Bab 74 - Rencana Temmy Yang Selanjutnya

1853 Kata

Aku mendadak terbangun dengan napas terengah dan kening yang banjir keringat. Pak Darren berada di sebelahku, ikutan bangun dan nanya aku kenapa. Aku kembali mengingat soal mimpi yang melibatkan nenek dan Jia. Apa maksudnya itu? Semua terpampang jelas dalam mimpiku tadi. “Kamu mimpi buruk?” tanya Pak Darren yang dengar suara hatiku. Aku menoleh ke arahnya, kemudian mengangguk. “Nenek dan Jia ... mereka dibunuh,” lirihku. “Kepala nenek ditebas dan tubuh Jia dikubur hidup-hidup di sampingnya,” lanjutku berusaha menjelaskan dengan tubuh gemetar dan airmata yang mulai mengalir ke pipi. Aku jadi ingat hari di mana mereka nolong aku. Kejadian di dalam mimpi mengenai Jia sama persis sama kejadian di mana terakhir kali aku ngeliat dia sebelum akhirnya aku kembali lagi ke sini. Airmataku makin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN