Bab 45

1088 Kata
Berjalan diantara orang-orang dan hantu yang berseliweran. Terkadang membuat Arga takut untuk menatap mereka. Karena terkadang sulit baginya membedakan mana yang manusia dan hantu. Arga berjalan terus tanpa menyapa siapa pun. Hingga sampai di kelasnya yang mulai riuh. Nampak banyak yang sudah berangkat. Mereka terlihat berkumpul bersama sembari tertawa. Arga kembali berjalan dan duduk di kursinya. Dia menaruh kepalanya dengan lengan sebagai bantalannya. Arga menghadap ke tembok dimana dia tidak perlu melihat orang atau pun hantu. "Apa yang Kak Nandini lakukan saat ini?" gumam Arga sembari menatap tembok. Saat Arga sedang memikirkan apa yang Nandini lakukan. Sebuah guncangan yang membuat Arga sedikit terganggu. Membuatnya bangun dan melihat ke belakang. Terlihat Desi yang memegang kursinya dari belakang. Arga tidak mengerti apa yang ingin dia lakukan. "Apa maumu?" tanya Arga. "Aku mau minta maaf yang kemarin," ujar Desi. "Oh, itu..." ucap Arga. Arga tidak terlalu mempedulikan kehadiran Desi. Dia kembali pada posisi sebelumnya. Arga tidur dengan lengan sebagai bantalnya dan menghadap ke tembok. Dia tidak bangga sama sekali dengan kemampuannya. Melihat Arga yang tidak ikhlas memaafkannya. Membuat Desi kesal dan kembali mengguncang kursinya dengan keras. Hingga membuat Arga geram. Tadinya dia tidak ingin menggubrisnya. Namun, guncangan yang diberikan semakin keras. Membuat Arga mau tidak mau menoleh ke arahnya. "Apa?!" kesal Arga. Desi menatapnya tanpa tersenyum, "Memaafkan atau nggak, nih?" tanya Desi kesal. Mereka saling menatap dengan perasaan yang sama, yaitu kesal satu sama lain. Arga menghela nafas panjang melihatnya. Melihatnya yang sangat mantap untuk meminta maaf. Membuatnya teringat kejadian kemarin malam. Kemarin malam... Saat tengah menjelaskan detail tentang Nandini yang ada di sampingnya. Semuanya nampak biasa saja, hingga selesai dalam penjelasan. Desi mengatakan sesuatu yang harusnya tidak dikatakan. Mengingat Arga yang tidak menyukai kemampuannya itu. Dia berpamitan dan langsung pergi mengambil tas ranselnya. Di saat itu teman-temannya memanggil namanya. Namun, Arga tidak menggubris meskipun mendengarnya dengan jelas. "Arga!" panggil Nandini. Nandini sedikit berlari mengejarnya yang berjalan cepat. Devan memanggil nama Nandini, tapi dia mengabaikannya dan tetap mengejar Arga. Sudah berkali-kali Nandini memanggilnya. Kini dia sudah berada pada jarak satu meter di belakangnya. Andaikan Nandini bisa menggenggam kerikil yang ia lihat di pinggir jalan. Mungkin dia sudah mengambilnya dan melempar tepat di belakang kepala Arga. "Arga!" panggil Nandini. Namun, dia terus berjalan tanpa melihat ke arahnya. Membuat Nandini semakin kesal. "Ih... Denger gak, sih?" ketus Nandini. Lagi dan lagi, ucapannya tidak digubris. Kini Nandini, benar-benar seperti dianggap hantu yang tak kasat mata. Hantu bisa melihat manusia, tapi manusia tidak dapat melihatnya. "Segitu bencinya sama kelebihan kamu?" tanya Nandini yang sudah geram. Ucapan itu berhasil membuatnya berhenti melangkah. Arga membalikan badannya menghadap ke arah Nandini. "Apa aku perlu bangga dengan apa yang dianggap sebagai 'kelebihan' ini?" tanya Arga dengan penekanan. Nandini terdiam, dia menunduk seolah tidak mengerti jawaban yang akan diberikan. Dia melipat tangannya di depan d**a. Melihat Nandini tidak mengatakan sepatah kata pun selama beberapa detik. Membuatnya kembali berbalik dan hendak berjalan. "Iya," jawab Nandini. Namun, belum satu langkah dia berjalan. Nandini membuka suaranya dan menghentikan langkahnya. Arga menoleh ke belakang, melihat Nandini yang tengah menatapnya serius. Arga membalikan badannya ingin mendengar lebih jelas lagi. "Apa maksudmu 'iya'?" tanya Arga. Nandini melepas tangannya yang dilipat di depan d**a. Kedua tangannya ia turunkan dan kembali menatap matanya. "Apa, jika..." ucap Nandini menggantung. Perkataannya membuat Arga terpaku dan menunggu apa yang ingin dia katakan. "Jika membenci kelebihanmu sendiri, akan membuatmu lebih baik?" tanya Nandini menatap bola matanya. Arga terdiam sesaat mendengar kalimat itu. Angin yang menerpa membuat keheningan singkat yang terasa lama. "Lalu, apakah aku harus menyukai kemampuanku ini?" tanya Arga kemudian. Nandini menghela nafanya panjang. Dia nampak membungkuk, tangannya hendak meraih sebuah daun hijau di bawah kakinya. Namun, entah berapa kali tangannya selalu berusaha mengambilnya. Daun itu tetap tidak bergerak sedikit pun. Hingga angin kembali datang dan menggesernya menjauh dari kaki Nandini. Daun itu terbawa angin yang menerpa hingga membuatnya menjauh dari Nandini. Bola matanya bergerak mengikuti kemana daun itu menjauh. Nandini menegakan tubuhnya dengan mata yang masih berfokus pada daun itu. Bola matanya kembali bergerak ke arah Arga berada. Melihat apa yang dilakukan Nandini. Membuat Arga semakin tidak mengerti dengan apa yang dia maksud. "Apa yang kamu lihat tadi?" tanya Nandini. "Hah?" ucap Arga sama sekali tidak mengerti. "Sekeras apa pun aku berusaha untuk memegang atau bahkan menyentuhnya..." ucap Nandini menggantung. "Aku tidak bisa melakukan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Lalu, apa aku membencinya?" tanya Nandini. Arga menatapnya, dia semakin tidak mengerti apa yang Nandini maksud. Membuat Arga masih mendengarkan dalam diamnya. "Aku memang membencinya," ujar Nandini. "Tapi, bukan berarti aku harus membenci diriku karena itu," ujar Nandini. "Aku gak bisa ngambil daun itu, apa itu kekurangan?" ucap Nandini tanpa jeda. "Mungkin saja, tapi karena aku bisa menembus apa pun. Itu adalah suatu kelebihan bagiku dan sebuah kesenangan tersendiri bagiku," papar Nandini. "Kekurangan atau bukan yang kamu punya saat ini. Itu tergantung dari sisi mana kamu melihatnya," ujar Nandini. Nandini menghela nafasnya panjang. Dia mengatakan hal itu karena dia sudah terbiasa dengan keadaan yang dialaminya. Arga menggerakan bola matanya ke arah lain. Apa yang dikatakan Nandini ada benarnya. Kekurangan atau kelebihan tergantung pada sisi mana kita melihatnya. Arga kembali menatap ke arah Nandini. Belum sempat dia menjawab kata-kata yang diucapkan oleh Nandini. Terdengar teriakan keras memanggil namanya dan Nandini. Terlihat Putri yang melambai sembari berjalan ke arah mereka. "Arga! Kak Nandini!" teriak Putri dari kejauhan. Nandini pun menoleh dan ikut melambai sembari melempar senyum kepada Putri. Terlihat pula Devan berjalan di belakangnya. "Putri, kok matamu merah?" tanya Nandini melihat Putri sudah di depan mata. "Ah, gak kok. Aku kena debu pas ada angin tadi," ujar Putri sembari tersenyum. "Pulang yuk!" ajak Putri. Mereka berjalan bersama dan bersenda gurau bersama. Malam itu adalah malam yang panjang sekaligus melelahkan baginya. Di kelas... Arga masih menatap Desi karena memikirkan apa yang harusnya dia jawab. Dia menghela nafas panjang melihat Desi yang masih menatapnya begitu serius. "Oke..." ucap Arga kemudian sembari menatapnya. "Oke, apa?" tanya Desi memastikan. "Iya, aku maafin..." ucap Arga. "Benarkah?" ucap Desi terlihat antusias. "Aku juga berterima kasih. Karena sudah membantuku," ucap Desi sembari tersenyum. "Berkat kalian, aku jadi lebih baik sekarang. Sepupuku juga telah meminta maaf padaku, aku benar-benar sangat bersyukur masih ada orang baik seperti kalian," ucapnya tanpa menghikangkan sedikit senyumnya. "O-Oh... Tapi sebaiknya jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada yang lain," ucap Arga merasa tidak tepat jika Desi berterima kasih kepada dirinya. "Aku rasa bukanlah sesuatu yang salah, jika berterima kasih kepadamu," ujar Desi. Desi masih memasang senyumnya. Sementara dari kejauhan terdapat Devan yang kebingungan. Mereka terlihat berbincang seperti layaknya tidak ada masalah yang menghalangi diantara keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN