19 | One Step Closer

2386 Kata
Begitu motor yang dikendarai Dewa masuk ke dalam gerbang sekolah, Cinta tak lagi bisa menghitung berapa banyaknya pasang mata yang menatapnya tak suka. Ini adalah pemandangan langka di mana mereka melihat Dewa membonceng seorang perempuan. Padahal sebelumnya, Dewa tidak pernah terlihat dekat dengan siapa pun apalagi siswa di Angkasa. Bahkan Ratu yang termasuk siswi paling cantik di sekolahnya saja sama sekali tak Dewa lirik sedikit pun. Cinta turun dari motor Dewa dengan perlahan. Motornya yang tinggi sedikit menyulitkan Cinta yang hendak turun. "Pegangan aja apa susahnya?" sindir Dewa sambil membantu Cinta dengan menggenggam tangan gadis itu agar memudahkannya untuk turun. Setelah berhasil turun dari motor, Cinta langsung menarik tangannya dari dalam genggaman tangan Dewa. Ia mengetikkan sebuah pesan untuk Dewa melalui ponselnya. "Makasih, Kak." Cinta berniat untuk segera pergi dari hadapan Dewa, sebelum lelaki itu sempat berkata apa-apa. Cinta melewati lorong koridor dengan cepat. Ia hanya ingin segera sampai di kelas karena tak sanggup jika harus terus memakan tatapan sinis dari siswa lainnya. Ia jadi menyesal mengiyakan ajakan Dewa yang ingin mengantarnya ke sekolah. Grep! Ayunan kaki Cinta sontak terhenti begitu ia merasakan ada cekalan di tangannya yang membuatnya kembali mundur ke belakang. Begitu Cinta mengangkat pandangannya, ia menemukan Ratu dan beberapa siswi lainnya yang sudah berdiri di hadapannya. "Lo cewek yang waktu itu bikin Dewa sama Rendra berantem 'kan?" Cinta mencoba melepaskan cekalan tangan Ratu di tangannya. Tapi nihil, karena cekalan itu semakin kuat terasa. "Peraturan di sekolah ini itu, anak baru nggak usah banyak bertingkah. Dan lo, lo udah terlalu banyak berulah di sekolah ini." Cinta menghela napas perlahan. Ia heran dengan orang-orang di sekolah ini. Padahal ia tak melakukan hal yang salah, tapi semua orang di sekolah itu rasanya selalu saja memojokkannya. Setiap harinya selalu saja ada orang yang mengganggunya. "Maksud lo apa datang pagi ini satu motor sama Dewa? Lo mau pamer kalau sekarang hubungan lo sama dia udah baik? Atau lo mau pamer kalau sekarang lo udah punya hubungan khusus sama Dewa?" Cinta hanya diam. Tak menanggapi. Ia mulai risih dengan siswa lainnya yang kini malah membentuk lingkaran untuk mengelilingi dirinya. Memangnya ia tontonan sampai terus diperhatikan seperti itu? "Cewek bisu aja banyak belagu! Lo harus tau, ya, kalau Dewa itu nggak cocok sama lo." "Eh, Rat, psst!" "Ah, apaan sih?" kesal Ratu karena temannya yang menyenggol lengannya. Seolah menginterupsinya agar tak lagi banyak bicara. "Itu, depan lo ...," bisiknya. "Apaan si—" sanggahan Ratu mendadak terjeda begitu melihat sosok yang ada di belakang tubuh Cinta. "Selalu aja ikut campur," lanjutnya dengan mendesis pelan. Selanjutnya ia menatap Cinta kembali dengan sinis untuk beberapa detik sebelum akhirnya memutar tubuh seraya berkata pada teman-temannya, "Ayo, cabut." Melihat Ratu dan teman-temannya pergi, Cinta kembali memilih untuk melanjutkan langkah. Sepanjang jalan ia menundukkan kepalanya. Tidak sanggup jika harus mengangkat kepala sementara orang-orang terus menghujamnya dengan tatapan tak suka. Bertepatan saat kaki Cinta ingin melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya, sebuah tarikan dengan telapak tangannya membuat ia memutar tubuh secara paksa. Cinta membulatkan mata saat melihat Dewa sudah berada di hadapannya. Sejak kapan lelaki itu ada di sana? Apakah ia mengikutinya sejak dari parkiran tadi? makanya Ratu dan gengnya langsung bubar pergi? "Lo selalu terbiasa membiarkan orang-orang bersikap kurang ajar, ya?" Cinta mengerutkan keningnya. Ia menatap lelaki tinggi yang kini hanya memakai kaos berwarna hitam dengan jaket hitam beserta celana jeans. Sebenarnya Cinta juga penasaran karena lelaki itu datang ke sekolah tidak memakai seragam, tapi ia memilih bersikap tidak peduli karena tidak ingin ikut campur. "Kalau ada orang yang jahatin, lo itu harus bales." Sadar akan tangannya yang masih di dalam genggaman tangan Dewa, Cinta segera menarik tangannya, namun Dewa malah semakin mengeratkannya. Cinta semakin membulatkan matanya kala itu, apalagi jika melihat siswa di sekitarnya yang sudah heboh karena sikap Dewa padanya. "Sama kayak saat lo ngelawan gue di atap sekolah waktu itu, lo juga harus berani lawan orang yang jahatin lo." Tanpa sadar, Cinta mengerucutkan bibirnya maju, sebal. Tak ingatkah lelaki itu juga pernah begitu jahat padanya? Ia bahkan pernah sampai jadi bahan bully berminggu-minggu karena apa yang telah Dewa mulai. Dewa tersenyum tipis melihat ekspresi Cinta padanya. Ia tahu jika gadis itu pasti memikirkan kelakuan buruknya sebelumnya. "Gila, Kak Dewa senyum!" "Astaga, nikahin gue dah, Bang!" "Sumpah, dia makin cakep abis kalau senyum!" "Manis banget senyumnya. Kalau gue jadi semut, udah gue makan tuh senyumnya!" Cinta sontak melirik ke sekitarnya karena mendengar bisikan-bisikan siswi perempuan yang nyatanya terdengar jelas di telinganya. Ia kembali berusaha menarik tangannya, tapi Dewa juga semakin mengeratkannya. Dengan masih menggenggam tangan Cinta, Dewa melangkah mendekat dan menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Cinta. Gadis itu sampai memundurkan wajahnya seketika karena kelakuan Dewa yang membuatnya gugup. "Makasih untuk yang semalam, dan tunggu gue di depan gerbang sekolah nanti sore. Gue yang akan antar lo pulang. Paham?" tanya Dewa dengan berbisik tepat di depan telinga Cinta. Menjaga agar tak ada orang yang bisa mendengar kalimatnya kecuali Cinta. ☘️☘️☘️ Cinta keluar dari toilet dengan tangan yang merapikan rok abu dan juga jaketnya. Sekolah sudah tampak sepi, karena kini hanya tersisa beberapa siswa yang masih berada di sekitar lapangan sekolah. Cinta mempercepat langkahnya, khawatir jika Vino terlalu lama menunggunya. Cinta mengerutkan keningnya tipis ketika sudah tak lagi melihat sepeda hitam milik Vino di parkiran. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Vino benar-benar sudah tak terlihat lagi. Apakah lelaki itu sudah pulang lebih dulu? Membayangkannya membuat bibir Cinta mengerucut maju. Gadis itu merogoh ponselnya untuk menghubungi Vino. Ia masih berspekulasi jika Vino pasti masih ada di sekolah ini. Lagi pula tidak mungkin jika lelaki itu pulang lebih dulu tanpa menunggunya. Karena selama ini Vino baru akan pulang jika Cinta mau bersamanya. Vino baru akan pulang sendiri jika Cinta benar-benar memaksa sehingga mereka tidak perlu tunggu-menunggu. "Yang lo cari udah pulang sama pacarnya." Cinta langsung memutar tubuhnya. Kedua alisnya sontak terangkat melihat siapa sosok yang kini berada di hadapannya. Dewa berdiri di samping bangku panjang dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. "Lo nggak denger barusan gue bilang apa?" tanya Dewa dengan mengibaskan tangannya ke depan wajah Cinta. "Yang lo cari udah pulang sama pacarnya," ulang Dewa dengan setiap kata yang sama. "Temen lo ... yang cowok," Dewa kembali berusaha menjelaskan karena Cinta yang belum memberikan respon. Vino? Pulang bersama pacarnya? Siapa? Mengapa Cinta tidak tahu? Apa selama ini sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu? "Hello!" Cinta baru mengerjapkan matanya saat merasakan kedua pipinya ditarik paksa. Ia langsung mengusap kedua pipinya yang "Jangan bengong. Udah ayo, lo pulang ikut gue." Cinta sontak melepaskan tangannya dari genggaman Dewa. Kenapa kini lelaki itu sering sekali menggenggam tangannya? Itu membuat Cinta merasa tidak nyaman. "Nggak boleh membantah. Ayo ikut." tegas Dewa saat Cinta ingin menghindarinya lagi. Ia menarik tangan Cinta agar mendekat padanya. Begitu ia mengulurkan helm, akhirnya gadis itu mau memakainya walaupun dengan sedikit paksaan. "Pegangan!" seru Dewa dibalik helm yang sudah terpasang sempurna di kepalanya. Cinta yang mendengarnya memilih pura-pura tak mendengar. Ia malah bergelut dengan pikirannya sendiri. Begitu motornya melewati pagar sekolah, dua orang yang masih duduk di atas motor menatap kepergian keduanya dengan tersenyum geli. "Gila apa itu sahabat lo?" cibir Rendra dengan tertawa geli melihat bagaimana sikap Dewa kini pada si Gadis bisu. "Yang jelas otaknya sekarang udah nggak waras," jawab Tama ikut menggelengkan kepala. Entah sejak kapan Dewa selalu berada di dekat Cinta, dan entah sejak kapan ia juga jadi sering melihat Dewa tersenyum bahkan tertawa. "Ternyata bener ya kata pepatah yang bilang kalau cinta itu membutakan, ya?" Tama sontak menoleh dan menatap jijik sahabatnya. "Lagak lo ngomongin pepatah. 2 pangkat 5 aja lo mikir seharian!" "Bangke lo!" Rendra langsung menjitak kepala Tama. "Beda masalah itu!" kesalnya. "Sama aja! Pinter tuh kalau di kelas! Jangan cinta-cintaan aja lo kembangin!" "Heh, pacaran itu juga butuh skill! Lo pikir nembak cewek semudah lo ngupil pake jari telunjuk?" Tama memutar bola matanya sebagai respon ucapan Rendra yang mulai berlebihan. "Nembak cewek juga butuh usaha, butuh pengorbanan." "Najis! Cewek lo aja yang pada b**o. Buaya masih aja dipercaya. Padahal selingkuhan ada di tiap gang." "Heh, Tamtam, punya mulut tolong dijaga ya. Gue bawa ke ustadz juga tuh mulut biar di ruqyah." Tama mendengus sambil menjitak pelan kening Rendra. "Berisik. Cabut udah!" ☘️☘️☘️ Cinta turun dari motor begitu Dewa menghentikan laju motornya di depan sebuah g**g sempit. Dewa tidak tahu mengapa Cinta minta diturunkan di depan g**g tersebut. Yang ia tahu g**g tersebut bukanlah g**g rumah Cinta berada. Sehingga ia tidak tahu saat ini sedang berada di mana. "Kenapa minta turun di sini? Gue akan antar lo sampai rumah aja." Cinta menggelengkan kepalanya. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk lelaki itu. Aku punya urusan, jadi Kakak pulang aja. Terima kasih sudah diantarkan. "Urusan apa di sini?" tanya Dewa masih penasaran. Cinta menggelengkan kepalanya lagi. Ia langsung memberikan intruksi agar Dewa segera pergi dari hadapannya. Tetapi Dewa masih tetap bertengger di atas motornya, tanpa terlihat berniat akan pergi. "Lo bisa pergi kalau emang punya urusan yang penting. Gue akan cabut sebentar lagi." Tanpa ingin membuang banyak waktu Cinta segera memutar tubuhnya membelakangi Dewa. Saat melihat waktu di layar ponselnya, Cinta langsung berlari tanpa sadar. Matanya sontak terbuka lebar begitu melihat sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan setelah melewati g**g yang sempit tadi. "Cinta!" seru Rina saat melihat anak gadisnya berlari mendekati warung kecil milik mereka. Cinta semakin berlari kencang dan langsung memeluk sang bunda. "Kamu ini, masih aja suka lari-lari. Sudah Bunda bilang jangan suka lari-larian lagi, nanti kamu bisa jatuh." Cinta hanya membalasnya dengan kekehan kecil saat bundanya kembali berceramah di tengah pelukan mereka. "Apa Bunda sudah mau selesai?" Rina menggeleng sambil berusaha tersenyum. "Makanannya masih tersisa banyak. Nggak mungkin Bunda bisa tutup warung lebih awal hari ini." Cinta tersenyum tanpa beban. "Kalau gitu aku bantu Bunda di sini sampai selesai, ya?" "Jangan dong, Sayang, kamu harus pulang. Mandi, makan, dan kerjakan PR saja di rumah. Nanti kalau makanannya sudah hampir habis, Bunda pasti akan langsung pulang." "Nggak mau. Lagi pula aku mau bantu dan temani Bunda di sini." Rina mendengus geli dan mencubit ujung hidung Cinta hingga gadis itu kembali menunjukkan senyum lebarnya. "Kamu ini ya, kalau dikasih tau selalu saja susah." Cinta memeluk bundanya erat. Ia berjinjit dan mengecup pipi bundanya. "Aku sayang sama Bunda. Maaf, karena aku Bunda harus kerja keras seperti ini." "Nggak, Sayang!" ralat Rina dengan tegas. "Bunda bekerja seperti sama sekali bukanlah sebuah beban. Ini memang tugas seorang ibu. Karena Ibu ingin kamu bisa bersekolah dengan tinggi." "Karena aku yang terlalu ingin sekolah di sekolah formal, Bunda jadi harus banting tulang untuk mencari banyak uang seperti ini. Maafkan aku, Bunda." "Nggak, Sayang! Itu nggak benar. Kalaupun kamu nggak sekolah di Angkasa, Bunda akan tetap selalu berjuang untuk kita berdua. Bunda akan berkerja keras agar kamu bisa mendapatkan sosok ibu dan ayah dalam waktu yang bersamaan." Air mata Cinta seketika meleleh. Ia segera mendekat dan mendekap di dalam pelukan bundanya dengan erat. Mendadak keduanya jadi melow. Sudah lama Cinta ingin mengungkapkan perasaannya itu kepada sang bunda, karena ia yang merasa sedih jika melihat bundanya selalu bekerja dari pagi sampai malam untuk mencari nafkah." Tanpa mereka sadari, tak jauh dari posisi keduanya, berdiri Dewa yang sejak tadi menyaksikan interaksi antara Cinta dan bundanya. Bahkan sedikit banyaknya ia tahu apa yang sedang dibicarakan keduanya karena mendengar suara Rina yang begitu jelas. Dewa merasakan sesuatu yang asing dalam hatinya. Kini, yang ada di hadapannya justru ia melihat seorang wanita cantik berusia 35 tahun dengan rambutnya yang bergelombang sedang memeluk seorang anak laki-laki di dalam pelukannya. Pelukan dari tangan itu masih bisa Dewa rasakan di punggungnya. Melihat Cinta bersama dengan bundanya, itu justru mengingatkan Dewa kepada sosok yang selalu ia rindukan. "Nak Dewa!" Dewa mengerjapkan matanya merasakan sesuatu yang menyentuh lengannya. Ia menatap ke depan dan pupilnya sontak melebar. Sejak kapan bundanya Cinta berada di hadapannya kini? Dan sejak kapan Dewa merasakan pipinya basah? "Kamu kok bisa di sini?" Dewa mengalihkan wajahnya sejenak dan mengusap semua air mata s****n yang membasahi pipinya. Dewa merutuki air matanya yang mengalir di saat waktu yang kurang tepat. Dewa kembali menatap Rina dengan tersenyum tipis. "Tadi ngikutin Cinta dari g**g depan, Bun." "Kenapa ngikutin diam-diam? Kenapa nggak bareng aja?" Dewa menatap Cinta yang masih diam di posisi semula dengan tatapan bingung menatapnya. "Oh ... itu ... karena tadi Cinta keburu lari, jadi saya nggak sempat ngejar." "Oalah begitu. Iya, Cinta memang sering lari-lari kalau nyusulin Bunda ke warung." Dewa membalas dengan senyum tipis. "Oh iya, kamu sudah makan belum?" Dewa membalasnya dengan gelengan jujur. "Mampir makan dulu yuk? Kebetulan Bunda punya menu jualan baru, jadi kamu harus cobain." "Bunda, nggak perlu." Cinta langsung menahan bundanya yang sedang menarik tangan Dewa untuk duduk di bangku panjang yang ada di warung. "Kakaknya nggak biasa makan di warung kecil seperti ini. Lagian ini sudah sore, jadi kakaknya harus pulang ke rumahnya." Saat itu Dewa hanya menatap Cinta dengan tatapan bingung karena gadis itu menggunakan bahasa isyarat sebagai ganti bicara. Rina sontak menoleh lagi. "Maaf ya, Bunda nggak tau kalau kamu nggak biasa makan di warung pinggir jalan." "Eh?" Dewa sontak mengerutkan keningnya. Mendengar ucapan Rina, Dewa sontak melirik Cinta dan menuntut penjelasan atas apa yang baru saja gadis itu katakan pada bundanya. "Nggak papa kok, Bun. Saya biasa makan apa aja yang penting enak," ujarnya. Ekspresi Rina sontak berubah lega. "Alhamdulillah kalau gitu. Sekarang ayo mampir makan dulu sebelum pulang." Rina kembali menarik Dewa sebelum ia berhenti karena Cinta yang kini menarik tangan Dewa hingga terlepas dari tangan bundanya. "Kakak mau ngapain? Kenapa nggak pulang?" Dewa meringis dalam hati. Apa yang barusan Cinta katakan padanya? Mengandalkan insting sok tahunya, Dewa akhirnya menjawab, "Gue laper, jadi gue akan pulang setelah makan nanti." "Iya, bener. Nak Dewa baru akan pulang kalau sudah makan di sini, Sayang," ujar Rina yang mengusap puncak kepala Cinta. Rina lebih dulu masuk ke dalam warung untuk mengambilkan makanan untuk Dewa. "Tuh, dengerin Bunda lo. Gue baru akan pulang setelah makan." Dewa tersenyum geli sambil menatap Cinta yang kini menatapnya dengan bibir mengerucut. Mungkin gadis itu begitu menginginkan jika dirinya segera pulang. "Satu lagi, mungkin gue akan mampir setiap hari untuk makan." Cinta membulatkan matanya dan mematung di tempat saat merasakan tangan Dewa yang mengusap puncak kepalanya seperti yang tadi dilakukan oleh bundanya. Dewa pergi setelah meninggalkan senyum simpul padanya. Apa-apaan Kak Dewa? Main usap-usap kepala orang? Cinta menggerutu sendiri dalam hati. Ia ikut mengusap puncak kepalanya, bekas ucapan bundanya yang tadi dihapus oleh usapan tangan Dewa.  ☘️☘️☘️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN