadi. “Udah, Mas. Mas Thaya jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri. Aku dan anak kita baik-baik aja, Mas.” “Aku nggak akan pernah bisa maafin mereka kalo sampe saat itu aku kehilangan kamu dan anak kita, Ay.” “Shht.” Kutempelkan satu telunjukku di depan bibirnya. Athaya pun berhenti mengoceh. “Tenang, ya. Semuanya akan baik-baik aja. A

