Bab 19

1109 Kata
Devan menatap Putri, namun ketika Putri menatapnya kembali dia langsung membuang muka. Karena Putri masih kesal dengan ketidakpedulian Devan terhadap kakaknya sendiri yang terlihat jelas. Putri duduk di lantai, bersender di tembok. Dia memeluk lututnya, wajahnya ia benamkan. Putri hanya bisa berdoa agar Nandini segera kembali. Meski dia mengetahui jika Nandini bukanlah manusia lagi. Dia hanyalah arwah yang belum menyelesaikan masalahnya. Tetapi kebahagiaan yang terpancar ketika orang tua Devan bersamanya sangat terlihat jelas. Mereka sudah dianggap seperti orang tua ke dua baginya. Terutama Ibunya Devan, dia sudah seperti ibunya sendiri. Ayahnya sibuk bekerja, sementara Ibunya sudah lama tiada saat dia kecil. Kehadiran orang tua Devan, menjadi obat di kala Putri kesepian di rumah. Dan kali ini, mereka terlihat sangat bahagia melihat anaknya yang telah lama pergi datang kembali. Meskipun dalam wujud yang berbeda. Setidaknya, Putri ingin mereka merasakan kebahagiaan lebih lama bersama Nandini. "Putri, kita keluar dari sini ya?" ajak Devan memanggil namanya. Putri mengangkat wajahnya, "Nggak!" tegasnya sambil menatap mata Devan. Devan sedikit terkejut dengan itu. Dia kembali menghela nafas. Kemudian dia duduk di lantai, tepat di sebelah Putri. Devan melakukan hal yang sama. Dia memeluk lututnya, dan membenamkan wajahnya. Putri menatap setiap gerak-geriknya. "Kamu pulang aja kalo takut di sini," ujar Putri memandang lurus ke depan. "Nggak mau!" tolak Devan. "Hpku mati," ujar Devan mengangkat wajahnya menatap Putri. Putri menyodorkan ponselnya ke arah Devan, "Nih, pake. Pulang aja sana," ujar Putri. "Terus Putri gimana?" tanya Devan. "Aku di sini aja. Aku mau nunggu kak Nandini," jawab Putri yang masih menyodorkan ponselnya. Devan yang mendengar itu mendorong pelan sodoran ponsel itu. Dia tidak mau menerimanya. "Aku nunggu," ujar Devan. "Yakin nih? Apa kamu takut jalam sendiri?" tanya Putri yang mulai mengejeknya. "Nggak!" sanggah Devan. Putri dibuat terkekeh melihatnya. Kemudian dia menatap langit-langit yang tidak terlalu jelas karena minim penerangan. Dia menghela nafas lega. "Kamu sedikit berubah ya," ucapnya masih menatap ke atas. "Siapa? Aku?" tanya Devan menunjuk dirinya sendiri. "Apanya?" heran Devan. "Kamu sedikit berubah, kamu sedikit lebih berani sekarang," ungkap Putri menatapnya sambil tersenyum. "Itu pujian, bukan?" tanya Devan tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. "Pujian," jawab Putri datar. "Oh, pujian..." gumam Devan sambil memantuk. "Eh? Hah?!" Devan terlonjak kaget mendengarnya. "Apa?!" kesal Putri. "Hehe... Nggak," balas Devan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pujian darinya adalah hal yang sangat langka. Putri lebih banyak mengejeknya daripada memujinya. Entah Devan harus senang atau tidak dengan peristiwa ini. Bunyi denting terdengar berasal dari ponsel. Putri melihat ke layar ponselnya. Terlihat notifikasi masuk, dan yang mengirim pesannya adalah orang tua Devan. "Van, mbokmu tuh nanyain kamu lagi dimana," ujar Putri memperlihatkan layar ponsel yang berisi pesan tersebut. Devan menoleh, membacanya dalam hati. Dia hanya mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar Putri membalas semaunya. Putri memberi jari ibunya di depan wajahnya, kemudian mulai mengetik di ponsel. Kemarahan Putri sangat mudah reda oleh waktu. Jika Putri marah meski sedetik saja, bagi Devan itu cukup membuatnya kerepotan. Meskipun tidak mengetahui kesalahannya. Devan hanya bisa meminta maaf atau mencari alasan lain. "Aku udah balas," ujar Putri yang masih menatap layar ponselnya. "Berapa lama kita nunggu?" tanya Putri kemudian. "Tunggu aja," balas Devan. Sementara itu... Arga berhasil memasuki ruang dimensi yang berbeda. Arga tepat berada di toilet yang sama. Terlihat sekeliling yang sepi, tidak ada siapapun di dalam. "Hufft..." Arga menghela nafas mendapati dirinya harus berada di tempat yang tidak seharusnya. Dia berjalan menuju pintu, tangannya meraih gagang pintu. Secara perlahan dia memutar gagang pintu, hingga terdengar suara gesekan di dalam gagang pintu. Arga menariknya perlahan, terdengar suara langkah kaki dan suara orang bicara yang dari balik pintu. Orang-orang terlihat berjalan seperti biasanya. Tidak terlihat aneh, semuanya nampak melakukan hal yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Namun satu hal yang pasti, mereka semua tidak menyadari kehadiran Arga. Arga berjalan melewati banyak orang di lorong. Melihat ke sekeliling di tengah banyak orang yang melewatinya. Semua orang terlihat sibuk dan berbicara kepada temannya dan tidak ada yang menyadari kehadirannya. Arga memutuskan berlari sambil sesekali menengok kanan dan kiri. Mencari keberadaan Nandini sesegera mungkin. Wajah yang asing, semuanya tidak dikenal. Setiap ruang dimasukinya, mencari keberadaan Nandini. "Kemana dia?" gumam Arga tidak menemukan Nandini di setiap ruang yang ia datangi. Arga melihat ke berbagai arah, setiap wajah diperhatikannya. Tidak ada yang luput dari penglihatannya. Nafasnya tersengal karena berlarian di setiap kelas yang ada. Kedua tangannya memegang kepala dan melihat ke setiap orang yang ada di sekitarnya. Arga mencoba mengatur nafasnya. Dia menurunkan tangannya, sambil memejamkan mata. Hanya ada suara orang yang sedang berbincang dan suara langkah kaki. Nafas yang tersengal perlahan mulai teratur. Arga membuka matanya perlahan. Dia tidak bisa berhenti sekarang. "Dimana dia?" gumam Arga. Arga berjalan melangkahkan kakinya di antara sekumpulan orang-orang. Hingga langkah kakinya terhenti oleh suara tangisan yang sesenggukan di dekatnya. Bola matanya bergerak mencari sumber suara yang ditangkap oleh indra pendengarannya. Bola matanya berhenti pada satu ruang dengan pintu yang terbuka lebar. Papan di atas pintu yang tertulis 'Ruang BK' terdapat beberapa orang yang berseragam batik seperti guru. Tangisannya makin terdengar jelas kala Arga melangkahkan kakinya makin mendekat. Arga memasuki ruang, pria dan wanita paruh baya yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu di meja mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari jika ada suara tangisan di dekat mereka. Matanya langsung tertuju pada sosok yang ia cari sedari tadi. Dia menangis sambil memeluk lututnya. "Kak Nandini," gumam Arga. Arga melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nandini. Hingga sampai tepat di depannya. Arga jongkok, menyesuaikan dengan Nandini yang sedang memeluk lututnya. Dia terlihat ketakutan, tangisnya terdengar sesenggukan. Entah sudah berapa lama dia menangis seperti ini. Nandini masih belum menyadari kehadiran Arga. "Kak Nandini," panggil Arga dengan suara lirih. Perlahan Nandini mendongak, melihat siapa yang memanggilnya. Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. "Arga, Aku takut!" ujarnya dengan sesenggukan. Sifat kekanak-kanakannya mulai muncul. Membuat Arga terkekeh melihatnya. "Aaa... Kenapa ketawa? Aku beneran takut," rengek Nandini kembali memeluk lututnya. Arga menghentikan tawa kecilnya. Dia tersenyum seraya memegang tangan Nandini. Berusaha menenangkannya, tangisan Nandini perlahan mereda. "Ayo keluar," ajak Arga sembari tersenyum kepadanya. Meskipun masih sesenggukan Nandini berdiri dibantu Arga yang memegang tangannya erat. Namun, belum melangkahkan kakinya. Orang yang duduk di meja, menatap ke arahnya. Tatapannya begitu tajam, membuat Arga tidak melangkahkan kakinya. "Kenapa lagi?" rengek Nandini. "Sstt..." perintah Arga untuk diam. Arga berjalan perlahan, dengan memegang tangan Nandini erat. Sampai keluar, seluruh orang yang ada di lorong menatap tajam ke arah mereka. Nandini bersembunyi di balik punggung Arga ketakutan. Hingga satu orang melangkah maju ke arah Arga. Pria itu terlihat menatap Arga sesaat, kemudian menunjuk Nandini yang bersembunyi di balik punggung Arga perlahan. "Jangan bawa dia!" ucapnya dengan suara serak. Kini semua orang mulai maju mendekat. Secara spontan tangan Arga melebar, mencoba melindungi Nandini dari mereka. "Lari!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN