Keringat dingin mulai membasahi pelipis Tamara. Wajahnya berubah agak pucat pasi. Dipeganginya segelas kaca berisi champagne yang baru diminumnya sedikit itu dengan gugup. Matilah, pikirnya. Apa kira-kira kalimat yang akan terlontar dari mulut Henry? Dan kenapa pula wajahnya yang tampan tapi menyebalkan itu terlihat serius sekali? Jangan-jangan dia mau membahas soal insiden ‘cinta satu malam’ yang memalukan itu di hadapan Dennis dan Kalula? “Eh, kamu bicara duluan saja,” ucap Tamara pada Henry. Henry menyeringai. “Kenapa? Kamu penasaran ya? Apa mau ikutan ngobrol dengan kami?” candanya separo merayu. Kekesalan ikut memenuhi batin Tamara. “Uh, dasar lelaki ini …,” geramnya dalam hati. Untung saja tingkat kesabarannya lumayan tinggi. Kalau tidak, dia pasti sudah melempar high heels-nya k

