Bab 55

1105 Kata
Pria itu menatap Nandini sembari tersenyum. Dia telah memahami situasi yang sulit dipercaya ini. Perlahan wujudnya hilang bersama dengan senapan yang dia pegang. "Terima kasih... Telah membuatku tersadar," ucapnya. "Aku harus pergi sekarang," sambungnya. Nandini hanya melambai sembari tersenyum. Dia sangat bersyukur bisa menolong sesama. Meskipun kedengarannya agak aneh, tapi itu lah yang terjadi. "Sampaikan salamku pada istrimu ya..." ucap Nandini. "Kamu gak ikut?" tanya pria itu heran. Nandini menatapnya sejenak, senyumnya menghilang perlahan. Pria itu menatapnya heran. "Nandini!" panggil seorang wanita paruh baya di antara orang-orang yang menghalangi pandangannya. Mendengar namanya dipanggil, Nandini menoleh cepat mencari sosok yang memanggilnya. Setelah itu dia kembali menatap pria itu. Sebagian tubuhnya sudah menghilang tidak terlihat. Tatapannya masih terheran kepada Nandini. "Ada sesuatu yang belum kuselesaikan," ujar Nandini sembari tersenyum. Mendengar hal itu, pria itu tersenyum simpul. Kemudian seluruh tubuhnya benar-benar menghilang. Kali ini dia benar-benar pergi dari dunia ini. Nandini masih dalam senyum yang sama. Namanya yang dipanggil berkali-kali. Membuatnya harus membalikkan badannya. Seorang wanita paruh baya ada di antara orang-orang yang berseliweran. Hingga dia menunjukkan dirinya. Dia berdiri dengan jarak satu meter dari Nandini. Nandini tersenyum lebar kala melihat wanita paruh baya yang ia kenal ada di depan matanya. Wanita paruh baya itu pun melakukan hal yang sama. "Nandini!" teriak sang Ibu melihat anaknya. Suara teriakannya yang keras, membuat orang sekitarnya melihat ke arahnya. Sontak melihat hal itu Nandini melambaikan kedua tangannya agar tidak berteriak. Tetapi kode yang diberikan tidak tersampaikan kepada wanita paruh baya itu. Dia malah membalas lambaian tangan sembari memanggil namanya beberapa kali. Dia berjalan mendekati anaknya hingga tepat di depan matanya. Dengan senyum yang lebar melihat anaknya yang dicari di depan mata. "Bu, jangan bicara atau ngeliatin aku... Banyak orang yang ngeliatin," ucap Nandini mengingatkan. Senyum yang lebar perlahan menghilang. Berubah menjadi raut wajah marah. "Lain kali, jangan jatuh terjun begitu saja!" ucap sang Ibu meninggikan suaranya. "T-Tapi-" ucapan Nandini terpotong seketika oleh sang Ibu. "Dengerin dulu apa kata orang tua!" bentaknya. "Eh," Nandini terkejut mendengar bentakkannya. "Ibu khawatir," ucapnya sembari menatap dengan mata berkaca-kaca. Sontak melihat sang Ibu yang berkaca-kaca. Membuatnya terdiam tidak mampu berkata-kata. Melihat kini banyak orang membicarakan Ibunya. Nandini berusaha menghentikkan Ibunya agar tidak bicara lebih banyak. "Iya-iya, aku ngerti kok. Hentikkan semua pembicaraannya," ucap Nandini. Namun, bukanya mereda malah menambah kemarahannya saja. Membuat Nandini sedikit kerepotan untuk menghentikkannya. Orang-orang berhenti dari aktivitasnya. Mereka menghentikan langkahnya hanya untuk melihat wanita paruh baya itu. Mereka saling berbicara kepada rekannya akan situasi yang membingungkan ini. Mereka pun berspekulasi tentang hal-hal yang mistis. "Bu... Ayo pergi!" ajak Nandini. "Mereka gak udah ngomongin Ibu yang aneh-aneh," ucap Nandini menunjuk sekitarnya. "Ibu gak peduli, biarin mereka ngomong apa," ujarnya. "Tau gak seberapa cemasnya Ibu?" ucapnya sembari meunjuk diri sendiri. Nandini kembali terdiam, sudah lama sekali dia tidak dimaraho seperti ini. Menyadari akan hal itu. Bukannya Nandini semakin sedih karena dimarahi tanpa jeda. Nandini malah melakukan hal yang sebaliknya. Dia tersenyum kala mengetahui Ibunya memarahinya. Nandini semakin terharu mengetahui Ibunya mencemaskannya. Melihat anaknya yang hanya tersenyum tidak jelas. Membuatnya terheran dan menghentikkan celotehannya. "Kenapa senyum-senyum?" tanya sang Ibu. Seketika Nandini menghentikan senyumnya. Dia mengalihkan pandangannya melihat ke arah lain. Sang Ibu hanya bisa menatapnya heran. Nandini kembali menatapnya. Riuhnya orang yang berbicara. Membuat Nandini semakin risih. "Sudah ya... Pulang yuk!" ajak Nandini. "Nggak, Ibu belum selesai," ucapnya ingin melanjutkan. Nandini hanya bisa menghela nafas gusar. Bola matanya bergerak ke berbagai arah. Semakin dia mendengarkan apa kata sang Ibu. Maka, akan semakin lama dia berada di sini. Semakin panas telinganya mendengarkan perkataan orang-orang yang berkata seenaknya. "Bu!" panggil Nandini mulai kesal. Sang Ibu pun terdiam melihat anaknya meninggikan suara saat memanggilnya. Dia tertegun melihat tatapan kekesalan Nandini. "Nanti Devan bisa kekunci di rumah," ucap Nandini penuh penekanan. Mendengar perkataan itu, sontak Ibu terkejut. Dia baru mengingat anak laki-lakinya yang bisa saja terkunci dari luar rumah. Dia akhirnya langsung memegang erat buku diary berwarna merah muda itu. Kemudian berjalan melewati kerumunan orang yang mengitarinya. "Nandini, ayo!" ucap Ibu menoleh ke belakang. Nandini tersenyum lebar melihat Ibunya menyadari akan sesuatu yang lebih penting daripada perkataan orang. Nandini pun ikut berjalan cepat di samping Ibunya. "Akhirnya..." gumam Nandini mengepalkan kedua tangannya di depan d**a karena senang. Sang Ibu terlihat memeluk erat bukunya sembari tersenyum. Mereka berdua terlihat tersenyum penuh kebahagiaan. Sementara itu, orang-orang yang heran dengan kegaduhan singkat itu. Hanya bisa memandang sampai mereka keluar dari mall. Setelah mereka berdua pergi, orang-orang itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Mereka berdua berjalan keluar. Mobil dan motor yang melaju membuat suara bising di luar. Mereka berdua menatap jalanan yang sama. Sang Ibu membuka tasnya sedikit kerepotan. Karena kedua lengannya memegang tas belanja. "Bu, bisa gak?" tanya Nandini melihat Ibunya kesulitan. Sang Ibu tetap diam dan menyibukkan dirinya. Hingga selama beberapa waktu dia tidak menjawab pertanyaan Nandini. "Akhirnya bisa..." ucap Ibu. Sang Ibu menatap Nandini dan tersenyum, "Bisa, kok!" ucapnya sambil menunjuk tas miliknya. Nandini membalas senyumannya. Percuma juga, jika saja Nandini berniat membantunya. Bagaimana tidak? Dia tidak bisa menyentuh buku miliknya sendiri, apa lagi benda di sekitarnya. "Ya sudah yuk!" ajak Ibu berjalan di trotoar. Nandini hanya mengangguk sembari mengikutinya. Dia berjalan di belakang punggung Ibunya. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ikut pergi berbelanja di sini. "Ibu, tungguin!" seru Nandini sembari mengejar Ibunya yang mulai menjauh. Nandini pun berjalan di samping orang yang telah berjasa baginya. Dia berbincang dan banyak bercerita akan pengalaman yang telah terjadi bersama Devan dan kedua temannya. Sang Ibu nampak serius mendengarkan sembari melihat jalan. Sesekali dia nampak terkejut dengan kejadian yang diceritakan. Namun tidak semuanya ia ceritakan. Hanya sebagian kisah kecil ceritanya saja. "Hantu toilet di sekolah Devan ngamuk bu!" ujar Nandini. "Apa iya?" ucap Ibu tidak percaya. "Iya... Untung dia sudah gak marah lagi sekarang," jelas Nandini. "Soal setan yang ngamuk, dulu pernah tuh. Pas ada acara kemah waktu Ibu masih SMA dulu," papar Ibu. "Waktu penyalaan api unggun, beberapa menit kemudian satu murid tumbang tiba-tiba," jelas Ibu. "Kesurupan dia, ketawa-tawa terus. Nunjuk-nunjukin orang. Akhirnya dia bisa sadar setelah ada guru yang punya kemampuan," sambung Ibu kemudian. "Beneran Bu? Kok aku gak tau?" tanya Nandini. Sang Ibu hanya bisa menggeleng mendengar pertanyaan diakhir, "Kamu belum lahir, nak..." ucap Ibu. Sang Ibu pun ikut bercerita tentang penampakkan yang pernah dia lihat. Mereka saling bertukar cerita horor sembari berjalan. Sampai tidak terasa mereka telah. sampai di halte. Mereka duduk bersama di halte. Terlihat sepi di halte, tidak ada orang yang menunggu di sana. Nandini pun berkesempatan bertanya banyak hal di sini. Membuat senyum sang Ibu tidak luntur sedikit pun. Sampai yang ditunggu datang, mereka menaiki kendaraan umum. Kendaraan umum itu pun pergi membawa satu orang penumpang dari halte dan satu hantu yang tak kasat mata bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN