Anne merasakan kebahagiaan yang ia pikir tidak akan pernah didapatkannya, Senyuman selalu terbit di bibirnya dan tawa kadang terlepas dari bibirnya mendengar guyonan yang dilontarkan oleh Ardaan. Matanya berbinar senang, hari ulang tahunnya tidak ia rasakan sendirian saja, sehingga ia bisa sejenak melupakan momen saat merayakannya bersama dengan orang yang selalu setia menemaninya sepanjang hidupnya. Pria tua yang mencintainya dengan caranya, yang sayangnya justru karena rasa cintanya kepada dirinya sebagai putri kesayangan, justru membuat penderitaan untuk Anne. Teringat dengan ayahnya dan kisah cintanya yang telah berakhir membuat air mata Anne kembali menetes. Ardaan meraih jemari Anne dan mengusapnya dengan lembut. “Aku tidak mengetahui apakah tangisan ini karena bahagia ataukah

