Sashi menenggelamkan wajahnya di antara lutut yang di tekuk. Isakannya masih terdengar. Andreas merasa dia memang b******n yang mengerikan.
"Shi..."
Sashi menepis tangan Andreas saat lelaki itu menyentuh lengannya.
"Pergi..." lirih Sashi dengan suara bergetar.
"Gue minta maaf. Gue kira lo malam itu..."
"p*****r?"
Sashi mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Andreas. Lelaki itu terdiam dengan tatapan sendu.
"Gue minta maaf. Gue akan tanggung jawab. Plis, kasih gue kesempatan. Gue..."
"Gak! Gue gak mau berurusan sama lo lagi. Pergi..."
Andreas menggeleng. "Gue gak akan pernah pergi. Gue mau lo."
"b******k! b******n!"
Sashi kalap dan memukul tubuh Andreas membabi buta. Laki-laki itu diam pasrah. Bahkan tidak melindungi kepalanya saat Sashi melayangkan tasnya mengenai kepala Andreas berulang kali. Semakin lama gerakan Sashi melemah dan Andreas gunakan untuk mendekap tubuh perempuan itu yang tampak kehabisan tenaga.
"Lakuin apa aja ke gue asal lo puas. Gue salah. Gue salah. Gue minta maaf. Tapi plis, jangan suruh gue pergi."
Sashi kembali menangis. "Balikin keperawanan gue..."
Andreas cengo dengan tampang bodohnya. "Caranya?"
Sashi menjerit dan mengigit pundak Andreas yang berada di hadapannya. Laki-laki itu terpekik dan semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Sashi.
"Gue benci sama lo!" lirih Sashi dengan mata yang kembali memerah.
"Gue sayang sama lo."
Tubuh Sashi membeku. Dia tidak salah dengar kan? Andreas sayang padanya? Tidak mungkin! Mustahil!
"Bohong."
"Gue sayang sama lo, Sashi. Bahkan gue mati-matian jaga jarak sama lo biar gue gak khilaf. Tapi apa? Gue kehilangan akal saat lihat elo di kelab malam waktu itu. Gue gak terima kalau lo benar-benar seperti dugaan gue. Gue kecewa malam itu. Tapi saat tahu lo belum tersentuh, gue kecewa ke diri gue yang malah ngerusak elo. Gue memang bajingan."
"Lo memang bajingan."
Andreas mencium puncak kepala Sashi dan membawa perempuan itu ke dalam gendongannya. Sashi terpekik dan refleks mengalungkan tangannya pada leher Andreas.
"Turunin. Nanti dilihat orang."
Sashi bergerak gelisah dalam gendongan Andreas membuat laki-laki itu meringis pelan. Sashi menyadari itu.
"Wajah lo..."
"Gak seberapa sama apa yang udah gue lakuin ke elo."
Sashi berpikir bahwa pasti Aris atau Arjun yang melakukannya.
"Mas Aris yang..."
"Mas Aris sama Mas Arjun. Gantian."
Sashi menggigit bibir bawahnya. Kenapa dari tadi dia tidak sadar kalau wajah Andreas babak belur.
"Dre... Darah..."
***
Andreas meringis perih saat Sashi mengoleskan salap ke wajahnya yang babak belur. Bahkan kepalanya sudah diperban. Sashi ngotot membawa Andreas ke klinik fakultas saat melihat kening lelaki itu dialiri darah segar. Sashi yakin itu karena ulahnya. Dan dia menyesal karena melayangkan tasnya ke kepala Andreas. Jelas saja berdarah, isi tas Sashi buku-buku tebal. Dan perempuan itu tidak hanya sekali menyerang kepala Andreas, tapi berulang kali.
"Maaf..." cicit Sashi saat melihat keadaan kacau Andreas.
Andreas menggeleng. "Kalau bukan karena Mas Arjun manggil gue tadi, gue gak bakal ketemu sama lo. Dan gue bersyukur."
Sashi menghela napas dan mulai membereskan obat-obatan yang ia gunakan untuk mengobati Andreas ke dalam kotak P3K.
"Lo istirahat di sini aja."
Sashi beranjak dari duduknya di tepian ranjang. "Lo mau ke mana?" tanya Andreas menahan tangan Sashi.
"Gue ada kelas."
Andreas semakin mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan Sashi. "Kelas Mas Arjun?"
Sashi mengangguk dan kembali mencoba melepaskan tangan Andreas di tangannya. Lelaki itu malah menarik Sashi hingga perempuan itu jatuh menimpa tubuhnya yang berbaring di ranjang klinik.
"Temenin gue di sini," pinta Andreas dengan suara lirih.
"Gak bisa, Dre."
"Sebentar."
Andreas merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Mendial nomor yang Sashi tidak tahu siapa.
"Mas, Sashi izin kelas hari ini. Dia nemenin gue."
"Jangan macem-macem lo b*****t!"
Andreas mendengkus mendengar umpatan kasar Arjun. Tidak mencerminkan sikap dosen sama sekali.
"Semacam aja."
Andreas menutup telepon dengan cepat sebelum Arjun kembali memakinya.
***
Elsha tengah memasak di dapur saat suara pintu terbuka dan tertutup terdengar oleh telinganya. Wanita itu meninggalkan kegiatannya sejenak untuk melihat siapa yang datang. Apakah adiknya?
"Kak..."
Sashi dan... Andreas?
Elsha berjalan tergesa menghampiri keduanya. Menarik Sashi menjauh dari Andreas dan menatap marah pada laki-laki di depannya.
"Masih punya muka kamu ketemu adikku, hah?!"
Andreas bergerak maju dan meraih tangan Elsha. "Kak, maaf. Aku... salah... Aku..."
Elsha menyentak tangan Andreas. "Keluar!"
Andreas diam dan menunduk. Bukan seperti Andreas si b******n di kampus. Sashi menggigit bibir bawahnya melihat Andreas tidak berkutik seperti ini di hadapan kakaknya.
"Sujud lo."
Andreas menoleh. Aris keluar dari kamar Elsha dengan setelan kerjanya tanpa jas.
Pria itu menendang belakang lutut Andreas sehingga kini adiknya itu bersimpuh di lantai tepat di depan Elsha.
"Mas..." cicit Sashi terkejut dengan tindakan Aris. Sedangkan Elsha masih berdiri angkuh menatap Andreas.
"Minta maaf!" perintah Aris yang membuat Andreas mendongak menatap Elsha.
"Kak, maaf. Aku salah karena sudah melukai Sashi. Aku gak tahu, Kak. Aku cuma..."
"Yang bener bego!"
Aris menggeplak kepala Andreas di bagian belakang membuat laki-laki itu meringis. Sashi melangkah maju untuk mendekati Andreas, namun Elsha menahannya.
"Minta maaf ke Sashi," ujar Aris sambil menarik rambut Andreas sehingga adiknya itu berteriak kesakitan.
"Mas, jangan!"
Sashi melepaskan paksa tangan Aris di rambut Andreas. "Kepalanya luka, Mas. Sakit," lanjut Sashi mengelus rambut Andreas.
Elsha menatap adiknya dengan pandangan melotot. "Kenapa kamu belain dia, Dek? Minggir!"
Sashi menggeleng dan menarik Andreas untuk berdiri. "Andreas udah minta maaf ke aku. Kakak gak lihat mukanya babak belur begini? Jangan disiksa lagi."
Andreas menahan kedutan geli di bibirnya saat Sashi dengan polos membelanya.
"Itu belum seberapa," ucap Aris yang kini bersiap kembali ingin melakukan kekerasan pada Andreas.
Sashi segera pasang badan melindungi Andreas. Aris dan Elsha gemas dengan sikap Sashi yang terlalu baik. Sedangkan Andreas memeletkan lidahnya pada Aris.
"Kepalaku pusing," ucap Elsha sambil memegang kepalanya. Aris bergerak mendekati wanita itu dan merangkul pundaknnya.
"Ayo istirahat," ajaknya.
Elsha melepaskan lengan Aris di pundaknnya. "Kamu pulang sana. Bawa sekalian adikmu itu. Menyebalkan."
Setelahnya Elsha berlalu memasuki kamar. Bahkan Elsha melupakan urusan dapurnya yang belum selesai.
Aris meringis dan menggaruk kepalanya. Pandangannya jatuh pada Andreas dan Sashi saat kedua orang itu berdehem bersamaan.
"Bocah!" ujar Aris dan berlalu mengikuti Elsha memasuki kamar wanita itu.
Sashi dan Andreas tersenyum geli. Saat Sashi hendak berbalik menghadap Andreas, laki-laki itu lebih dulu memeluknya dari belakang.
"Maaf," bisiknya.