Tangan Tamara rasanya jadi gatal sekali. Ingin rasanya dia menggunakan tangannya untuk membogem wajah tampan Henry sekarang juga. Harusnya pada hari di mana dia tahu kalau Radhit menjabat sebagai manajer di Peublessa Publishing, dia langsung menolak tawaran kerja tersebut dan mencari peruntungan di perusahaan lain. Pikirnya, pasti Radhit yang sengaja mempertemukannya dengan Henry. Mustahil Radhit, yang notabenenya juga satu kampus dan satu fakultas dengannya dulu, tak tahu bagaimana kacaunya hubungannya dengan Henry. “Jujurlah padaku,” pinta Tamara frustrasi. “Apa saja yang sudah kamu ceritakan pada Radhit? Apa saja yang sudah kalian berdua bicarakan di belakangku? Apa jangan-jangan, kamu juga sudah menceritakan soal malam memalukan itu? Kalian sengaja mau membuat hidupku jadi tidak tena

