Munculnya Sang Eyang Demak

1061 Kata
Saat Rey masih sibuk dengan perkelahiannya, beberapa teman ada yang tak sadarkan diri. Ia masih berusaha bertahan untuk melawan preman yang semakin bertambah banyak. Meski sehebat apapun Rey hanyalah manusia biasa. Memiliki keterbatasan. Tenaganya sudah mulai terkuras setelah menjatuhkan musuhnya. Melihat Rey yang sudah mulai kedodoran, membuat sang bos Bandar terus menekan dirinya. Tapi Rey justru tertawa mendengar perintah bos tersebut. Ia masih bersemangat guna menutupi kelelahannya. Di bibir yang mulai mengeluarkan darah dan juga wajah yang lebam tidak membuat ia melemah. Ia sudah memasrahkan hidupnya, jika memang harus berakhir hidupnya tidak dengan keadaan menyerah. Saat Rey sudah berada di ujung harapan, di saat itulah muncul seseorang ulama pembesar dari zaman dahulu. Berpakaian serba putih, blangkon putih khas orang Jawa di kepala, dan berkumis putih. Wajahnya yang begitu teduh membuat siapa yang bisa melihatnya pasti akan merasa teduh. Terasa sekali wibawa yang ia pancarkan dari aura tubuhnya. Di sisi kanannya Rey ia berdiri sambil tersenyum. “Bismillah, dengan se-izin Allah Eyang temani Rey ya.” Rey seakan mendapat tenaga baru dengan hadirnya sang Eyang. Meski ia tidak tahu siapa beliau, tapi kehadirannya membuat hidupnya lebih hidup. Ia hanya membalas dengan senyuman untuk perkataan sang Eyang. Tidak hanya itu, tiba tiba di belakang Rey terdengar suara dentuman kecil yang berulang ulang. Ia yang sedikit penasaran dengan suara itu lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Subhanallah … guman Rey dalam hati. Ternyata di belakang sudah hadir puluhan sosok yang siap membantu dirinya. Semua berpakaian serba putih. Wajahnya semua lebih muda dari Eyang tapi tetap tak menghilangkan aura kesejukan saat melihatnya. Tenang Rey, mereka pasukan Eyang. Tugas kamu sudah cukup sampai disini saja Rey. Sekarang biarkan Eyang yang selesaikan. Tanpa menunggu perintah, pasukan Eyang yang berada di belakang Rey langsung maju serentak tanpa bisa di lihat oleh lawan. Sang bos Bandar langsung ketakutan  menyaksikan anak buahnya yang berguguran satu persatu tak sadarkan diri dan hanya menyisakan ia dan kedua orang anak buahnya. “Hah, apa yang terjadi? Kenapa dengan mereka? Apa yang kamu lakukan, bocah sialan!” Rey hanya tersenyum dan tertawa terkekeh kekeh melihat kepanikan si Bandar. Matanya tertutup rapat tapi ia masih bisa berucap. Namun suaranya langsung berubah lebih berat. “Bertobatlah dan tinggalkan ini semua.” “Hah, siapa kamu?” sang Bandar semakin ketakutan melihat perubahan pada sosok Rey. “Kalian berdua, cepat habisi teman temannya!” mendengar perintah sang bos, kedua kaki tangannya langsung bergerak mendekati teman teman Rey yang sedang tersandera. Sambil menenteng sebilah pisau mereka bermaksud mengeksekusinya. Rey yang melihat temannya akan di aniaya lagi segera bereaksi. Ia menggerakkan tangan kanannya dari jarak jauh. Satu orang pengawal si bos langsung terpental jauh. Darah segar langsung muncrat dari mulut berbadan besar tersebut. Dan satu lagi Rey melakukan hal yang sama. Masih dengan mata yang tertutup ia kembali menggerakkan tangan, dengan sekali kibas kembali terpental anak buahnya membentur dinding. Krak! Terdengar jelas suara tulang yang patah dari dalam tubuh orang itu. Orang gundul berbadan tegap itu ikut tak sadarkan diri sama seperti temannya tadi. Kini hanya tersisa sang Bandar yang semakin ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa ingin kabur dari situasi itu tapi kakinya tak mampu di gerakkan. Badannya mendadak seperti mati rasa. Semua saraf motoric tidak berfungsi sama sekali. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan sampai tanpa ia sadari celananya basah oleh kencingnya sendiri. “Berani kamu mengganggu cucuku. Jangan pernah sekalipun menyentuh dia jika tak ingin berurusan dengan kami.” Sang Bandar lalu menangis tapi tetap ia tak bisa bergerak. Air matanya sudah bercucuran dan keringat juga sudah membasahi seluruh badannya. Kini tidak ada lagi yang menolongnya. Semua anak buahnya sudah terkapar tak berdaya. Tiba tiba Rey membuka matanya. Ia baru tersadar jika sesaat tadi bukanlah dirinya yang mengendalikan raganya. Di depan matanya sudah tersaji pemandangan yang tak seharusnya. Ia merasa bukan dirinya yang melakukan tadi. Eyang pamit dulu Rey. Jangan lupa pulang nanti sempatkan meminum kelapa agar kesehatanmu kembali normal. Beri juga pada teman temanmu. Assalammualaikum … Waalaikumsalam Eyang. Rey langsung bergegas menghampiri teman temannya. Kemudian ia melepas tali ikatan dan mata mereka yang tertutup. Satu persatu ia bantu sadarkan. Beberapa temannya yang melihat para preman tak sadarkan diri sedikit terkejut. “Ini ulahmu Rey?” “Udah yuk buruan kita kabur, sebelum mereka sadar semuanya.” Rey berusaha mengalihkan pertanyaan temannya agar tidak banyak lagi yang ditanyakan. Beberapa saat kemudian dari luar terdengar sirine dari mobil polisi. Beberapa petugas berpakaian lengkap langsung bergegas masuk. Di antara mereka ada bapak kos dan warga sekitar kos Rey yang ia kenal. “Rey koe rapopo to? (kamu baik baik saja?) Maaf bapak telat.” “Iya saya baik baik saja pak. Yang penting teman teman juga sudah selamat pak.” Seorang petugas langsung bertanya pada Rey. “Siapa yang melakukan ini semua dek?” Rey berpikir sejenak, jika ia mengatakan itu ulah dirinya jelas ia akan di anggap berbohong. “Bukan saya pak, tadi ada warga di sini yang membantu saya. Sekarang orangnya sudah kabur duluan.” “Ok, amankan semuanya. Bawa mereka ke kantor serta barang bukti disini amankan.” Rey memapah salah satu temannya, bapak kos juga ikut membantu temannya yang terluka. “Pak, Rey minta tolong antar teman teman duluan ke rumah sakit. Saya nanti menyusul ya.” “Lah koe arep nengdi to Rey? (kamu mau kemana?)” “Saya masih ada urusan yang mau saya selesaikan malam ini juga pak.” “Yo wes hati hati lho nak Rey. Pulang kudu selamet yo, itu pesan ibu angkatmu tadi.” “Insya Allah, Rey sae sae mawon pak. (baik baik saja)” Rey lalu meninggalkan teman temannya beserta bapak kos. Di saat semua petugas sedang sibuk menahan para penjahat, ia malah pergi. Rey enggan berurusan dengan pihak keamanan, karena masih banyak yang perlu ia selesaikan di luar sana. Sementara sang Bandar yang sudah ketakutan tadi, ia sengaja biarkan. Pikirnya itu sudah menjadi ranah petugas untuk menangkapnya. Semua anak buahnya sudah di muat ke atas truk dengan kondisi babak belur. Tangan mereka tidak ada yang di borgol, karena melihat kondisi mereka yang sudah demikian mengenaskan. Sementara yang terluka parah di angkut dengan ambulance yang barusan hadir di lokasi. Di antara penjahat yang di tahan tadi hanya sang Bandar yang di muat mobil khusus polisi yang sedan. Ia seperti mendapat perhatian khusus. Mungkin sebagian orang berpikir ia harus mendapat perlakuan begitu karena Bandar itu penjahat kelas kakap. Dan di khawatirkan akan lepas jika tidak dikawal khusus.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN