Yocelyn menghela napas panjang dengan raut wajah yang cemberut sebelum dia menjawab telepon papanya itu. Dia sudah hafal betul dengan sifat papanya yang sangat keras soal urusan menjaga dirinya. Dia yakin papanya akan menyampaikan sesuatu yang tidak dia sukai. Dan di saat bersamaan terdengar suara Nadine memanggil-manggil Yocelyn dari luar kamarnya. "Haish si Nadine, bodo amat," ucap Yocelyn mendesah. Yocelyn tidak bisa menjawab panggilan Nadine karena dia harus segera menjawab telepon papanya itu. “Halo Pa, tumben Papa telepon Celyn pagi-pagi seperti ini. Apa ada masalah di rumah Pa?” tanya Yocelyn. “Bisa-bisanya kamu bertanya ada apa tanpa merasa bersalah sedikitpun!” hardik Mahardika. Yocelyn mengerutkan dahinya karena dia sungguh-sungguh tidak mengerti akan perkataan papanya

