Langit biru yang cerah kembali terlihat. Awan putih terlihat bertebaran seperti permen kapas yang berserakan di atas langit. Matahari nampak menyinari sang bumi pertiwi.
"Pagi, Pak!" sapa Putri kepada satpam di pos penjaganya.
Sapaan Putri dibalas dengan seulas senyuman oleh satpam itu. Mereka bertiga memasuki sekolah yang mulai ramai.
Para siswa yang baru datang ke gerbang terlihat tersenyum ketika berjumpa dengan kawannya. Mereka nampak tertawa bersama sembari berjalan menuju kelasnya masing-masing.
"Hari ini cerah juga," ucap Putri sembari memandang ke atas langit.
"Semua hari sama saja," ucap Devan berbedap pendapat.
Putri melirik Devan kesal, suasana hatinya berubah menjadi badai petir. Secara spontan Putri menyubit lengan Devan.
"Aw! Sakit!" ucap Deva meringis kesakitan.
"Udah ah! Arga ayo!" ajak Putri mengajak Arga pergi meninggalkan Devan di belakang.
"Eh... Jangan buat aku terlibat," ujar Arga melihat lengannya ditarik Putri.
Namun, Putri tidak menggubrisnya dan tetap berjalan sembari memegang lengannya. Arga hanya bisa pasrah ketika Putri menariknya.
Devan berdiri memegang lengan yang kesakitan setelah dicubit Putri. Rasa sakitnya benar-benar terasa lama bagi Devan.
Melihat dirinya ditinggal jauh oleh mereka berdua. Devan berjalan cepat untuk dapat mengejarnya.
"Hei! Tunggu..." ucap Devan sembari berlari kecil mengejarnya.
Sementara itu...
Kelas yang mulai riuh oleh kehadiran para penghuninya. Membuat kelas yang sepi menjadi ramai seperi pasar.
"Wah... Coklat! Buat aku, nih?" tanya seorang laki-laki bertubuh gempal melihat sebuah coklat di meja.
"Eit! Jangan!" ucap Desi yang langsung mengambil coklat miliknya di meja.
"Wih... Buat siapa tuh?" goda seorang gadis seumurannya yang sedang bermain dengan rambutnya.
"Ada, deh," ucap Desi sembari tersenyum.
Derap beberapa langkah orang di depan kelasnya. Terlihat Putri yang melambai kepada Devan dan Arga, kemudian pergi. Devan dan Arga berjalan memasuki kelas, bola mata Desi langsung mengikuti setiap langkahnya.
Tangan kanan Devan menarik ranselnya dan menaruhnya ke kursi. Baru saja ia duduk di kursi dengan nyaman. Tiba-tiba Desi sudah berada di hadapannya sembari membawa sebungkus coklat ditangannya. Bola mata Devan mengerjap kebingungan dengan kehadiran Desi.
Desi terlihat tersenyum kepadanya. Devan membalas senyuman dengan sedikit terpaksa dan canggung.
"A-Ada apa?" tanya Devan ragu.
Desi langsung memberikan coklat itu kepada Devan. Tangan Devan ragu meraih coklat itu dari tangan Desi.
Saat Devan meraih coklat itu dari tangannya. Teman-teman sekelasnya secara bersamaan bersorak. Membuat Devan menjatuhkan coklat itu ke lantai karena terkejut.
"Ciee..."
Mereka bersorak secara bersamaan, membuat Devan menjadi terkejut. Bola mata Devan menatap ke sekitarnya. Mereka semua menatap ke arah Devan dengan senyum yang menurutnya aneh. Devan meraih coklat itu kembali dan menaruh ke mejanya.
Desi tersenyum, kemudian berbalik dan hendak pergi. Namun, tatapan melihat ke arah Arga yang menatapnya kesal. Mereka saling menatap, tetapi keduanya sama-sama kesal satu sama lain. Membuat Desi memalingkan wajah dan langsung berjalan pergi ke bangkunya.
"Devan... Cintamu dibalas," ujar seorang gadis berambut panjang sembari tersenyum ke arahnya.
"Apa aja yang kamu lakuin, sampe dia jadi sedia kala?" selidik seorang laki-laki yang penasaran.
"Iya, kamu ngapain?" tanya Leo.
"Kasih tau, dong!"
Pemberian coklat untuknya saja sudah membingungkan. Apalagi ditambah berbagai pertanyaan yang datang secara tiba-tiba. Membuat bingung harus menjawab apa.
"Ah, pertama. Aku gak nembak dia kemarin," jelas Devan.
"Ke dua, aku cuma ngerjain tugas bareng dia sama yang lain," jelas Devan lagi.
"Ke tiga..." ucap Devan menggantung sembari menatap ke arah teman-teman yang mengerubunginya.
"Ke tiga, tolong jangan bertanya lagi," ucap Devan dengan senyum yang dipaksakan sembari menggaruk kepalanya.
"Ih... Devan gak mau kasih tau rahasianya," ucap seorang gadis yang sedang memainkan rambutnya.
"Aku bicara apa adanya," ucap Devan sembari tersenyum yang ragu.
Melihat mereka masih memberi banyak pertanyaan. Devan berinisiatif mengambil tugas kelompoknya dalam tas. Dia beranjak dari bangkunya dan berjalan melewati mereka.
"Permisi... Aku mau ngumpulin tugas," ujar Devan sembari melewati teman-temannya yang melewati jalur keluarnya.
"Hah, tugas apaan?" tanya seorang gadis yang berkecamata.
"Tugas kelompok yang kemarin itu loh..." ingat Devan kepadanya.
Seketika gadis itu menepuk keningnya. Dia langsung berlari ke kursinya dan mengambil tugasnya.
"Oh iya! Tugasnya matematikanya!" ucap salah seorang gadis lainnya.
Setelah mereka semua mengingatnya. Beberapa dari mereka mengambil tugasnya masing-masing. Melihat itu Devan dapat merasa lega karena mereka sudah menjauh darinya. Devan akhirnya dapat berjalan santai ke ruang guru.
"Devan, tunggu. Aku ikut," ucap Arga beranjak dari bangkunya.
"Ayo," ajak Devan.
Arga melirik sekilas Desi yang masih menatapnya. Kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti langkah Devan dari belakang.
Hampir jam tujuh tepat, sebentar lagi jam masuk akan berbunyi. Devan melangkahkan kakinya cepat.
"Tumben Kak Nandini gak ikut, dia kemana?" tanya Arga tidak melihat kehadiran Nandini dimana pun.
"Ah, hari ini dia ikut Ibu pergi. Bukankah itu, bagus?" ucap Devan merasa senang tidak perlu repot-repot membawa buku merah mudanya kemana pun.
Arga menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap ke bawah, kemudian menatap Devan.
"Bagus?" tanya Arga.
Devan menoleh ke belakang. Dia melihat Arga dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.
"Baguslah, kan aku gak perlu bawa bukunya kemana-mana selama di sekolah," ujar Devan.
"Bukannya itu bagus?" ucap Devan.
"O-Oh... Iya, itu bagus. Aku rasa," ucap Arga ragu.
"Memangnya kenapa? Kenapa kamu panik?" selidik Devan.
Devan mendekat ke arah Arga. Tangannya menepuk bahu Arga sembari tersenyum.
"Tenanglah... Dia di tangan yang tepat," ucap Devan kemudian.
Devan melanjutkan perjalanannya pergi. Entah apa yang menganggu fikiran Arga. Tetapi, Devan tidak ingin ambil pusing.
"Devan, aku kembali saja ya," ucap Arga membuat Devan kembali menoleh.
"Hah? Oh, ya sudah. Sampai ketemu di kelas nanti," ucap Devan.
Apa yang difikirkan Arga membuat Devan bertanya-tanya lagi. Dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru yang sudah dekat.
Terlihat beberapa anak dari kelasnya baru saja keluar dari ruang itu. Devan berjalan, hingga sampai di pintu ruangan. Terlihat beberapa guru yang tengah berbincang dan beberapa lainnya yang berkutat pada lembaran kertas di mejanya.
Bola mata Devan bergerak ke berbagai orang di sekitarnya. Mencari sosok guru yang dia tuju. Seorang wanita paruh baya yang sedang melihat dokumen dengan serius dengan kacamatanya, membuat Devan dapat langsung mengenali guru itu.
Dia berjalan melangkah mendekati guru itu. Guru itu yang menyadari kehadiran Devan hanya mengetuk meja menggunakan jarinya sebagai isyarat untuk menaruh tugasnya di meja.
Devan mengangguk dan langsung menaruh tugasnya. Ketika dia selesai menaruhnya. Putri terlihat berdiri di depan meja guru dan hanya mengangguk mendengarkan ceramahannya.
Melihat Putri keluar dari ruangan setelah mendengar ceramah. Devan berjalan cepat mengejarnya.
"Putri!" panggil Devan di depan ruang guru.
Putri pun menoleh, mendengar namanya dipanggil. Dia melambai ke arah Devan sembari tersenyum seperti biasanya.
Devan berjalan mendekatinya, "Habis dimarahin?" tanya Devan.
"Tugasku lupa dikerjain..." ucap Putri menggaruk kepalanya.
"Lain kali, jika ada kasus semacam itu. Jangan ikut," ujar Devan sembari melenggang pergi ke arah sebaliknya.
"Aku tetap ikut!" teriak Putri.
Namun, Devan tidak menggubris hal itu. Dia seolah-olah tidak mendengar teriakan Putri.
"Ish... Nggak akan. Aku pasti ikut," gumam Putri.