Sebelum subuh Zalfa terbangun, ia sangat terkejut saat mereka tidur berempat. Meskipun ada dua bocah yang membatasinya, namun ini salah.
Zalfa segera berdiri, lalu ia membangunkan Edgar yang masih terlelap.
"Bangun" panggil Zalfa, ia sedikit menggoyangkan tubuh Edgar,
"Hhmmm..." Edgar hanya bergumam. Zalfa menyentuh pipi halus Edgar yang tanpa sedikitpun ada bekas jerawat.
Edgar malah menarik tangan Zalfa, lalu membawa ke dalam pelukannya.Ia masih tidur dengan nyamannya.
"Edgar bangun " Zalfa ingin menarik tangannya, namun Edgar menahannya kuat. Zalfa yang dalam keadaan nggak siap, ia tak sengaja jatuh, Bibirnya menubruk bibir Edgar. Edgar segera membuka ia, terkejut, sebab merasakan sentuhan di bibirnya, Zalfa ingin menarik kepalanya namun di tahan Edgar, ia malah merasa kesenangan. Edgar kembali memejamkan mata. Ia membuka bibirnya lalu melumat pelan bibir Zalfa yang tangannya ada di pelukannya. Zalfa tak bisa menolak ciuman dari Edgar, yang begitu sangat lembut. Edgar beringsut, turun dari kasurnya tanpa melepas ciumannya, Ia tak membiarkan Zalfa melepaskan ciumannya sedikitpun. Zalfa duduk di atas perut Edgar, dengan bibir yang masih menyatu. Edgar yang dalam masa puber, ia sangat menikmatinya.
"Mama... Papa... Kenapa kalian duduk di bawah?" Tiba-tiba suara serak khas bangun tidur mengagetkan keduanya, spontan mereka melepas ciuman panasnya, Zalfa mengelap bibirnya yang basah, sama juga dengan Edgar, ia mengelap bibirnya. Mereka mengatur nafasnya yang memburu.
"Dek Rengga, Sayang. Dek Rengga sudah bangun?" Zalfa segera bangun dari pangkuan Edgar.
Merapikan pakaiannya yang berantakan.
"Mama lagi ngapain tadi?" Tanya Rengga polos.
"Mama nggak ngapa-ngapain, tadi Mama terpeleset, Papa bantuin malah ikut jatuh," Jawab Edgar, Rengga tersenyum. Mata polosnya memancarkan cahaya.
"Terimakasih pa, udah jagain Mama aku, Mama kadang suka ceroboh," celoteh Rengga. Edgar hanya mengangguk, ia mengulas senyum. Sedangkan Zalfa merasa sangat bersalah. Ia menunduk, bingung mau bicara apa, jika Rengga tidak menyadarkan mereka, mungkin keduanya sudah tak sadarkan diri menuruti hawa nafsunya.
"Kamu kok sudah bangun Sayang?" Tanya Edgar,
"Hmm... Habis merasa nggak ada yg ngelonin," jawabnya, matanya berkedip lucu.
"Ya udah Papa kelonin lagi," ucap Edgar, ia beranjak naik ke ranjang. Rengga dengan senang hati menyambutnya,
Melihat Rengga dan Edgar kembali tidur, Zalfa masuk ke kamar mandi, kemudian ia menatap dirinya ke cermin, sungguh ia tak menginginkan sesuatu terjadi, ia kesal dengan dirinya sendiri.
***
Pagi menjelang siang, Zalfa dan Edgar juga si kembar sudah berada di dalam mobil, mereka akan kembali ke rumah,
kurang lebih tiga jam perjalanan mereka yang di tempuh,
Sampai di depan rumah Zalfa, Edgar mengerutkan kening, ada sebuah mobil yang sangat ia kenal, dan mobil tersebut milik Mamanya, hati Edgar memanas, khawatir jika Mamanya akan memisahkan dirinya dengan Zalfa seperti Papanya.
Si kembar berlarian, memasuki rumah lebih dulu.
"Assalamu'alaikum. Lengga dan Langga pulang," Ucap Rangga, dengan senyum bahagia yang tersungging. Zalfa sendiri ia sibuk mengeluarkan koper dan beberapa paper bag, di bantu Edgar, ia membawakan barang belanjaan milik calon istrinya, begitulah yang selalu ia sebutkan.
"Mama," panggil Edgar, suaranya tercekat, nampaknya Mamanya sedang ngobrol dengan Mamanya Zalfa. Dua wanita yang kini tak muda lagi, menoleh. Menatap Edgar, sedangkan si kembar berada di pangkuan Mamanya.
"Sini Sayang, duduk, Mama mau ngobrol," Pinta Mama Edgar, sedikit ragu Edgarpun mendekati Mamanya,
"Ada apa, Ma?" Tanya Edgar, setelah ia mencium punggung tangan Mama Zalfa dan juga Mamanya sendiri. Mama Edgar terus menyunggingkan senyum, tidak ada rasa kesal atau entah apalah, Edgar sendiri tak paham, mungkin hanya si penulis yang paham. Muehehehehe...
Begitu juga dengan Zalfa, ada rasa ragu dalam dirinya saat melihat Mama Edgar, yang meskipun seumuran Mamanya mungkin, namun masih nampak cantik dan segar, tentu saja sebab perawatan mahalnya.
"Kalian kapan mau menikah?" Tanya Mamanya tiba-tiba, tentu saja Edgar dan Zalfa merasa terkejut. Sedangkan kedua Mama mereka tersenyum melihat keterkejutan kedua anaknya.
"Eh iya, dulu Mama Reny itu karyawan Mama di butik looh, tapi sudah lima tahun ini tak ada kabar, eh tahunya anak lanangku paling bontot malah naksir sama putri karyawan Mama sendiri." Terang Mama Edgar, membuat kedua anak tersebut menganga karena terkejut, Edgar khawatir Mamanya tak merestuinya.
"Mama, Edgar suka sama Bu Guru Zalfa, jadi tolong Mama jangan ganggu Edgar sama Zalfa," ucapnya pelan, takut nyinggung. Mamanya malah menabok bahu anak lanang satu-satunya.
"Justru Mama kesini mau melamar Bu gurumu untuk kamu," jawab Mamanya, namun dengan nada candaan.
"Nggak lucu, Ma." jawab Edgar, ia menunduk pasrah. Membuat Mamanya merasa gemas,
"Mama sudah tahu kalau kamu suka sama bu gurumu, makanya Mama kesini, eh taunya malah anaknya mantan karyawan Mama sendiri, Ya udah Mama restuin. Kalian menikah sekarang juga boleh," Terang Mamanya, membuat Edgar merasa mendapatkan setetes embun di hatinya, sejuk sekali.
"Mama nggak bercanda?" Edgar masih nggak percaya, ia mengerjapkan matanya menatap Mamanya,
"Hhmm.." Mamanya melotot, lalu menjewer telinga Edgar gemas. "Buat Mama, kebahagianmu adalah kebahagiaan Mama juga," lanjut Mamanya, Edgar mengangguk, ada yang berembun di ujung matanya, lalu ia memeluk Mamanya, Sayang.
***
Usia Edgar yang baru 18 tahun, tidak bisa untuk mendaftarkan ke Catatan sipil, jika harus menikah ia harus menikah sirih. Zalfa tak mau. Ia masih ragu dengan hatinya, sehingga memilih menunda satu tahun pernikahan mereka, mereka juga ingin mencoba meminta restu Papa Edgar, yang entah kenapa Papanya tak menyetujuinya. Hanya saja beberapa waktu lalu, ada teman Papanya yang memiliki jabatan yang lebih tinggi di kantor kepolisian memiliki seorang putri yang tertarik sama Edgar, sama-sama kelas 12 dan sama-sama lulus tahun ini dan juga sama-sama akan masuk ke akademi kepolisian.
Keknya mereka akan di jodohkan, namun belum pasti sih, si Papa belum bicara juga sama Mama juga Edgar, ya kita tunggu aja. Papanya kasih tahu, 'kan sekarang Papanya lagi sama istri keduanya.
"Ma..." panggil Edgar, ia masuk ke kamar Mamanya setelah mandi dan shalat ashar. Ia juga masih memakai baju koko. Mamanya menoleh menatap putra kesayangannya, "Papa belum pulang?" Tanya Edgar, sedikit khawatir dengan Mamanya. Mamanya mengulas senyum, seperti ada yang di pikirkan, namun Edgar juga tak tega menanyakan tentang kelakuan Papanya di belakang Mamanya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mamanya, Edgar duduk di sofa kamar Mamanya,
"Ma, Papa tak suka sama bu Zalfa," ungkapnya to the point. Lalu ia menghela nafas.
"Yang mau jalanin kamu sama Zalfa, Mama tak masalah, asal kalian bahagia," Jawab Mamanya, "Apalagi Mama kenal betul dengan Mama Zalfa, beliau sangat baik dan jujur, selama menjadi karyawan Mama, beliau keluar dari butik Mama saat putri satu-satunya menikah," Terang Mamanya panjang, "Suami Zalfa meninggal saat malam setelah acara tujuh bulanan, Mama merasa prihatin, sebab suaminya meninggal saat berselingkuh," lanjut Mamanya, Edgar menyentak nafasnya kasar, ia merasa sedih juga jika seandainya Mamanya tahu, Papanya yang telah menikah lagi.
Bahu Edgar melemah, "Ma, Papa bilang besok Edgar harus sudah berangkat ke asrama kepolisian, Ma.. Edgar nggak mau," ucapnya pelan. Mamanyapun mengangguk paham,
"Sayang, Apa yang Papa lakuin itu yang terbaik buatmu," bela Mamanya,
"Ma, Papa lakuin itu karena tak ingin lihat Edgar ketemu dengan Bu Zalfa," balas Edgar, ia menarik nafas kasar, "Ma.. aku balik kamar," pamitnya kemudian.