Devan mengarahkan ponselnya, ketika dia membuka pintunya perlahan. Suara pintu yang khas, membuat jantungnya berdegup kencang. Berharap tidak ada yang menyapanya dari balik pintu.
Devan membelalakan matanya, saat dia telah membuka pintunya lebar. Putri tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.
Devan terkejut, dia memanggil namanya berkali-kali. Devan mendekati Putri, tangannya meraih leher Putri.
Devan beberapa kali menepuk pipinya dan memanggil namanya. Tidak ada sahutan, Devan menaruh jarinya di pergelangan tangannya.
Jantungnya masih berdegup, membuat Devan yang sudah berkeringat dingin dan berdegup kencang membuatnya dapat bernafas lega. Devan berusaha mengangkat tubuh Putri keluar dari toilet sesegera mungkin.
Lengan kanannya menahan leher Putri agar tidak terjatuh sembari telapak tangannya memegang ponsel untuk menerangi jalannya. Rasa ketakutanya hilang ketika dia membopong Putri. Beratnya tubuh Putri membuatnya berkeringat seperti saat sedang berlari. Ruang yang gelap membuatnya berkeringat deras.
Devan masih berdiri di dalam toilet. Ponselnya diarahkan ke berbagai sisi. Mencari jalan yang tepat untuk keluar dari sini. Devan melangkahkan kakinya, meski hampir tumbang.
"Makan apa sih? Bisa-bisanya ngerepotin orang," gumam Devan.
Devan melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Dia mengarahkan ponselnya ke segala arah yang bisa dijangkau tangannya. Adanya Putri membuatnya tidak bisa leluasa mengarahkan lampu sesuka hatinya.
Berjalan melewati kegelapan, dengan satu titik penyinaran. Devan melangkahkan kakinya, rasa takut kembali menyeruak. Jantungnya kembali berdegup kencang.
Hingga suara yang membuatnya takut setengah mati keluar dari ponselnya. Batrainya lemah dan lampu mati seketika.
"Akh! Lampunya!" sesal Devan karena tidak mengisi ponselnya terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.
Baru beberapa langkah keluar dari toilet. Dengan satu-satunya penerangan lenyap. Kini kembali kegelapan yang menemani.
Sunyi, kembali sunyi. Devan tetap berjalan dengan mengandalkan ingatannya. Dia tetap berjalan lurus, sesuai dengan ingatannya. Beratnya Putri membuatnya berkali-kali hampir kehilangan keseimbangan.
"Akh, tembok. Ini tembok," ucap Devan menabrak tembok yang berimbas kepada Putri.
"Dari sini, harusnya ke kanan," gumam Devan.
Dia melangkahkan kakinya, tanpa rasa ragu. Hingga suara seperti seseorang tengah membuka pintu toilet terdengar. Membuat nyali Devan kembali mengecil.
Devan menghentikan langkahnya, mencoba memasang telinganya baik-baik. Berharap apa yang didengarnya adalah imajinasinya saja.
Devan kembali bernafas lega, ketika mengetahui tidak ada suara aneh yang didengarkan lagi. Dia kembali melangkahkan kakinya.
Kini cahaya dari luar mulai terlihat. Devan hampir terjatuh lagi. Karena bahu kanannya tidak kuat menahan beban. Kaki kanan di depan sedikit menekuk untuk menahan beban.
Devan mengambil nafas panjang, dan mengangkat tubuh Putri dengan sisa tenaganya. Sedikit demi sedikit cahaya mulai menyinari wajahnya.
Putri membuka matanya pelan, cahaya yang menyinari wajah Devan membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali. Dia mulai mengumpulkan kesadaran dengan melihat ke segala arah.
"Oh, udah bangun? Bisa berdiri?" tanya Devan.
Putri terkejut ketika dia baru menyadari. Jika dia sedang digendong Devan.
"Turunkan aku!" seru Putri.
Bruk!
"O-Oke," ucap Devan sedikit terkejut.
Devan menurunkan Putri dengan lembut. Dia memegangi bahu setelah berhasil menurunkan Putri.
"Apa yang terjadi?" tanya Devan penasaran.
Pertanyaan itu membuatnya teringat hal yang sangat penting, "Kak Nandini!"
"Dimana kak Nandini?" tanya Putri memegang pakaian Devan.
Devan melupakan hal itu, dia benar-benar tidak menyadarinya. Nandini tidak ada di sana. Saat Putri tergeletak hanya satu pemikirannya, yaitu menolongnya. Devan terdiam beberapa detik dari pertanyaan Putri.
"A-Aku nggak tau," ucap Devan gugup.
"Gimana bisa? Dia kakakmu!" ujar Putri.
"Harusnya kamu cari dia!" sambungnya.
"Maaf, aku..." ucap Devan menggantung.
"Kita harus cari dia sekarang. Ayo!" ajak Putri.
Devan tidak bisa berkata-kata kali ini. Meskipun dia sangat ingin membalas perkataannya itu.
"Gelap!" ujar Putri.
Kemudian Putri mengambil ponselnya. Jarinya sangat lihai dalam menggeser layar ponselnya. Nyala lampu berhasil membuatnya tersenyum. Dengan begini, dia bisa menerangi jalan dalam kegelapan.
"Terang!" seru Putri mengarahkan cahaya ponselnya ke arah Devan.
Membuat Devan harus menghalangi cahaya tersebut dengan tangannya. Devan berjalan mendekati Putri. Akibat kekesalannya kepada Putri, membuatnya lupa akan ketakutannya sendiri. Dia mengambil ponsel milik Putri, setelah itu diarahkan sesuai keinginannya sendiri.
"Devan! Hpku!" teriak Putri yang ditinggalkan di antara kegelapan.
"Makanya cepetan!" kesal Devan.
Putri sedikit berlari kecil menyamai langkah Devan. Dia memandang wajah teman masa kecilnya ini. Dia sedikit heran, tetapi bangga.
"Kamu udah gak penakut lagi?" tanya Putri.
Tiba-tiba keringat dingin kembali bercucuran, dia kembali takut karena Putri mengingatkannya.
"Sepertinya begitu," jawab Devan ragu.
Putri hanya memantuk, meski dirinya masih belum percaya. Jika anak yang dulu selalu mengekor padanya, bisa mengatasi ketakutannya sendiri.
Putri mengabaikan pemikirannya, dia kembali berjalan. Meski dalam kegelapan, tidak membuat nyalinya goyah sedikitpun.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kok, kamu bisa pingsan?" tanya Devan berusaha menghilangkan rasa takutnya.
"Aku gak terlalu ingat jelas," ujar Putri memegang kepalanya mencoba mengingat.
"Tapi..." ucapnya menggantung.
"Tapi?"
***
Beberapa menit setelah ketegangan antara Nandini dan Arga.
"Kak Nandini! Ikut!" seru Putri mengekor kepada Nandini.
Mereka berjalan tanpa adanya satu percakapan yang muncul. Mungkin karena Nandini sedang sangat kesal. Kehadiran Putri diabaikan olehnya.
Putri memahami kekesalan itu, dia hanya bisa diam mengikuti kemana langkah Nandini pergi. Lorong ini masih terlihat terang.
Nandini berhenti di tengah jalan, sehingga Putri yang sedari tadi mengekor padanya menembus melewati tubuh Nandini. Putri melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaan Nandini, kemudian dia menoleh ke belakang.
"Kak, kenapa berhenti?" tanya Putri.
"Gak ada, lanjut yuk!" ajaknya.
"Kamu gak takut Put?" tanyanya kemudian.
"Gak, soalnya kan ada kakak!" ujar Putri penuh semangat.
"Tapi aku kan hantu," ucapnya lagi.
Putri tersenyum, "Kakak itu hantu baik, kenapa harus takut?" ujarnya santai.
"Ah, gitu ya," gumamnya sembari tersenyum kecil.
Putri memandang wajah Nandini lekat-lekat. Nandini terlihat sedih, Putri jadi kebingungan. Apakah dia salah bicara kepadanya?
"Kak? Mikirin apa sih?" tanya Putri penasaran.
"Apa..." ucap Nandini menggantung.
"Apakah kehadiranku di dunia ini adalah sesuatu yang benar?" tanya Nandini terlihat serius.
"Pertanyaan itu," ucap Putri sembari terkekeh.
"Kenapa? Aku gak ngelucu Put," ucap Nandini mulai kesal.
Putri masih terkekeh, "Pertanyaan itu sama seperti jutaan orang di dunia yang lagi putus asa," ujarnya sembari tersenyum.
"Biasanya, kalau ada arwah di dunia ada sesuatu yang belum terlaksana, bukan?" tanya Putri.
"Kata siapa?" tanya balik Nandini.
"Kata Devan," jawab Putri seadanya.
"Ah, anak itu," gumam Nandini memantuk.
"Setiap makhluk punya tujuannya masing-masing di dunia," jelas Putri.
"Mereka yang pasrah akan dunia dan berhenti bergerak. Orang-orang semacam itu, adalah orang yang terlalu menikmati kesedihannya. Sehingga mereka lupa apa tujuan hidupnya," sambung Putri.
"Tapi, aku kan gak hidup," ucap Nandini.
Putri menghela nafas, dia berfikir ada benarnya juga. Kenapa dia memberi semangat hidup kepada orang yang sudah mati?