Prolog

233 Kata
Namanya Abian Lorenzo. Spesifiknya dapat disimak pada sebuah angket penilaian hasil penelitian kuantitatif karya mahasiswanya, yakni: Ganteng? Iya. Tinggi? Tentu saja. Putih? Porselen saingannya. Wibawa? Jangan ditanya. Mapan? Sangat. Bibit? Unggul. Bebet? Mantul. Bobot? Apa saja istilahnya selain sakaratul. Gengsi? Oh, ini nih. Ini. Dia punya gengsi setinggi gunung Jayawijaya, sepanas lahar merapi, dan sedalam inti bumi. Kalau seksi? Nilainya 100, valid no debat. Terbukti dari berapa banyak rahim perawan yang hangat, belum lagi sensasi saat melihat dan mendengar suaranya membuat percabangan menuju kaki jadi lembab. Lantas, bagaimana dengan kamus percintaannya? Oh, para mahasiswa tidak dapat meneliti studi kasus tersebut dari sosok dosennya. Namun, ada satu ... mahasiswa yang menerima lemparan tanya dari beliau mengenai teori hati, yakni: "Kamu tahu gimana rasanya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya?" *** Tentang dia yang datang, dan dia yang memberi kebahagiaan. Tentang dia yang pergi, dan dia yang meninggalkan sakit hati. Tentang dia yang tersakiti, dan dia yang tidak melihat hati lainnya terlukai. Tentang dia dan perasaan yang masih bersarang, juga dia dan keinginan yang terhalang. Tahu? Kita. Kita kata satu suara. Tentang siapa dengan siapa yang menjadi satu dalam aksara. Kita kata satu makna. Tentang siapa dengan siapa yang merajut kisah dalam satu rasa. Apalah kita, kalau tak ada salah satunya? Siapalah kita, yang pernah bersama tapi tak lagi se-asa? Sepatu dirancang berpasangan. Kancing ditakdirkan berdampingan dengan lubangnya. Lantas, apakah itu kita? Atau, justru imajinasi semata? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN