47 | Hurt to Hate

2294 Kata

Dewa menghela napas panjang setelah melihat ekspresi wajah kedua temannya. Baik Tama maupun Rendra sama-sama bengong setelah mendengar cerita panjangnya. Memang baru kali ini Dewa menceritakan segala hal yang mulai terbuka satu-persatu. Siapa yang tahu jika rupanya Bastian mengalami hal seperti itu. Bahkan Dewa masih sulit mempercayai semua itu sampai detik ini. “Kalian mau bengong sampai kapan?” tanya Dewa sambil melirik jam tangannya sekilas. Malam ini sudah pukul tujuh malam dan mereka mengobrol di sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit jiwa. Terlihat dari enam gelas kopi yang sudah surut dari isinya, menandakan bahwa ketiga lelaki itu sudah cukup lama berada di tempat itu. “Sampai gue yakin kalau ini bukan mimpi,” jawab Rendra lemas. “Nggak usah lemes. Bukan lo yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN