Kelabilan Rey

1237 Kata
Perginya sang ibu membuat hidup Rey jadi amburadul. Banyak hal yang berubah dari seorang Rey. Dulu ia masih menjadi anak yang baik. Tak pernah neko neko dalam bersikap. Perintah agama selalu ia jalankan tepat waktu dan tak pernah ketinggalan. Selalu mengingat tujuan ia berada di sini karena cita citanya ingin mewujudkan mimpi sang ibu. Namun kini ketika orang yang ia cintai tersebut telah pergi, segalanya jadi berubah total. Semua teman teman yang kenal dengannya sudah berusaha mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi tak pernah ia hiraukan. Rey berusaha mencari pelarian untuk menghilangkan kesedihannya. Banyak hal melenceng yang telah ia lakukan. Gadis di kampus yang menaruh hati padanya, tidak ada yang ia tolak, hampir semua ia terima. Tidak hanya satu gadis tapi banyak yang jadi korbannya. Semuanya ia permainkan tanpa ada perasaan sedikitpun pada mereka. Wajar saja banyak gadis di kampus yang menyukai seorang Rey, dengan kegantengan dan kesablengannya sudah cukup menjadi modal untuk ia mendapatkan cinta seorang gadis. Sayang semua itu ia salah gunakan karena bencinya dia dengan kehidupan saat itu. Tidak hanya itu, mentalnya yang biasanya tidak terlalu emosional saat ada perselisihan dengan teman. Namun hari ini mental itu turut berubah. Ia jadi mudah tersinggung tak peduli lagi mau itu kawan ataupun lawan. Ia juga jadi masa bodoh dengan keadaan sekitarnya. Kadang karena soal wanita ia jadi di musuhi dengan temannya sendiri. Rey tak pernah menyadari perasaan temannya sendiri atau ia tak pernah peduli dengan itu semua. Baginya asal ia happy tetap ia tabrak semua aturan itu. Hingga tak heran banyak yang jadi berbalik memusuhinya. Baik dari teman sendiri maupun dari para gadis yang telah ia sakiti. Banyak cara yang di lakukan oleh orang orang yang membenci Rey. Baik secara langsung maupun secara tak kasat mata alias cara santet. Namun bukan Rey namanya jika semua itu mampu ia lalui. Dengan bantuan leluhur yang selalu mendampinginya kemana ia berada. Meski Rey tak pernah menganggap mereka ada. Begitu juga dengan narkoba yang selalu ia dapatkan secara gratis. Ia tak pernah meminta dengan para pemakai atau Bandar sekalipun. Mereka yang justru penasaran dengan Rey yang tetap tidak jadi candu setelah memakai barang haram tersebut. Tidak hanya menggunakan drugs untuk menggoda Rey, tapi juga dengan umpan wanita kesukaannya. Rey tidaklah bodoh, ia memang tidak suka dengan drugs yang membuat orang jadi bego. Jika di umpan dengan wanita dan drugs, jelas ia memilih wanita. Prinsipnya adalah dengan wanita ia tidak merusak diri sendiri, justru menyehatkan dan menambah wawasannya tentang s*x. Beda halnya dengan drugs yang sudah jelas merusak tubuh dan memperpendek usia kita di dunia. Kesal dengan gagalnya jebakan mereka membuat teman yang membenci Rey mencoba dengan cara lain. Kali ini menjebak dengan menuduh Rey menghilangkan barang mereka. “Rey lu ada lihat barang gua ga yang di kamar?” “Barang apaan men, ga ngarti gua.” “Barang gua 2 pocket ga ada men. Kan terakhir lu yang di kamar gua men.” “Lha emang kenape kalau terakhir, kan bareng bokin lu juga bro. Gua juga bentaran doang di kamar lu.” “Ah ga mungkin lu ga tau men, pasti lu kan yang ambil. Klo bokin gua rasanya ga mungkin karena dia ga make gituan.” “hahaha, bercanda lu ga lucu bro, lu kan dah lama temanan dengan gua men. Lagian gua juga ga doyan barang gituan. Kalau bokin lu baru gua doyan men.” Rey sengaja memancing emosi temannya. Karena ia merasa ada rencana busuk yang dilakukan temannya. Ia pikir sekalian saja ia bongkar kelakuan pacar temannya yang naksir dirinya. “b*****t! Jadi bokin gue lu pake juga Rey?” “Eh yang bilang pake dia siape? Tadi lu nuduh gue ambil sabu lu, gue ga marah men, lha sekarang gue ngomong tentang bokin lu, langsung ngegas, hahaha …” Rey senang melihat temannya termakan jebakannya sendiri. Sang teman yang merasa terjebak semakin marah di buatnya. Ia tak mau kalah tetep ia bersikeras jika Rey adalah pelaku yang menghilangkan barang haramnya. Akhirnya mereka berdua pun berdebat tak mau kalah. Tapi si teman tak berani berbuat lebih jauh karena tau kemampuan Rey yang diatasnya. Ditambah juga nyali teman ini yang memang penakut. “Ga terima gue men, barang gue lu curi, yakin gue mah.” “Terserah lu dah mau bilang ape bro, muak gue dengan muka lu. Kalau tau gitu gue ngehe juga tu bokin lu, biar lu nangis kejer kejer.” Sambil Rey meninggalkan temannya yang masih terlihat kesal. ***** Keesokan harinya saat Rey baru bangun pagi, di depan pintunya sudah tersaji bangkai tikus dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Aneh dalam hatinya melihat tikus itu bisa terpotong potong dengan rapinya. Siapa yang tega melakukan hal keji tersebut pada hewan malang tersebut. Ia baru ini mengalami kejadian tersebut. Rey pikir mungkin ada yang iseng ngerjain dia menaruh bangkai tikus depan kamar kosnya. Saat ia menyentuh daging itu dengan plastic, terasa sekali jika bangkai itu masih hangat. Berarti kejadian ini belum lama, batinnya. Setelah selesai membuang bangkai tersebut, ia segera mandi. Karena hari ini ia lagi bersemangat untuk pergi ke kampus. Sudah cukup lama ia jarang masuk kuliah. Kebetulan hari ini ia juga ada janjian dengan seorang gadis di kampus. Gadis yang ia kenal tanpa sengaja saat dirinya sedang gabut di kampus. Setengah jam kemudian tibalah Rey di kampus idamannya. Dari masuk kampus matanya sudah seliweran mencari mangsa. Berharap ada yang bisa ia angkut hari itu. Ketika makin dekat dengan kelasnya, ia tak melihat batang hidung gadis yang kemarin ia temui di taman kampus. Ia jadi penasaran siapa gadis manis tersebut. Biasanya ia tak pernah merasakan desir sesuatu dalam dadanya jika berhadapan dengan gadis manapun. Hingga selesai mata kuliahnya, tak juga ia melihat gadis itu. Rey tampak kebingungan kemana perginya gadis itu, padahal kemarin gadis itu yang berjanji akan menemuinya di kelas itu. Ia mulai terlihat kesal karena merasa ada gadis yang berani mengerjainya. Lalu ia melangkah dengan gontai saat keluar dari kelar. Semangatnya langsung hilang saat tak menemukan gadis itu. Di kelas hanya tersisa Rey sendiri. Ia yang terakhir pulang, karena berharap janji gadis tadi bisa terwujud. Saat ia mulai berjalan di koridor kampus yang sudah sangat sepi, tiba tiba ada suara yang memanggil dirinya. Rey sedikit terkejut karena merasa ia mengenal suara itu. Ya suara gadis yang kemarin menemuinya di kelas. “Hei, kemana saja kamu, gue cari dari tadi kok ga ada di kelas?” “Boleh kita ngobrol sebentar Rey?” “Wah siapa yang berani nolak klo dengan cewek manis seperti kamu.” “Aku minta maaf ya Rey …” “Lha kenapa harus minta maaf, kamu ga salah apa apa kok.” “Aku tidak seperti yang kamu harapkan Rey.” “Eh apa maksudnya nih? Ayo lah to the point aja. Oya aku belum tau nama kamu, siapa?” “Itu ga penting Rey. Aku cuma ingin meminta bantuanmu Rey. Karena aku sebenarnya …” belum selesai ia bicara langsung di potong oleh Rey. “Iya gue tau, lu demit kan?” senyum Rey mulai mengembang. “Jadi kamu dah tau Rey? Kok kamu bisa lihat aku Rey?” “Ga tau, nebak doang sih. Aura lu juga beda dengan manusia biasa, gue dari kemarin dah merinding duluan deket dengan lu, makanya jadi penasaran pengen pastikan hari ini.” “Aku ga bisa lama lama dekat denganmu Rey.” “Kenapa? Aku ga gigit kok.” “Sosok di belakangmu membuat aku ga tahan Rey, energinya terlalu kuat untuk menolakku.” “Oh si Eyang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN