Ketika Tamara tiba di ruang CEO, dia mendapati suaminya tengah berbincang dengan seorang kolega kerjanya. Pikir Tamara, kolega kerja Dennis ini pasti HRD Voyage Industries yang barusan bertemu dengan Henry. Keduanya tersenyum saat melihat kedatangan Tamara. Kolega kerja Dennis pergi meninggalkan ruangan CEO tak lama kemudian.
Dennis lalu meminta Tamara untuk duduk di atas pangkuannya. Diperhatikannya sejenak penampilan istrinya dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dihirupnya aroma parfum chanel yang disemprotkan Tamara di tengkuk dan lehernya. “Terkadang aku merasa kalau kamu terlalu indah untuk jadi milikku,” pujinya sambil merayu.
Tamara tersenyum tipis, “Aku tidak seindah yang kamu kira.”
“Tidak, kamu sangat indah. Lebih indah dan cantik dibanding apapun,” kata Dennis. Dia meraih tangan kanan Tamara lalu mengecup punggung tangannya. “Aku tak menyangka kamu akan hadir lebih awal,” imbuhnya.
“Aku mau memberikanmu kejutan dengan datang lebih awal, sayang.” Tamara lanjut bertanya, “Kamu sudah reservasi?”
Dennis menggeleng. “Aku tidak reservasi, kita datang langsung saja ke restoran. Ini ‘kan bukan akhir pekan, jadi harusnya restorannya tidak terlalu ramai pengunjung,” jawabnya.
Sebenarnya Tamara masih ingin membahas topik seputar makan malam dan restoran itu, tetapi otaknya terus membawanya kembali pada Henry. “Um, kudengar HR legal kamu sudah resign?” tanyanya seraya basa-basi.
“Ya, tapi untungnya, perusahaan cepat dapat penggantinya,” jawab Dennis. “Dia baru saja kelar tandatangan kontrak hari ini.”
“Siapa, sayang?” tanya Tamara, pura-pura tak tahu.
“Namanya Henry Giorgio Antarez, lulusan jurusan hukum Colombus Central University, sama sepertimu,” jawab Dennis. Dia terdiam sejenak sebelum lanjut bertanya, “Kalau aku tidak salah ingat, tadi dia bilang kalau dia kenal denganmu. Katanya dulu kalian berteman, apa iya?”
“Benar. Kita cuma kenal tapi tidak berkawan baik,” jawab Tamara yang kelihatan sedikit gugup. Tamara yang enggan membicarakan soal Henry lagi langsung mengalihkan topik pembicaraan. “Apa kamu masih ada kerjaan, sayang?” tanyanya.
“Tidak.”
“Mau berangkat sekarang? Takutnya jalanan macet.”
Dennis mengecup dahi Tamara, “Oke, aku siap-siap dulu.”
*****
Ponsel Henry berdering saat dia sedang menunggu lampu merah di dalam mobilnya. Kalula Gilbert, tunangannya yang seorang perawat itu, yang menghubunginya. Henry mengecilkan volume radionya lalu menjawab panggilan dari kekasihnya. “Hai, sayang,” sapanya.
“Bagaimana proses rekrutmennya? Lancar?” tanya Kalula.
“Aku sudah keterima di Voyage Industries.”
Kalula tersenyum lebar, “Selamat, sayang! Aku ikut senang mendengarnya.”
Henry terdiam sejenak. Dia tidak sedang mengendarai mobilnya menuju kediamannya, dan matahari pun masih belum terbenam. Sepertinya ini momen yang pas baginya untuk menghabiskan waktu bersama dengan tunangannya … sekaligus mengalihkan pikirannya akan Tamara dan malam terlarang itu. “Kamu mau merayakannya denganku malam ini?” ajaknya.
“Merayakannya dengan cara apa?”
“Mau makan malam bersama? Kamu tidak lagi sibuk, kan?”
“Boleh sekali. Sudah lama kamu tidak mengajakku makan malam bersama,” jawab Kalula dengan senang hati. “Kebetulan hari ini aku ambil jatah cuti sehari. Rumah sakit jadi makin ramai semenjak pandemi, jadi aku butuh waktu buat istirahat sebentar.”
“Jangan lupa jaga kesehatanmu sendiri,” pesan Henry.
“Kamu juga, sayang.” Kalula lanjut bertanya, “Kita mau makan malam di mana?”
“Hmm … Bagaimana kalau di Restoran Vista Oliveraie? Aku tidak sengaja lihat website restoran itu di sosial media dan sepertinya rasa makanannya enak.”
“Oke. Kita ketemuan di sana atau kamu mau menjemputku?”
“Kita ketemuan saja langsung, bagaimana?”
“Baiklah. Sampai jumpa nanti, sayang.” Panggilanpun berakhir.
Kalula jadi orang pertama yang sampai di Restoran Vista Oliveraie. Dia sedang duduk di kursi yang letaknya ada di dekat meja bar sambil memegangi ponselnya. Matanya terus memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang, mengharapkan kedatangan kekasihnya. Dia langsung berdiri saat melihat Henry, yang masih berpakaian setelan rapih dan membawa kopornya itu, memasuki restoran dan jalan cepat menghampirinya.
Henry menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Kalula. “Maaf membuatmu menunggu, barusan aku mampir dulu ke pom bensin,” tuturnya. Dia mengalihkan pandangannya sejenak pada meja makan yang masih kosong. Cuma ada dua buku menu yang tergeletak di sana. “Kenapa belum pesan makanan?” tanyanya.
“Aku menunggumu. Masa aku makan duluan?” canda Kalula. “Habis dari kantor kamu langsung mampir ke sini?”
“Yep, buat apa pulang lagi? Makan waktu banyak.”
Kalula meletakkan tangan kirinya di atas tangan kiri Henry. “Aku mencintaimu,” gumamnya sembari mengusap-usap punggung tangannya. “Terima kasih buat makan malamnya.”
“Sama-sama, sayang,” sahut Henry. Diambilnya sebuah buku menu. “Oke, jadi kita mau pesan apa?” tanyanya. “Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau, biar aku yang traktir.”
Ketenangan yang dirasakan Henry tidak bertahan lama. Alih-alih mau fokus dengan tunangan serta acara makan malamnya, dia malah dipertemukan kembali dengan Dennis dan Tamara. Keduanya tiba di restoran itu selang sepuluh menit kemudian. Dennis-lah yang pertama kali mengenali Henry walaupun dia sedang duduk membelakanginya.
“Eh, sebentar,” tutur Dennis sembari terus memperhatikan punggung Henry. “Itu sepertinya Henry?”
“Hah? Di mana?” tanya Tamara yang nampak begitu terkejut.
“Arah jam sebelas,” jawab Dennis. “Mataku tidak salah, kan? Aku masih ingat warna pakaian dan potongan rambutnya.”
Tamara ikut memperhatikan ke arah mana suaminya memandang. Dia tersenyum kecut. Dia merasa geram. Sepertinya takdir sedang bermain-main dengannya. “Iya, itu Henry,” gumamnya.
Bukannya putar badan dan pura-pura tidak kenal, Dennis malah mengajak Tamara untuk menghampiri meja Henry dan Kalula. “Selamat sore menjelang malam,” sapanya.
Sama seperti Tamara, awalnya Henry pun terlihat sangat terkejut. Tapi rasa terkejutnya perlahan-lahan lenyap dan berganti dengan rasa senang. Adrenalinnya merasa tertantang. Kapan lagi singa bisa akur dan makan bersama dengan hewan buruannya?
“Wow, aku tak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini,” ucap Henry. Dia lanjut bicara pada Tamara. “Hai, Nona Tamara. Kamu masih ingat ‘kan dengan teman satu angkatanmu ini?” tanyanya separo menyindir.
“Tentu saja aku masih mengingatmu,” sahut Tamara dengan senyumnya yang agak dipaksakan.
Henry beralih memperhatikan sekelilingnya. “Meja yang itu masih kosong,” tuturnya sembari menatapi meja yang letaknya persis ada di sebelahnya. “Kalian duduk di situ saja,” pintanya, sengaja demi memanas-manasi Tamara.
Mata Tamara terbeliak lebar. Dalam hati, dia meminta supaya Dennis jangan menerima ajakan Henry. Malah kalau bisa, dia mau pindah makan malam di restoran lain saja. Tapi apa boleh dikata, kenyataan tidak seindah harapannya.
“Oh, boleh sekali,” kata Dennis.
“Mereka siapa?” tanya Kalula bingung. Tanpa sadar, Henry yang terlalu fokus dengan Dennis dan Tamara itu sampai lupa dan sempat mengacuhkannya.
“Kenalkan, ini Dennis Hasani, CEO perusahaan baru tempatku bekerja. Aku baru saja bertemu dengannya tadi sore …,” tutur Henry. Dia beralih menatap Tamara dengan seringai serigalanya, “… dan ini istrinya. Dia temanku. Dulu kami kuliah satu kampus dan satu jurusan.”
Dennis tersenyum. “Lalu siapa nama wanita cantik satu ini?” tanyanya pada Kalula.
Kalula membalas senyum Dennis. “Aku Kalula, tunangannya Henry,” ucapnya pada Dennis dan Tamara.
“Jadi kamu sudah punya tunangan?” tanya Tamara pada Henry. Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari bibirnya.
Seringai Henry melebar. “Kenapa? Kok kelihatannya kamu kaget sekali?” tanyanya balik.
“Tidak apa-apa,” jawab Tamara kikuk. “Aku cuma bertanya.”
Kalula lanjut bicara pada Tamara, “Berarti kamu lulusan sarjana hukum juga?”
“Iya,” jawab Tamara ogah-ogahan. Kalau boleh, dia mau menghilang dari restoran itu sekarang juga.
“Kutebak, kalian pasti pasangan yang belum lama menikah. Iya, kan?” sambung Kalula.
Dennis tersenyum lebar, “Kok kamu tahu?”
“Karena kalian masih kelihatan romantis-romantisnya. Ya, layaknya pasangan yang usia pernikahannya masih seumur jagung.”
Mesipun Tamara tahu kalau ucapan Kalula tadi bukanlah sebuah sindiran, tapi tetap saja dia merasa dongkol. Kalula mengucapkan kata ‘pernikahan seumur jagung’, persis seperti yang Henry katakan padanya tadi. Mereka berdua memang cocok. “Terus, sudah berapa lama kalian pacaran?” tanyanya.
“Satu tahun setengah,” jawab Kalula. “Kami baru bertunangan bulan lalu.”
“Oh, berarti belum lama dong?” kata Tamara dengan nada bicara dan raut sarkas. “Kudoakan semoga hubungan kalian tetap langgeng, ya?’
“Terima kasih,” ucap Kalula. Sementara Henry hanya duduk membisu dengan tatapannya yang setajam elang.
Tamara memutiskan untuk menyerah usai berjuang menghabiskan makan malamnya sampai habis. Kalau bukan karena Dennis, di momen saat dia melihat Henry tadi, dia pasti sudah angkat kaki dari restoran ini. “Sayang, aku ngantuk. Boleh pulang sekarang?” pintanya pada suaminya.
Henry yang mendengar ‘rengekan’ Tamara langsung ikut menyambar. “Kenapa buru-buru sekali, eh? Masa habis makan mau langsung tidur? Tidak takut berat badanmu bertambah?” tanyanya separo menggoda.
“Iya, sayang, kenapa buru-buru sekali?” tanya Dennis heran. “Kita duduk dulu di sini buat lima belas menit, bagaimana?”
“Lima menit saja, boleh?” tawar Tamara.
“Sepuluh menit, oke? Aku masih mau ngobrol dengan Henry dan Kalula.”
“Oke,” gumam Tamara. Tapi dia tak kehabisan akal. “Aku ke kamar mandi dulu sebentar,” pamitnya. Bilangnya ‘sebentar’, padahal aslinya, hampir lima belas menit lamanya Tamara nongkrong di kamar mandi wanita sembari memainkan ponselnya.
“Kamu ke mana saja, sayang?” tanya Dennis khawatir. Sudah dua kali dia menelepon Tamara, tapi tak ada satupun panggilannya yang dijawab. “Masa antrean kamar mandinya sampai selama itu?”
“Maaf,” hanya itu yang diucapkan Tamara.
Kelar mengucap kata ‘selamat malam’, buru-buru Tamara melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu. Dia janji pada dirinya sendiri, setelahnya dia tak akan pernah mampir atau mengajak Dennis ke Restoran Vista Oliveraie lagi.
Dennis menggendong Tamara ala bridal stylesetibanya di rumahnya kembali. Dibukanya pintu kamar tidurnya menggunakan kakinya. Dibaringkannya tubuh Tamara dan ditindihnya ke atas ranjang. Diciumnya leher mulus Tamara seraya meremas satu gundukan ranumnya, membuat Tamara mengeluarkan sedikit desahannya.
“Bahkan aku masih bisa mencium aroma parfum yang kamu semprotkan di lehermu,” gumam Dennis. Tatapannya penuh dengan gaiirah. Dia kembali memainkan gundukan ranum milik istrinya. “Bercintalah denganku malam ini,” pintanya. Diciumnya gundukan ranum Tamara dari balik bra dan dress berbahan satinnya. “Aku mau merasakan tubuhmu kembali, sayang,” imbuhnya.
“Aku …,” gumam Tamara. Berbeda dengan Dennis, sorot maniknya sama sekali tak menunjukkan adanya tanda-tanda gaiirah atau nafsuu. Dengan perlahan dia menyingkirkan tubuh Dennis. “… maaf, aku tidak sedang ingin berciinta,” sambungnya. Dia lalu duduk samping-sampingan di tepi ranjang dengan Dennis.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dennis sambil merangkul dan mengusap-usap pundak Tamara.
Tamara hanya mengangguk dengan senyumnya yang samar.
“Apa ada yang salah dengan masakan restorannya?” tanya Dennis lagi. “Aku perhatikan sepertinya kamu agak kurang nyaman berada di restoran itu.”
Tamara langsung mengangguk. “Ya, aku kurang suka dengan rasa masakannya, sayang,” bohongnya.
“Baiklah, kalau begitu aku tak akan mengajakmu makan malam lagi di sana.”
Tamara tersenyum puas. Ya, itulah kalimat yang sudah sejak tadi dia harapkan keluar dari bibir suaminya. Dia mengecup pipi kiri Dennis, “Aku mandi duluan, ya? Tubuhku lemas.”
“Tidak mau mandi bersama?”
Tamara menggeleng, “Aku sedang ingin mandi sendiri, sayang.”
Selesai mandi dan mengenakan gaun malam favoritnya, Tamara merasa mood-nya jadi jauh lebih baik. Dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan menutupi separo tubuhnya dengan selimut tebal. Suaminya masih asik di kamar mandi. Lambat-lambat Tamara memejamkan sepasang maniknya. Dia sudah dirundung rasa kantuk sungguhan. Suara air mengalir yang tadinya berbunyi perlahan-lahan makin mengecil, hingga akhirnya lenyap seutuhnya dari pendengarannya.
Kegelisahan itu kembali melingkupi batin Tamara saat dia membuka matanya kembali. Dia menatapi sekelilingnya. Dia tidak sedang berada di rumah, melainkan sedang terbaring di atas tanah yang dilapisi dengan dedaunan kering. Hanya ada pepohonan tinggi sejauh mata memandang. Tak ada tanda-tanda kehidupan atau manusia lain.
Dengan susah payah Tamara beranjak bangkit berdiri. Hawanya terasa dingin. Bagaimana dia bisa sampai di hutan antah berantah ini?
Dia terus berjalan sendirian menyusuri hutan tersebut. Tetapi semakin Tamara memasuki hutan itu, dia jadi makin merasa gelisah. Ini ketakutan yang sungguh tiada tandingannya. Dia berteriak, namun tidak ada yang menolongnya ataupun mendengarnya.
Tamara mulai berlari. Dia terus berlari, hingga akhirnya kakinya menginjak sebuah perangkap lubang yang tertutup ranting dan dedaunan. Dia jatuh terpelosok ke dalam lubang itu. Tubuh dan wajahnya lecet. Pergelangan kaki kanannya keseleo.
Dia menangis tersedu-sedu. Tamara sudah terjebak di dalam lubang itu. Entah apakah hewan buas ataukah manusia yang akan menemukannya.
Tetapi hanya selang beberapa detik kemudian, Tamara mendengar ada suara langkah kaki. Sesosok laki-laki menghampirinya, dan dia tahu cuma ada dua kemungkinan: laki-laki ini mau menolongnya ataukah malah mau mencelakainya.
Tamara terus memperhatikan wajah laki-laki itu. Karena dasar lubang itu cukup dalam, dia jadi tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok laki-laki itu. Namun ada satu hal yang Tamara rasakan. Dia tak merasa asing dengan sosok laki-laki itu … Bukankah dia laki-laki yang waktu itu juga dilihat Tamara saat dia jatuh tenggelam ke dasar kolam renang?
Kalau bukan Dennis ataupun Henry, lamtas siapa sebenarnya laki-laki ini?
♥♥TO BE CONTINUED♥♥