Hangus

1123 Kata
"semalam kamu langsung masuk ke kamar kamu dan tidak membantu ibu membereskan piring, akhirnya ibu dan Adelia yang berjibaku dengan banyaknya perabotan kotor dan meja yang berantakan," keluhnya ketika aku sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Entah mengapa pagi-pagi seperti ini dia sudah mengeluh, padahal di jam seperti ini seharusnya kita bersyukur dan berdoa agar kita mendapatkan keberkahan hidup dan rezeki, namun ia malah merusak pagi. "Aku capek Bu, aku lelah dan rasanya tidak enak badan." "Oh begitu ya kenapa kamu nggak bilang dari awal, ibu kan bisa kasih kamu obat," ujarnya sambil tersenyum. Ah, tahu dia hanya berpura-pura mengambil hatiku,aku tahu dia tidak ingin membuat menantu barunya telah sehingga dia harus berpura-pura baik agar aku mau menjadi pembantu mereka. Sayangnya semua jurus-jurus itu sudah tidak mempan lagi kepadaku. "Aku juga punya obat di kamar Bu Ibu tidak perlu khawatir." Akupun menyunggingkan senyum. "Oh iya kamu tahu kan kalau Adelia adalah menantu baru di rumah ini.Aku ingin kau mengajari kepadanya cara menyiapkan pakaian dan sarapan untuk Haris." Ia meminta dengan tersipu-sipu malu. "Oh ya, emangnya dia tidak bisa melakukan itu sendiri Bu? aku sangat sibuk mengurus anak-anak dan harus mengantar mereka ke sekolah." "Maksudku ... Jika dia bisa mandiri mengurus suaminya, maka pekerjaanmu tidak akan terlalu berat menantuku," bujuknya dengan lembut. Namun sayang, kepura-puraan yang membuatku ingin muntah,aku tahu Setelah Adelia bisa mengurus Mas harus dengan benar maka suamiku akan semakin jatuh cinta kepadanya dan mengabaikanku. Dia pikir aku akan membiarkan itu terjadi? "Kamu kenapa kenapa diam aja?" tanyanya heran. "Lagi mikir." "Apa sih yang harus dipikirkan, bukankah ucapan ibu ada benarnya?" Benar kepalamu! "Ah, nanti ya Bu, aku urus anakkku dulu." Aku menghindar dan kabur darinya. Benar saja,beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan maharis yang mencari pakaian kerja dan sepatunya. Tentu saja Adelia belum menyiapkannya, wanita itu masih bermanja-manja dan belum sadar akan tugasnya sebagai seorang istri yang harus berbakti dan menyiapkan kebutuhan suaminya. Biasanya aku akan menyiapkan pakaian dan sepatu di malam hari, sehingga ketika pagi Mas Haris mandi dan langsung mengenakan seragam dan sepatunya. "Alangkah kasihannya dirimu Mas Haris." Aku pantas mengasihani imamku ini. Perdebatan ku semalam berakhir dengan alot dengannya.dia memintaku untuk berdamai Dan menganggap istri barunya sebagai saudara sementara aku tetap bersikukuh Tidak ingin bersikap hangat kepada wanita menyebalkan itu,tentu saja jika aku memberinya hati dia akan melonjak. Dengan dukungan ibu mertua, dia akan semakin menginjak. Posisiku sudah tidak menguntungkan, dan aku tidak ingin memperkeruhnya lebih dalam lagi. "Laila, bantu aku temukan baju," pint Mas Haris yang mendatangiku ke kamar. Aku menatapnya sekilas, sambil menghela napas. "Mas, ada Adelia bisa msngurusmu, ibu mengambilnya sabagai menantu untuk membantuku mengurusmu, bukan untuk kelonan di tempat tidur saja." "Aku tahu, tapi dia belum tahu di mana segala sesuatu." Sekali lagi kubuang napas kasar mendengar argumen Mas Haris. "Memangnya berapa waktu yang dibutuhkan wanita itu untuk belajar,dia harus sadar bahwa dia adalah wanita bersuami," jawabku sambil mengepang rambut Naina. "Kami sekarang bisa melimpahkan semua dendam dan sakit hatimu pada istri baruku tali tolong jangan hari ini, aku sunggunsibuk dan buru-buru bantu aku temukan seragam kerjaku." "Kemarin begitu, sekarang juga begitu," sungutku sambil bangkit dan mencarikan untuknya. Tak lama kemudian aku kembali dan menyerahkan seragam itu ke tangannya. "Ini minta gadis itu untuk menyetrikanya aku buru-buru, karena anak anak akan terlambat masuk," suruhku dan dia hanya menggerutu ketika aku menyuruhnya untuk memerintah istri barunya. "Adeliaaaa ... Setrikakan bajuku!" pinta Mas Haris dari lantai bawah dan terdengar suara sahutan madu manjaku itu. "Iya, Mas, tapi aku lagi maskeran." "Ya gak apa apa, buruan ya, aku telat, takut macet makin telat," ujar Mas Haris dengan raut sudah tak nyaman. Itu turun dari lantai dua masih mengenakan kimono piyama miliknya dengan wajah yang putih seperti habis di cat. Ibu dan ayah mertua yang sedang duduk menikmati kopi dan sarapan pagi hanya ternganga melihat sikap menantu barunya. "Adelia ... buruan," pinta Mas Haris sekali lagi. "Adel, sepatu kulit warna coklat mana?" "Gak tahu Mas, nanti aku cari." "Kaus kakiku mana, kok ga ada sebelah?" gerutu suamiku dan aku tertawa saja dari kamar. "Bentar aku ambilin ke atas dulu mas," jawabnya sambil berlari ke lantai dua untuk mengambil barang yang diinginkan Mas Haris. "Ini Mas, kaus kakinya," ujarnya sambil tersenyum menggoda kepada suamiku dan aku hanya menyaksikan saja sembari mengenakan helm dan mengambil kunci motor. "Oh ya, seragamku mana?" "Oh bentar aku lupa, tunggu ya Sayang." Cih, dia menyebut sayang depan Mertua, tidak tahu malu. "Ya ampun ...," jeritnya yang membuat seluruh isi rumah terkesiap. "Adelia kamu kenapa?" "Bajunya gosong ..." Gadis itu pucat pasi dan gemetar. Mas Haris terbelalak melihat pakaiannya hangus sebentuk setrikaan. "Hahahaha, ya ampun." Aku tak sanggup menahan tawa sedang ibu mertua melotot kepadaku. "Ups, sorry, aku gak sengaja," jawabku sambil berlalu. "Terus aku bagaimana ini, Bu, gimana?" Mas Haris merajuk pada ibunya. "Adeeeel, kamu gimana sih?" nada ibu mertua masih pelan, namun dia terlihat menahan sakit hatinya. "Ma-maaf, Bu. Aku lalai." Mas Haris menjatuhkan diri si sofa sedangkan ibu mertua terlihat kalut dengan seragam anaknya. Aku, tertawa dan langsung menarik gas dan meluncur dari tempat itu. ** sekembalinya dari sekolah anak-anak dan pasar aku langsung membongkar belanjaan dan bersiap-siap untuk memasak. Karena haus,segera meraih gelas dan menuangkan air dingin dari dispenser, dan segera meneguknya. Rasa air yang menyejukkan itu dingin di tenggorokanku. "Ah, sejuknya," gumamku. "Mbak pasti senang kalau aku dimarahi mertua dan Mas Haris." Tiba tiba wanita itu sudah berdiri dibelakangku dan berkata seperti itu. Plak! Kuletakkan dengan kasar gelas itu di meja dapur sambil mendelik ke arahnya. "Apa? aku senang? ya, aku senang, hitung-hitung hiburan," jawabku sambil mengambil pisau dan mulai memotongmu bahan makanan. "Mbak menikmati sekali kan betapa susahnya. Aku?" "Hei, asahan golok, kau pikir kau begitu penting sehingga aku harus memperhatikan semua gerak-gerik dan urusanmu?!" "Tentu saja, kamu kan iri karena aku lebih mudah dan cantik darimu kamu merasa bahwa kita adalah saingan yang berat. Terbukti ketika aku mengajakmu berdamai kau menolaknya." "Hei, berani sekali kamu mengatakan itu," ujarku sambil mengarahkan mata pisau dan menghampirinya. "Kenapa kamu berani tertawa-tawa tadi pagi?" Dia mulai gemetar namun masih tetap memaksakan diri untuk bersikap berani. "Oh ya, emangnya aku tidak boleh tertawa? Emangnya aku meminjam mulutmu?" Ini aku memegang kerah pakaiannya dan mencengkeramnya. "Kamu mau nakut-nakutin aku kan? Ah ...." "Aku tidak pernah menggertak, tapi akan aku lakukan apa yang ingin aku lakukan, mau lihat buktinya?" ujarku sambil menekan mata pisau di lehernya dan sukses membuatnya gelagapan. Kulepas dia dengan kasar lalu melanjutkan kembali memotong sayuran. "Kalau ibu mertua tahu perbuatanmu dia kan langsung mengusirmu!" "Kalau begitu pergi dan beri tahu dia sekarang juga, aku akan menunggumu!" balasku tak kalah sengit. Gadis itu menggeram dengan wajah merah padam dan langsung pergi sambil menghentakkan kakinya. "Berani sekali dia menantangku dan beraninya dia menyebut aku dengan sebutan 'kamu', dasar tidak punya sopan santun!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN