Bab 40

1014 Kata
Desi memeluk lututnya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Putri merangkulnya dan terus menepuk-nepuk punggungnya. "Karena stres berlebih, aku dibawa ke psikiater. Oleh karena itu, sudah beberapa hari ini aku selalu meminum obat penenang," ucapnya dengan senyum kecut. "Jika dia di sini mendengarkanmu, pasti dia juga menangis..." ucap Putri membuat Desi menoleh menatap ke arahnya. Putri tersenyum simpul, "Tapi..." ucapnya menggantung. Desi masih menatapnya dalam tanya. Air matanya berhenti mengalir. "Dia pasti senang, karena kamu sudah lebih baik. Karena kamu sudah mau menerima kenyataan itu," ucap Putri sembari tersenyum hangat. Desi terdiam sejenak sambil memandang Putri. Hingga senyumnya mengembang dan kembali menatap foto yang dia pegang. "Sepertinya begitu," ujar Desi. "Nah... Gitu dong, kalau senyum kan enak liatnya," ujar Putri sembari menyubit pipi Desi dengan kedua tangannya. "Aw... Akh, sakit Kak..." ucap Desi membuat Putri berhenti dan menatapnya datar. "Eh... Maksudnya Putri..." ucap Desi menggaruk kepalanya. Putri yang melihat sikap Desi itu. Kembali tersenyum, "Aku cuma bercanda..." ujar Putri sembari menyubit pipinya Desi lagi. "Aw... Brarti aku boleh manggil 'Kak Putri', nih?" tanya Desi masih dicubit Putri. Putri kembali terdiam, "Nggak!" Desi pun terkekeh melihat raut wajah Putri yang bisa langsung berubah seperti itu. Putri menjadi ikut tertawa melihat Desi yang terkekeh. Di saat mereka sedang berbincang. Mereka tidak menyadari kehadiran Asih. Dia berdiri di situ dan mendengarkan semua keluhan Desi. Nandini menyadarinya, dia hanya bisa tersenyum kala melihat wanita paruh baya itu menatap anaknya. Tugas Asih sudah selesai di sini, senyumnya mengembang ketika melihat Desi kembali tersenyum. Tubuh Asih perlahan menghilang, hanya senyumnya yang tidak menghilang. Nandini terus menatapnya sampai Asih tidak terlihat lagi di depan matanya. Nandini kembali menatap mereka berdua. Dia kembali berfikir, bagaimana jadinya jika dia yang akan menghilang selanjutnya. Nandini bersender pada tembok, kakinya ia luruskan. Bola matanya melihat ke atas. Nandini menghela nafasnya panjang. Putri yang melihat Nandini nampak murung. Dia kembali menatap Desi dan berkata, "Eh, kamu tau gak? Kalau setan juga bisa galau, loh!" sindir Putri tanpa menatap Nandini. Mendengar kata-kata 'SETAN' keluar dari mulut Putri. Membuatnya merasa tersindir, bola matanya langsung menatap tajam Putri. "Siapa yang kau bilang 'SETAN' itu, hah?" ucap Nandini tidak terima. "Selain itu, apa kamu tau?" ucap Putri lagi. "Apa itu?" tanya Desi terlihat bersemangat ingin mendengarkan. "Ada juga setan yang gak mau dipanggil dengan sebutan 'setan'. Setiap dipanggil begitu, dia pasti ngamuk," ujar Putri. "Masa sih, Put?" ucap Desi gak percaya. "Ih... Kok gak percaya, sih?" ucap Putri sembari menepuk bahu Desi pelan. Desi memegang dagunya seraya berkata, "Kalau gak mau dipanggil dengan sebutan 'setan'," ucap Desi seperti sedang berfikir. "Walaupun jelas-jelas dirinya itu setan. Itu artinya... Setannya gak tau diri, dong," ucap Desi sembari tersenyum lebar seolah bangga dengan jawabannya. Seketika Putri terkekeh mendengarnya, "Hehe... Bener banget, tuh!" Nandini yang mendengarnya hanya bisa menatap tajam Putri yang masih terkekeh. Nandini menghela nafas gusar mendengar langsung dari mulut temannya Devan itu. "Sama seperti..." ucap Desi menggantung. Ucapannya membuat Putri berhenti tertawa sejenak. Dia menatap Desi dalam tanya. "Seperti orang yang lebih tua dari aku setahun. Tapi, dia gak mau dipanggil 'Kak'," ujar Desi sembari menutup mulutnya berusaha menahan tawanya. Nandini yang mendengar hal itu, tertawa terbahak-bahak. Melihat dia tidak perlu membalas dendam kepada Putri secara langsung. Sekarang Putri yang menatap tajam Nandini. Putri kembali menatap Desi yang berusaha menahan tawanya. Kini tangannya kembali bersiaga hendak menyubit kedua pipi Desi. Desi yang melihat hal itu, berhenti menahan tawa. Dia terkejut, dan selalu meminta maaf. Tapi, Putri adalah Putri, dia langsung menyubit kedua pipi Desi tanpa meminta izin. "Aw! Sakit Put!" ucap Desi meringis kesakitan. "Putri, aku minta maaf!" ucap Desi. "Hah? Apa kamu bilang?" ucap Putri tanpa mau berhenti. "I-Iya... Aku gak akan ngulangi lagi," ucap Desi menyerah. Putri pun melepas kedua tangannya dari pipi Desi. Kedua tangan Desi terus memegang pipinya yang memerah kesakitan. "Aw, sakit banget," ujar Desi. "Siapa suruh meledek," ucap Putri kesal. "Heleh... Yang meledek duluan kan kamu sendiri," ucap Nandini. "Ck," decak kesal Putri. Desi masih memegang kedua pipinya. Dia menatap Putri yang sedang melipat tangannya di depan d**a. Melihat Putri lengah, Desi langsung menyerang Putri. Dia melakukan hal yang sama seperti apa yang Putri lakukan kepadanya. "Gantian!" seru Desi menyubit kedua pipi Putri. Hingga saling menyubit pun tidak terhindarkan. Pipi keduanya memerah, sampai mereka terbaring bersama. Tawa pun tidak terhindarkan, mereka saling tertawa. Mereka nampak senang hari ini. Putri memandang Desi yang terbaring di sampingnya. Tawanya berubah menjadi senyum simpul yang penuh rasa syukur. Putri senang dapat melihat orang yang bersedih kembali ceria. Bola matanya bergerak menatap ke atap. "Putri..." panggil Desi yang menatapnya. Putri menoleh ke arah Desi. Senyum yang nampak di wajahnya Desi masih belum menghilang. "Makasih buat hari ini, ya?" ucap Desi mempertahankan senyumnya. Putri membalas senyumnya,"Aku gak ngelakuin apa pun," ujar Putri. Desi bangkit, dan menatap serius Putri. Sementara Putri menatapnya heran. "Bilang sama-sama, kek..." ucap Desi tidak suka dengan jawaban yang diberikan Putri sebelumnya. Putri bangkit dan menatapnya sembari tersenyum, "Beneran, aku gak ngelakuin apa-apa," ujarnya. Desi mengambil guling yang ada di sampingnya. Seketika dia langsung memukul Putri dengan guling itu. Putri tersungkur terkena bantal guling itu. "Hei! Kamu ngapain?" tanya Putri tidak terima. Putri pun mengambil bantal yang ada di dekatnya. Kemudian dia memukulnya dengan keras menggunakan bantal itu. "Aku akan menyerah, jika Putri mau bilang 'sama-sama'," ujar Desi. "Aku bilang, aku gak ngelakuin apa-apa..." ucap Putri. Mereka pun saling memukul dan menangkis menggunakan benda empuk nan lembut yang dipegang masing-masing dari mereka. Mereka kembali tertawa, tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. "Kekanak-kanakan," gumam Nandini. Dari kejauhan terdengar suara langkah yang mendekat. Tetapi mereka berdua tidak menggubris hal itu. Hanya Nandini yang mendengarnya. Derap langkah perlahan semakin mendekat. Membuat Nandini sungkan untuk mendekat. Dia terus menunggu, sampai batang hidungnya menunjukkan dirinya. Terdengar sekitar ada dua orang yang melangkah bersamaan. "Hih! Bikin kaget aja," ujar Nandini. Hingga kepala Devan melongok dari balik pintu dengan wajah datarnya. Disusul Arga yang ikut melihat di atas kepala Devan. Devan kembali berjalan ke dalam kamar Diikuti Arga dibelakangnya. "Sudah cukup acara piyamanya," ujar Devan. Seketika Desi dan Putri menghentikan perang bantal guling mereka dan menatap ke arah orang yang sedang berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN