Pagi ini Cinta sudah rapi dengan seragam batik sekolahnya. Ia memegang knop pintu dan membukanya. Ia langsung mematung di tempat dengan kedua mata yang terbuka awas. Untuk apa pagi ini Vino mengunjungi rumahnya? Bukankah lelaki itu terlalu sibuk dengan pacar barunya? “Pagi, Ta!” sapa Vino seperti yang sebelumnya. Cinta hanya diam tak merespon sapaan pagi Vino. ‘Kamu kenapa di sini?’ “Ya ampun, sahabatnya dateng bukannya disuruh masuk, malah dihadang pertanyaan― kenapa?” Inilah yang tak Cinta suka dari Vino. Lelaki itu terlalu tidak peka dan tidak pandai membaca perasaan sekitar. Apakah harus Cinta menjelaskan alasannya satu-persatu? ‘Aku mau berangkat sekolah.’ “Mau aku antar? Kebetulan hari ini Ajeng lagi sakit, jadi aku nggak bisa jemput dia. Kita bisa berangkat dan pulang bareng

