Bab 6

1179 Kata
Bab 6 Di bawah langit biru terang dan awan putih yang bertaburan membentuk seperti permen kapas. Kumpulan siswa berbaris di bawah teriknya matahari. Mendengarkan pidato kepala sekolah, dengan waktu yang seolah melambat. Hari senin adalah hari paling dibenci hampir semua orang yang sedang berbaris rapi di lapangan ini. Mereka hanya tidak suka dengan pidato yang disampaikan, karena seolah akan sangat lama berakhir. Upacara yang hening dan hanya ada suara dari kepala sekolah karena ada beberapa guru BK yang terkenal galak. Membuat para siswa tertunduk tidak berani bicara apapun selama upacara berlangsung. "Ternyata nggak ada bedanya yah, upacaranya sama dulu. Sama-sama lama, kepala sekolahnya juga pidato panjang lebar," papar Nandini yang tentu saja tidak digubris Devan. Dan adanya Nandini di samping Devan yang sama-sama berbicara panjang lebar membuat hari ini kian terasa lama. Dia berharap ini akan segera berakhir. Dirinya hanya bisa menghela nafas panjang. "Devan, Devan, menurut kamu kehidupan SMA ada bedanya gak sama yang sebelumnya?" tanya Nandini. "Van, jawab tuh," bisik Arga di samping Devan. "Devan, Devan," panggil Nandini. Hari senin, upacara yang panjang, celotehan Nandini yang tiada henti. Membuat kepala Devan sulit untuk berfikir jernih. "Apa?!" tanya kesal Devan. Suaranya yang keras dan tiba-tiba membuat seisi orang yang ada di lapangan tertuju padanya. Pidato kepala sekolah terhenti oleh teriakan kekesalan Devan. "Pfft..." beberapa siswa menahan tawa melihat Devan yang bertingkah aneh memecah keheningan upacara. Sementara yang sebagian berbisik membicarakan Devan, dan yang lain hanya menatap aneh dirinya. Devan hanya bisa menepuk keningnya, "Bodoh," gumamnya. "Devan! Ikut bapak!" perintah seorang pria tua dengan kumis tebalnya. Tanpa menjawab, Devan mengikuti langkah guru BK itu dengan tertunduk lesu. "Devan, maaf ya?" ucap Nandini menyesal. "Bicara itu nanti saja," jawab lirih Devan. Sedari tadi Nandini hanya diam tidak berani membuka suara. Sementara Devan membisu, sungkan untuk bicara. Sampai di ruang BK ini, pria tua itu menyuruh Devan menandatangani selembar kertas. Menuliskan laporan kelakuannya saat upacara tadi. "Ok, jangan ulangi lagi. Karena kamu baru kali ini ke BK, bapak kasih keringanan cuma ngisi absen ini. Silahkan kembali ke kelas," ucap pria tua berkumis tebal itu. Devan berhasil keluar dari ruang yang banyak dihindari para siswa. Jika dilihat Devan baru pertama kali masuk BK. "Devan, maaf ya?" tanyanya lagi. "Hufft... Ok, jangan diulangi lagi," balas Devan menatap Nandini. Dalam kebisingan tiap kelas yang dilewati, Devan dengan santai berjalan menuju kelasnya. Setiap selesai upacara biasanya, akan istirahat selama beberapa menit kemudian melanjutkan pelajaran kembali. Di depan kini kelasnya terdengar cukup berisik. Dengan pelan Devan mendorong pintunya. Krieet... Hening... Seketika semua mata tertuju kepada si pembuka pintu. Kemudian mereka melanjutkan kericuhannya kembali. Devan bisa melanjutkan perjalanan menuju bangkunya yang dekat jendela paling belakang. "Gimana rasanya masuk BK?" hadang seorang laki-laki teman sekelasnya. "Ya gitu," balas Devan melewatinya. "Devan, gimana?" tanya Arga. "Gimana apanya?" tanya balik Devan yang baru duduk di bangkunya. "Itu pak Wirjo, guru BK yang bawa kamu. Dia terkenal galak loh," jelas Arga. "Pikir sendirilah," ucap Devan tak ingin membahas. Devan membenamkan kepalanya di antara tangannya yang dilipat di meja. Sementara Nandini melihat-lihat sekeliling kelas, dia juga melihat hantu lain. Membuatnya hanya bisa berada di sebelah Devan. "Devan, apa hantu disini memang serem-serem ya?" tanya Nandini. Devan mengangkat kepalanya, kemudian mengerjapkan matanya melihat Nandini bertanya demikian. Dia kembali menoleh ke arah Arga, memberi isyarat dengab menunjuk Arga untuk menjelaskan. Arga menunjuk dirinya tidak percaya, "Aku?". "Kamu berpengalaman, jelaskan ya sahabatku," ucapnya sembari tersenyum diakhir kata. "Ok aku tidur dulu," ujarnya mengibaskan tangan. "Hah, aku aja gak mau bahas ini," gumam Arga. "Jadi?" tanya Nandini ingin lebih tahu. "Jadi setiap tempat selalu ada penunggunya, biasanya mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak mengganggunya," jelas Arga. "Terus kalo mukanya serem gimana?" tanya Nandini melihat hantu wanita tua di kelas yang berambut panjang putih, membungkuk dan bermata merah. "Tenang aja, dia gak ganggu kok," balas Arga sembari tersenyum simpul. Nandini terlihat memantuk mengerti, dia kemudian melambai ke arah hantu yang dia maksud sebelumnya. Arga terkejut dia berani menatap dan melambai langsung, dia mengerti hantu itu tidak jahat. Tapi kelakuan Nandini yang melambai seolah tidak ada rasa takut di matanya. Yah, meski dia tau. Nandini juga hantu, "Kamu ngapain?" tanya Arga. "Say hai," jawab singkat "Tapi kenapa kamu melambai?" heran Arga. "Dia senyum kok, lihat deh," tunjun Nandini ke arah dekat pintu. "Wah, kamu lebih berani daripada orang yang lagi tidur," sindir Arga. Tiba-tiba seorang siswi yang lewat berkata, "Gak waras." Devan menaikan kepalanya, seraya tersenyum simpul kepada Arga. "Sekali-kali dianggap gila, hidup cuma sekali," ujar Devan penuh kemenangan. "Apa?" Arga tak percaya dengan ucapan Devan. Sebelum Devan menjawab, seorang guru masuk membuat satu kelas ini hening seketika. *** Kring.... Jam istirahat dimulai, Setelah lama menikmati lambatnya waktu. Karena pelajaran yang berisi tulisan di papan tulis. Kini mereka bisa menghirup udara segar. "Ke kanti yuk!" ajak Arga. Devan mengangguk, kemudian dia bangkit dari bangkunya. Namun dicegah oleh Nandini yang menghadangnya, "Eh, bukunya bawa dulu!" "Gak, mana mungkin aku bawa buku merah muda?" kesal Devan. "Devan, nanti ada yang nyuri," ingat Arga. "Mana mungkin?" ucap Devan tak percaya. "Sewaktu upacara juga baik-baik aja," ucap Devan melipat tangannya depan d**a. "Yaudah, gini aja. Beli makanan nanti kita makan disini gimana?" saran Devan. "Ok, terserah aja," ucap setuju Arga. "Tapikan," ucapan Nandini menggantung karena ragu dengan keputusan Devan. "Katanya mau lihat sekeliling?" tanya Devan. "I-iya sih. Ok deh," ucap Nandini menyetujui. Mereka pun pergi ke kantin, sembari menjelaskan beberapa hal seperti pemandu wisata secara bergantian. Agar tidak dianggap gila, Arga dan Devan saling merespon apa yang dijelaskan masing-masing. Itu memang berhasil, tapi mereka dianggap aneh. "Kantinnya penuh," gumam Devan. "Oke, batu gunting kerr..." ucap Arga memutuskan menggunakan permainan itu. "Aku menang," ujar Arga. Belum apa-apa Arga langsung mengeluarkan batu, tanpa kesiapan Devan. Devan tidak terima dan meminta mengulangi. "Aku belum siap, ulangi!" ucap Devan. "Waktu gak bisa diulang, kesempatan cuma sekali tiap detiknya," ujar Arga menghindari pengulangan permainan. Devan hanya bisa menghela nafas gusar, dia mau mengalah. Akhirnya dengan susah payah dia membeli makanan di antara kerumunan orang. "Hufftt... Nih ciloknya!" ucap Devan memberikan cilok tidak ikhlas. "Ikhlas banget yah," balas Arga sembari tersenyum. "Udah yuk ke kelas," ajak Nandini. Mereka berjalan ke kelas sembari canda tawa di antara mereka. Tidak terasa jika di sepanjang perjalanan ada saja hantu lain yang lewat. Membuat Arga merasa lebih nyaman, karena bisa dengan mudah mengabaikan hantu yang melewatinya. Kecuali satu hantu yang tidak bisa dia abaikan. Hingga tawa mereka lenyap ketika Nandini yang hilang dalam sekejap. "Bener gak kalo-" pertanyaan Nandini menggantung. Wujudnya menghilang seketika itu. Devan dan Arga saling memandang, saling bertanya 'dimana' hingga satu hal muncul dalam fikiran. " Kak Nandini mana?" tanya Devan. "Ayo ke kelas!" ajak Arga yang berharap dia ada di sana. Brak! Pintu kelas dibuka Devan dengan keras, sepasang bola matanya mencari wujud kakaknya. Tapi hasilnya nihil, dia berlari ke bangkunya. Sreet... Resleting dibuka secara terburu-buru. Tangannya memilah buku dalam tas ransel miliknya itu. Berkali-kali melakukan hal yang sama, memilah buku-buku yang ada dalam tas. Resleting ranselnya yang lain dibuka secara paksa. Keringat dingin tak henti mengalir, dia terus berharap bukunya masih ada. "Bukunya," gumam Devan. "Bukunya kenapa?" tanya panik Arga. "Bukunya hilang," ucap Devan menatap Arga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN