Dewa memandang ke arah langit sore. Ini sudah jam pulang sekolah, tapi kedua sahabatnya belum juga datang. Dengan mendengus sebal, Dewa membuka ponselnya dan mencari nama Tama untuk ia hubungi.
Bertepatan saat ia ingin menekan tombol hijau, rupanya Tama sudah meneleponnya lebih dulu.
"Di mana lo berdua? Gue udah di parkiran dari tadi," ucap Dewa dengan nada sebal.
"Ke atap sekolah sekarang, Wa. Gue sama Rendra punya hadiah buat lo."
"Maksudnya?"
"Udah cepet. Gue tunggu," balas Tama dengan langsung mematikan telepon sepihak.
Usai menelepon Dewa langsung pergi menuju atap sekolah. Ia menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena seluruh siswa sudah pulang sekolah.
Bruk!
Dewa sontak mundur beberapa langkah ke belakang karena ada siswa yang menabrak tubuhnya. Saat Dewa menatap siapa yang menabraknya, ia mendengus pelan.
Chyintia Sekar Rembulan, gadis yang menabrak tubuhnya di koridor 2 kali.
"Kalau jalan itu pake mata!" sarkas Dewa dengan melotot tajam. Tanpa membantu Cinta berdiri, Dewa langsung pergi meninggalkan gadis itu menuju atap sekolah.
Sesampainya di sana, Dewa menganga lebar. Singgih, terlihat sudah babak belur di tangan Tama dan Rendra.
Dewa mendengus geli menatap Tama dan Rendra. "Tau aja kalian apa yang gue butuhin," ucapnya. Ia langsung mendekati Singgih dan menjambak rambut lelaki yang kini sudah berlutut di hadapannya.
"Selama 3 hari gue cari lo ke mana-mana, akhirnya kali ini lo berani masuk ke sekolah?" tanya Dewa dengan tersenyum sinis. "Itu namanya lo emang cari mati," lanjut Dewa.
"Gue rasa gue tahu pelakunya," ujar Tama membuka suara.
Dewa menoleh dan menatap Tama dengan kedua alisnya yang hampir menyatu. "Maksud lo?"
"Gue yakin lo tahu maksud gue. Coba lo pikirin baik-baik, siapa di dunia ini yang paling tahu lo dan paling benci sama lo."
"Jadi maksud lo semua ini ulah ... " tak sanggup Dewa untuk melanjutkan kata-katanya sendiri.
"Gue juga sependapat sama Tama, Wa."
Dewa menarik satu sudut bibirnya. Ia tersenyum miris sambil memikirkan seseorang yang memang menjadi salah satu tersangka kuat dalam skema penyebaran info tentang dirinya.
Dengan tangan terkepal erat, Dewa langsung kembali menyerang Singgih.
"Apa bener itu? Apa bener dia yang udah lakuin itu?" tanya Dewa dengan menekankan kata —Dia.
Singgih meludahkan darahnya ke samping, membuat Dewa yang melihatnya justru semakin marah.
"Kenapa? Lo baru sadar?" tanya Singgih. Tatapan Singgih sontak berubah seratus persen. Tak ada lagi tatapan takut dari wajahnya. Yang ada kini ia justru mengatakan sesuatu yang membuat Dewa semakin terpancing emosi.
"Apa?" tanya Dewa bermaksud meminta pengulangan.
"Apa lo marah kalau akhirnya tahu, lo itu emang nggak ada apa-apanya dibanding dia? Lo itu cuma benalu dalam hidup keluarga Anggara."
"ANJING!! b*****t LO t*i!!"
Dewa langsung menarik kerah kemeja Singgih dengan begitu kencang. Ia memukul lelaki itu bertubi-tubi. Tangannya terus menghajar wajah Singgir hingga wajah lelaki itu berlumuran darah.
"Astaga, Dewa!!!" seru Tama. Ia langsung berusaha menarik tubuh Dewa. Pukulan Dewa kali ini tidaklah main-main. Tama tahu jika saat ini Dewa mengerahkan semua kemampuannya untuk menghajar Singgih.
"Wa, sadar. Kita bisa bales tapi nggak gini caranya."
Rendra ikut meringis. Ia bahkan merinding saat melihat wajah Singgih yang entah apakah masih utuh atau tidak. Ia berusaha memegang lengan Dewa yang satunya untuk membantu Tama mengendalikan sahabatnya yang saat ia yakin sedang kesurupan.
"LEPAS!!!" bentak Dewa dengan terus memberongak.
"EH ANJING, LO NGGAK TAHU APA-APA TENTANG GUE!!!" Mata Dewa terus menatap tajam Singgih. Ia masih terus berusaha memberontak dari pegangan kedua sahabatnya.
"LO BAKAL MATI DI TANGAN GUE!!!"
"Dewa, tenang! Lo nggak boleh gegabah!" balas Tama dengan membentak Dewa. Ia mencengkeram kedua bahu sahabatnya itu.
"Gue sama Rendra bawa lo ke sini biar lo tahu yang sebenernya, Wa. Kita nggak mau liat lo masuk penjara konyol cuma gara-gara orang cupu kayak dia."
Dewa sedikit tampak terlihat tenang, namun matanya masih memerah karena mencoba menahan amarah yang membumbung di dalam d**a. Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal erat.
Tama dan Rendra sedikit menghela napas. Dengan sedikit ragu, keduanya melepaskan tubuh Dewa. Namun bertepatan dengan itu, Dewa langsung berlari cepat dan memepetkan tubuh Singgih pada dinding atap sekolah.
☘️☘️☘️
Vino mengetukkan kakinya ke aspal dengan sembarang. Hampir setengah jam ia menunggu Cinta di gerbang sekolah, tapi gadis itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya.
"Vino!!"
Vino menoleh dan langsung mendengus sebal saat melihat Mira melangkah mendekatinya sambil melambaikan tangan dengan semangat.
"Kok belum pulang? Lagi nungguin apa di sini?"
"Bukan urusan lo," jawab Vino tak acuh.
Melihat bagaimana ekspresu Vino padanya, Mira tersenyum. "Emang gitu caranya ngomong sama temen?" tanyanya.
"Oh ya? Sejak kapan lo jadi temen gue?"
"Kita itu udah sekelas dari SMP, Vin."
"Oh, sorry. Tapi gue nggak pernah ngerasa kenal sama cewek berkuasa kayak lo."
Mendengar itu Mira sontak menatap kesal pada Vino. "Maksud lo ngomong kayak gitu apa?"
"Lo pikir gue nggak tahu kalau tadi pagi lo bully Cinta kagi? Gila lo ya, nggak ada takutnya."
"Lo ... Tahu dari man—"
"Gue tahu dari mana itu bukan urusan lo. Yang jelas sekali lagi gue tahu lo berani macem-macem ke sahabat gue, gue nggak akan tinggal diam. Gue akan laporin berwenang biar lo bisa berhenti semena-mena sama orang yang lo anggap lemah."
Mira menggertakan giginya. Dengan hentakan kaki karena kesal, Mira langsung memutar tubuhnya. Tetapi saat ia memutar tubuh, rupanya Cinta sudah berdiri di belakangnya. Mira langsung pergi begitu saja tanpa ada sepatah kata tertinggal untuk Cinta.
"Ta?"
Cinta langsung menghentikan pandangannya yang memperhatikan kepergian Mira. Ia langsung menoleh dan mengangkat satu alisnya menatap Vino.
"Kenapa lama? Aku nungguin dari tadi sampe males banget ketemu Nenek Lampir barusan."
Mata Cinta membulat tapi berikutnya ia malah tersenyum geli. Bisa-bisanya Vino mengatai Mira; Nenek Lampir.
"Ta?"
'Apa?'
"Kamu habis dari mana aja? Kenapa jam segini baru keluar?"
'Tadi masih nyalin pelajaran dulu, Vin. Pulang sekarang yuk, aku capek.'
"Kamu nggak enak badan?"
Cinta menggeleng seraya tersenyum kecil. Gadis itu langsung menarik ujung jaket Vino dan mengajak sahabatnya itu untuk berjalan beriringan.
"Ta, tadi Bunda nelepon aku, dia nyariin kamu. Katanya kamu ditelepon nggak bisa."
'Bunda?'
Melihat Vino menganggukkan kepala, Cinta langsung berlari meninggalkan Vino dan kembali ke arah kelasnya. Sepertinya ponselnya itu tertinggal di kelas.
Cinta baru bisa menghela napas lega saat menemukan ponselnya yang ternyata tertinggal di kolong meja sekolah. Cinta langsung keluar dari ruang kelas dan bermaksud untuk kembali menyusul Vino, namun pemandangan di atap sekolah membuat kedua kakinya berhenti.
Cinta mendongakkan kepala dan memicingkan matanya. Mata dan mulut Cinta sontak menganga lebar saat melihat punggung lelaki serta satu orang yang berusaha mencekik lelaki tersebut hingga terpojokkan pada dinding atap sekolah.
Dengan panik dan tanpa perencanaan yang matang, Cinta langsung menaiki tangga dan menuju atap sekolah. Begitu ia menginjakkan kaki di atap sekolah, ia langsung membeku di tempat.
Cinta menutup mulutnya rapat dengan kedua tangan. Tak tahu harus berbuat apa, sedangkan satu orang yang tak Cinta kenali sudah hampir saja terjun dari lantai 4 gedung sekolah jika saja tak dicegah oleh Tama dan juga Rendra.
"Dewa, stop! Jangan gila!!"
"Lepas!! gue mau kasih pelajaran ke dia!!"
Dewa masih terus memberontak melepaskan diri dari Tama dan Rendra yang memegang tubuhnya erat.
Bugh bugh!
"Aww!!" Tama dan Rendra kompak memekik sakit saat merasakan bagaimana Dewa menendang tulang betis mereka berdua. Tama dan Rendra langsung mengaduh kesakitan dan tentu saja melepaskan pegangan mereka pada Dewa.
Tak membuang waktu, Dewa langsung kembali menghajar Singgih seperti Anjing yang tengah memangsa buruannya.
Cinta yang masih mematung di belakang, entah dengan dorongan apa gadis itu langsung berlari dan menarik lengan Dewa sekuat tenaganya hingga lelaki itu mundur dan tubuh Singgih langsung ambruk detik itu juga.
"Siapa lo b******k?!" Dewa langsung menarik lengan Cinta yang sedang berusaha membantu Singgih untuk duduk. Cinta sontak berdiri, lengannya dicengkeram erat oleh Dewa.
Dewa menyeringai tajam, "Lo lagi?! Ngapain lo ada di sini?!"
Cinta menggeleng sambil menahan takut dari tubuhnya yang bergetar. Seumur hidup, ini adalah pengalaman pertamanya berada di sekitar preman sekolah dan juga orang yang hampir mati.
Cinta mendorong tubuh Dewa. Dewa yang sedang gelap mata langsung kembali maju dan menarik kerah kemeja Cinta hingga gadis itu terpaksa berjinjit.
"Dewa, lepasin cewek itu!" teriak Tama.
"Siapa lo?! Siapa lo berani kayak gini ke gue?!!!"
Cinta memejamkan matanya takut. Bibirnya bergetar takut, ingin bersuara tapi bagaimana caranya. Ingin menggunakan bahasa isyarat, tapi mana mungkin 3 lelaki itu akan mengerti?
Vino... tolongin aku, plis....
Vino ... Vino ... Vino ...
"Kalau lo nggak tahu apa-apa nggak usah sok tahu! Gue nggak butuh cewek caper yang sok jadi pahlawan untuk ada di sekitar gue!!"
"CINTA!!" teriak Vino yang baru saja ikut naik ke atas atap sekolah. Tadi saat Cinta kembali masuk ke sekolah, Vino juga mengikuti hingga ia melihat Cinta berlari menaiki tangga menuju atap sekolah.
"Dewa, lepasin!" Tama mencoba memegang lengan Dewa kembali begitu ia melihat sahabat
"Aishh, jadi repot gini ya?" keluh Rendra. Ia langsung membantu Tama untuk melepaslan cengkeraman Dewa di kerah kemeja Cinta.
Begitu tangan Dewa terlepas dari Cinta, Rendra langsung berteriak, "Bawa temen lo yang sok berani ini pergi dari sini!" perintah Rendra, sementara Tama masih berusaha menahan berontakan dari Dewa.
"Cepet g****k!! Lo mau temen lo ikut mati konyol di sini?!"
Dengan gelagapan dan tidak tahu harus membalas siapa, Vino lebih mementingkan Cinta yang terlihat gemetar dan langsung membawa sahabatnya itu pergi dari sana.
Hari ini, Cinta kembali menuliskan catatan peringatan dalam diri Dewa. Karena dirinya yang terus saja melewati batas, kini mungkin Dewa akan melakukan hal yang lebih lagi pada Cinta.
*****