Melawan Guna Guna

1898 Kata
Sudah setahun lebih Dion melanjutkan usaha almarhumah ibunya yang berjualan nasi di pasar. Ia terus berusaha bertahan di tengah terpaan keadaan ekonomi yang di hantam krisis ekonomi. Tidak hanya itu, ujian tak kasat mata juga ikut menambah masalah pada usahanya. Beruntung Dion orang yang sangat penyabar dan bijaksana. Ia tak pernah mau mengambil pusing masalah tersebut. Ini adalah masa masa yang sulit buat Dion karena ia harus menjadi tulang punggung keluarga meski ia hanya tersisa Rey sang adik dan dirinya. Ia coba mengambil alih semua tanggung jawab tersebut. Dengan pengetahuan dan skill ala kadarnya ia coba berjualan seperti ibunya. Dengan modal yang tersisa dari hasil tabungan semasa ibu hidup, ia nekad melanjutkan usaha tersebut, meski selalu mendapat cibiran dari beberapa orang yang tak suka dengan keluarganya. Apalagi para competitor jualan sang ibu, sudah pasti mereka sangat girang karena berkurang saingannya. Semua proses telah jualan tersebut mampu ia lalui, mulai dari meracik bumbu yang tidak pas takarannya, peralatan jualan, perlengkapan meja dan kursi makan, sampai tempat jualan. Trial eror sudah bukan barang lagi buat dirinya. Tapi Dion tak pernah putus asa, ia terus saja mencoba menemukan rasa yang pas dengan yang biasa ibunya masak.  Banyak yang perlu ia pelajari lagi dari jualan tersebut. Selain itu ia juga berencana melakukan renovasi warungnya yang telah usang agar terlihat menarik buat pelanggan. Perlu waktu sekitar dua minggu untuk menyulap warung itu sehingga terlihat eye catching. Meski bangunannya hanya terbuat dari kayu dan pemilik warung justru menaikkan tariff sewanya. Walau sudah tahu ia sedang di terpa musibah tetap sang pemilik bergeming. Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Grand opening jualan versi Dion. Hanya ada selamatan kecil-kecilan dengan mengundang tetangga sebelah warung dan beberapa rekanan. Sebelumnya ia sudah mengabari adiknya untuk turut mendoakan usaha tersebut. Harapan sebenarnya adalah sang adik bisa hadir saat pembukaan acara itu tapi ia tak bisa karena beralasan sedang menghadapi ujian Alhamdulillah selama sepekan hingga dua pekan warung itu buka, lumayan banyak konsumen yang datang, apalagi orang-orang yang sudah menjadi pelanggan lama ibu dulunya. Namun, setelah sebulan terlewati, kejadian demi kejadian yang aneh mulai mengiringi usaha Dion. Mulai kejadian nyata seperti hilangnya tabung gas, kompor gas, sampai celana dan pakaian dalam asisten Dion yang memang sengaja ia minta untuk tinggal di warung tersebut bisa hilang di jemuran dan di dalam warung.  Hal yang paling mengerikan adalah gangguan yang tak tampak mata, yang selama warung itu beroperasi. Dua minggu setelah berjalannya warung itu, tiap malam pembantu yang menginap di warung itu selalu diperlihatkan sesosok makhluk berkain kafan—pocong—dengan wajah hitam manisnya. Ia selalu tampil percaya diri, terutama wira wiri daerah dapur. Belum lagi penampakan sesosok kuntilanak yang rambutnya selalu terurai indah ditambah dengan nada ketawanya yang terdengar begitu  ...  gurih. Ihihihihihihihihi .... Setiap harinya, bahan-bahan jualan Dion buat langsung tanpa bahan pengawet, seperti nasi dan bumbu masakan lainnya, semuanya fresh langsung ia beli bahannya dan dibuat hari itu juga. Tidak pernah ia membuat dari bahan sisa yang murahan. Suatu hari ketika ia bersiap siap mau membuka warung, kembali terjadi hal yang ganjil. Nasi yang sudah ia masak dari rumah, begitu sampai di warung, ia bermaksud memindahkan nasi tersebut ke pemanas nasi agar awet panasnya. Eh ... begitu dibuka nasi tadi, ternyata sudah berlendir dan bau alias basi. Itu baru perihal nasi, belum pula lauk yang sudah ia bumbui. Ternyata tidak jauh beda, berbau dan berlendir juga. Alhasil, hari itu ia libur sehari. Setiap hari warungnya juga mengalami penurunan pembeli. Hingga suatu hari, seorang saudara jauh bertemu dengan salah satu pelanggan lama ibu. Ia mengatakan, kenapa setiap lewat warung itu, selalu tutup. Padahal, hampir tiap hari ia buka. Jika libur itu karena kondisi kurang fit atau memang ada urusan yang urgent. Jenuh dengan kondisi warung yang tidak ada perubahan, ia pun mencoba lakukan shalat tengah malam. Berharap bisa mendapat petunjuk apa yang harus ia lakukan. Saat benar benar menghadap ia fokuskan semuanya pada Rabb nya. Ia terus saja berdoa setelah selesai solat itu hingga tanpa ia sadari sudah terlelap di atas sajadah tempat ia shalat tadi. Hingga tanpa sengaja ia sudah memasuki dimensi lain. Roh Dion kini telah lepas dari raganya. Ia melayang hingga menuju suatu tempat yang tak asing baginya. Benar saja tempat itu adalah warungnya. Ia berdiri tepat di depan warungnya. Tak berapa lama dalam kondisi yang gelap dan situasi di sekitar warung sudah sangat sepi, tampak ada seseorang yang menyelinap mendekati warungnya. Tindak tanduknya mencurigakan, tapi Dion tak bisa berbuat banyak karena hanya rohnya yang sedang berada di situ. Sosok itu seorang pria dengan tinggi yang kurang lebih dengan dirinya. Perawakan lebih kurus dari Dion. Ketika sudah merasa aman, sosok itu langsung menunduk sambil mengeluarkan beberapa peralatan. Sebuah skop kecil dan buntelan kain berwarna putih. Selanjutnya ia langsung menggali dan selesai itu dilanjut dengan memasukkan buntelan kain putih tadi ke dalam tanah lalu menguburnya. Setelahnya ia tampak mengelilingi warung Dion sambil menabur sesuatu dari tangannya. ****** Keesokan harinya, Dion dan pembantunya mencoba mencari sesuatu yang ia lihat semalam. Ia masih mengira jika semalam itu hanyalah bunga tidurnya. Rasa penasaran membuat ia tak sabar untuk mencari apa yang ia lihat semalam. Tapi hasilnya nihil. Beranjak ke malam hari, kembali Dion bertindak bersama pembantunya. Sengaja dilakukan malam hari agar terhindar fitnah orang. Asistennya menggali tanah depan warung yang biasa menjadi tempat mereka memasak. Belum semenit anak buahnya menggali tanah dan tidak begitu dalam, sudah terlihat sebuah kain putih yang usang dan terdapat bercak-bercak merah seperti darah, biasa orang menyebutnya buhul. Kain itu tidak terlalu panjang hanya berapa centi panjangnya. Ternyata memang benar apa yang ia lihat semalam itu. Selama mereka menggali tadi, selama itu juga mereka diselimuti hawa dan bau yang tidak sedap, wangi bunga dan bau yang begitu busuk. Setelah Dion tahu apa yang terjadi dengan warungnya, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha tersebut alias berhenti jualan. Dion pun tidak mau ambil pusing, mengenai hal-hal negatif tadi. Ia sementar mengalah tidak ingin berurusan dengan dunia mistis dan segala pernak perniknya. Berbeda dengan kasus si Bulek Inem yang berjualan persis di sebelah warungnya. Bulek ini berumur sekitar 40-an, seorang janda yang telah lama ditinggal suaminya. Ia hanya tinggal seorang diri dengan membesarkan dua orang anaknya. Bulek ini sehari-harinya mengais rezeki dari berjualan makanan ringan di SD dan samping warungnya. Selama beberapa tahun terakhir itu, ia merasa ada yang ganjil dari jualan dan kehidupannya. Selalu terjadi hal-hal yang aneh. Anaknya yang paling kecil sering melihat sosok kuntilanak dan genderuwo di rumah mereka.  Dion yang sudah merasa kesal dengan perbuatan seseorang terhadap warungnya, begitu melihat tetangganya juga terkena imbas dari perbuatan jahat itu, langsung bereaksi. Jika warungnya saja yang dijahati orang mungkin ia masih bisa ikhlas, namun ketika ada orang yang tak bersalah menjadi korban, jelas ia tak mau terima. Ia memang harus bertindak. Sebelumnya Dion sudah di peringatkan untuk melawan mereka yang berbuat jahat dengan usahanya. Tapi ia masih enggan dan berusaha untuk mengalah. Tapi saat tahu orang orang yang berada di sekitarnya terkena imbasnya, Dion tak bisa tinggal diam. Segera malamnya ia pergi ke warungnya. Saat hari sudah berada di posisi tengah malam. Ia enggan melakukannya saat hari yang terang, khawatir banyak yang menyaksikannya. Malam itu cuaca sedang tak bersahabat. Hujan yang mengguyuri bumi sejak magrib usai. Hingga tengah malam kondisi tersebut tidak juga mau mereda. Dion sudah kepalang basah merencanakan ke warungnya. Apalagi ia juga telah berjanji untuk membantu Bulek Inen yang ia kenal dekat. Ia berpikir ini adalah saat yang tepat. Pikirannya pasti semua orang enggan keluar rumah dan berdiam diri di rumah karena hujan. Jadi tidak akan ada yang lihat tindakannya. Begitu tiba di lokasi yang begitu becek, ia sudah di sambut dengan beberapa sosok yang memang sudah menetap di warung Dion. Ada beberapa sosok yang sudah sering ia temui, tapi ada juga yang baru pertama ia lihat. Bentuknya aneh, tidak seperti makhluk yang selama ini ia temui. Dengan menggunakan jas hujan berwarna hitam di tengah guyuran hujan yang begitu lebat. Aura kemarahan sudah mulai terpancar dari tubuh Dion. Air hujan seolah enggan menyentuh tubuhnya. Tampak tubuh yang terbalut jas hujan itu tidak begitu basah. “Kalian rupanya yang telah merusak usahaku dan warga disini.” Mereka diam tapi sesaat kemudian langsung bergerak cepat menyerang Dion. Tapi ia hanya diam tak bermaksud menghindar sedikitpun. Di luar dugaan musuh yang menyerang malah terpental. Melihat sang musuh tersungkur, Dion langsung merangsek maju menyerang. Dengan sekali sentuhan telapak tangan yang sebelumnya telah ia bacakan basmallah, tubuh makhluk astral itu langsung hancur tak bersisa.. Demit lain yang menyaksikan aksi Dion langsung ketakutan. Beberapa sudah kabur duluan sebelum melawan. “Beritahu dukun kalian, jika tak bisa datang kemari, aku hancurkan kalian!” amarah Dion mulai tak terbendung. Tangan sudah mengepal sedari tadi menahan amarah. “Hahaha… sombong kali kau anak muda!” tiba tiba dari dalam warung muncul seorang bapak yang cukup berumur. Dengan pakaian serba hitam yang terbuka dan ikatan kepala berwarna merah. Badannya yang tambun dan begitu besar langsung berkacak pinggang. Ia tidak datang sendirian rupanya. Ada sekitar puluhan makhluk astral yang hadir bersamanya. “Hehehehe… dukun koplak, jangan kira dengan yang kau bawa buat aku takut.” “Aku yang menaruh ini semua di warung mu. Ada yang tak senang dengan usahamu ini. Begitu juga dengan aku, tidak suka melihatmu.” Sesaat Dion terdiam, ia sambil merapal beberapa ayat yang biasa ia baca. Perlahan lahan langsung hadir satu demi satu sosok berpakaian serba putih. Jumlahnya hanya sembilan tapi sudah berhasil membuat yang melihat langsung tampak ketakutan. Terutama sang dukun yang awalnya begitu angkuh. Si dukun melihat aura pada tubuh lawan berubah langsung menantangnya untuk menyerang dirinya. Ia ingin menguji kehebatan seorang Dion. Tapi belum selesai ia mengucapkan kata sudah mendapat serangan duluan. Seluruh tubuhnya mendadak kaku tak mampu di gerakkan. “Hah, kenapa tubuhku nih, kenapa ga bisa ku gerakkan. Kau apakan hei anak muda?!” teriak sang dukun. “Masih saja kau sombong dukun! Gantung kakinya ke atas!” dalam sekejap tubuh si dukun langsung terangkat ke atas, tapi kakinya yang berada di atas dan kepala malah di bawah. “Hei, hei… tolong, tolong… turunkan aku. Tolong nak, turunkan aku.” Tidak ada satupun yang membantu sang dukun. Semua makhluk astral yang bersamanya hanya terdiam melongo tanpa bisa berbuat apapun. “Kau bawa semua barang yang kau taruh di warung ini, bawa serta semua makhluk peliharaanmu.” “B-b-baik tuan. Segera ku lakukan, tapi turunkan aku dulu.” Dion lalu meminta menurunkan tubuh dukun tersebut. “A-a-akan ku kembalikan pada yang memberi perintah pada ku tuan. Tolong ampuni aku.” Sambil duduk bersimpuh dan merapatkan kedua tangannya di d**a. “Jangan kau kembalikan, apa bedanya nanti dengan sekarang? Hentikan saja, dan jangan pernah bertemu denganku lagi.” “B-b-baik tuan, aku segera pergi.” Malam itu telah mencapai klimaksnya buat Dion. Ia berhasil menyelesaikan apa yang menjadi bebannya. Meski semua guna guna itu telah pergi, Dion tetep enggan melanjutkan usaha itu karena banyaknya kendala yang harus ia hadapi. Ia lebih memilih pekerjaan lain yang tidak mengandalkan orang lain.  Rezeki, jodoh, dan maut, semua adalah hak Allah SWT.. Hakikat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka. Akan tetapi, apa yang telah dinikmatinya. Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, pada hasil jualan kita. Janganlah lupa, tiap hakikat rezeki akan ditanya—dari mana dan untuk apa. Halalnya dihisab. Haramnya pun diazab. Maka, jangan kau iri pada rezeki orang lainnya. Bila kau iri pada rezekinya, kau juga harus iri pada takdir matinya. Karena Allah membagi rezeki, jodoh, dan usia umat-Nya sesuai porsinya masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN