Seusai makan malam, Yasmin memposisikan diri di atas tempat tidur. Duduk bersandar dengan kaki selonjoran. Di tangannya tampak sebuah handphone cerdas berbentuk pipih. Membuka satu per satu pesan w******p yang ternyata sudah memenuhi notifikasinya. Tidak hanya dari keluarga dan customer butik, tetapi dari Athifa juga yang memintanya untuk bertemu lagi besok lusa, sebelum sang sahabat pulang ke Bandung. Berat rasanya memenuhi permintaan Athifa kali ini. Bukan karena kesibukan atau tidak ingin bertemu dengan sahabatnya lagi, melainkan karena Athifa meminta untuk dikenalkan dengan Ghibran. Ah, sungguh dia masih belum siap memamerkan sang suami kepada sahabatnya. Beberapa saat Yasmin menatap layar ponsel itu, seperti orang bodoh yang tengah kebingungan mencari jawaban. Padahal, yang dia

