Zidan melangkahkan kakinya dengan gembira begitu dia memasuki halaman rumahnya. Sesampainya dia di depan pintu, dia mendapati Sarah yang sedang menelepon seseorang. Dia melambaikan tangannya pada Zidan tanda dia ingin berbicara pada putranya tersebut. Batin Zidan sudah tidak enak begitu Sarah memanggilnya. “Zidan, kamu baru pulang Nak? Mama sudah menunggu kamu loh dari tadi,” tanya Sarah dengan wajah sumringah. Menunggunya sejak tadi? Memang apa yang tengah direncanakan mamanya saat ini? “Iya Ma, tadi ada sedikit urusan di kampus. Sekalian mempersiapkan bahan-bahan untuk seminar di Bandung lusa. Tumben Mama nungguin Zidan pulang, ada apa Ma?” tanya Zidan basa basi. Zidan tahu bahwa Mamanya baru saja menelepon Gisya perihal pertemuan mereka yang entah kapan. “Oh lusa kamu mau ke Ba

