Pertama kali aku melihatmu, kau seperti kucing liar yang tersesat dalam hujan. (Sky)
***
Nama aslinya, hadiah pertama dan terakhir dari ibu yang telah melahirkannya, tak ada yang tahu. Nama itu terkunci rapat dalam deposit box yang ada di sudut ingatannya. Kepada semua orang dia memperkenalkan dirinya sebagai Sky seperti selalu yang dia inginkan: menjadi langit yang cukup luas dan bebas untuk menaungi perempuan yang sedang berada di hadapannya--Kalina.
Kalina adalah Sky versi perempuan. Rambut panjangnya berwarna sama seperti Sky, dicat merah serupa api. Kedua lengannya pun dipenuhi tato, Sky sendiri yang merajahnya. Sky juga yang membantunya menindik alis, bibir, dan lidahnya. Mereka punya selera yang sama.
"Pemandangan yang bagus, Sky!" Kalina bersiul kurang ajar sambil memandangi otot di d**a dan perut Sky yang terbuka dengan tatapan lapar.
Sky melempar handuknya yang basah oleh keringat ke wajah Kalina. Dia baru saja selesai melakukan olah raga rutinnya pagi itu. "Kau selalu masuk ke rumahku tanpa permisi."
Kalina meraih handuk yang menutupi wajahnya, melemparnya ke sudut. "Ayo, sarapan di luar bersamaku!"
Ajakan Kalina merupakan isyarat bahwa ada hal penting yang ingin dia katakan. Kalina tahu Sky tidak akan makan apa pun sebelum jam sebelas. Lelaki itu sangat menjaga tubuhnya. Sky bukan hanya seorang seniman tato, tetapi juga petarung. Dia perlu menjadi kuat untuk bisa bertahan di dunia mereka yang kacau.
"Katakan!" Tanpa basa-basi Sky memulai percakapan begitu mereka tiba di kedai makan pinggir jalan yang menjual lontong sayur, kedai langganan mereka.
"Lontongnya satu saja, Pak, dimakan di sini, ya!" Kalina memesan makanan sebelum dia berkata kepada Sky, "Mereka mendatangiku."
"Kau mau aku menghabisinya?" Sky menggeram.
Kalina tertawa geli. "Sekuat apapun pukulanmu, kau tak akan bisa mengabisi mereka," ujarnya. Kalina lalu mendekatkan wajahnya ke Sky dan berbisik, "Sebab, mereka sudah lama mati."
Sky melempar kepala ke belakang dengan frustasi. "Sudah kubilang, kau harusnya mencari pekerjaan lain, Kalina! Cobalah bergaul dengan manusia sungguhan dan berhenti melibatkan dirimu dengan arwah penasaran."
"Well, mereka mendatangkan banyak uang, by the way!" Kalina mengangkat bahu santai. Dia lupa sejak kapan atau bagaimana dia dapat melihat makhluk-makhluk gaib, tetapi baru dua tahun ini dia menyadari bahwa dia bisa menarik keuntungan dari bakatnya itu. Kalina sengaja mendatangi tempat-tempat angker dengan kamera dan membagi pengalaman mistisnya di channel Youtube-nya. Masalah mulai muncul jika ada satu atau beberapa makhluk yang dijumpainya di sana dan mengikutinya pulang.
"Lalu kau mau aku bagaimana?" Sky mengedarkan pandangan ke udara kosong di sekeliling mereka dengan waspada. "Apa mereka ada di sini sekarang?"
Kalina menunggu pemilik kedai selesai menghidangkan pesanannya di meja lalu menjawab, "hanya ada satu dari mereka. Di belakangmu."
Sky melompat berdiri dan langsung menoleh ke belakang.
"Relaks, Sky! Jangan semakin memancing perhatian orang-orang." Kalina sadar betul penampilan mereka berdua sangat mencolok. Di mata orang-orang mereka tampak seperti sepasang berandalan yang bangun kepagian. "Dia tidak akan mengganggumu," lanjutnya sambil menyuap sesendok penuh potongan lontong.
"Aku kagum dengan selera makanmu," ujar Sky jujur.
"Temani aku melakukan ritualnya, Sky. Aku butuh kehadiran seseorang untuk membangunkanku." Kalina mengabaikan komentar Sky. Berurusan dengan orang-orang mati menghabiskan banyak energinya. Dia sanggup menghabiskan dua porsi lontong sayur, tetapi harga dirinya di depan Sky akan terluka.
"Ini sangat berbahaya." Sky berkata dingin. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Kalina. Kalina akan membuat dirinya sendiri dalam keadaan koma hanya demi membantu para arwah menuntaskan urusan mereka yang belum selesai dan Sky bertugas menjaga raganya sampai Kalina bangun.
"Tidak jika ada kau." Kalina dengan cepat menghabiskan sarapannya.
"Aku tidak mau." Sky berdiri dan beranjak pergi.
Kalina buru-buru membayar lalu mengejar Sky. Tak ada orang lain yang lebih tepat untuk menjaganya selain Sky. Kalina pertama kali bertemu Sky saat dia ingin membuat tato pertamanya dan setelah itu Kalina mulai jatuh cinta dengan karya-karya Sky. Mereka menjadi teman baik dan saling berbagi kisah. Sky ternyata putra bungsu seorang pengusaha kaya raya. Tidak tahan dengan segala aturan keluarganya, Sky melakukan pemberontakan, menentang keinginan ayahnya, drop out dari fakultas kedokteran, keluar dari rumahnya yang mewah dan segala fasilitasnya, lalu terlempar ke jalanan, bertarung dengan para preman, belajar membuat tato hingga mampu membiayai kebutuhannya dari kemampuannya itu. Mereka berdua sama-sama sendirian, berjuang untuk hidup tanpa bantuan saudara atau keluarga. Kalina memercayakan hidupnya di tangan Sky. Sky bukan orang bodoh, dia punya sedikit pengetahuan tentang dunia medis, cukup untuk menjaganya selagi ruhnya keluar dari raga. Kalina membutuhkan Sky.
"Sky!" Kalina memanggil Sky saat tanpa sengaja menabrak sekelompok preman yang sedang nongkrong di mobil mereka.
"Hai, cewek! Mau gabung dengan kami?" Salah seorang dari mereka menarik tangan Kalina dengan kasar. "Aku suka anting di bibirmu. Seksi!"
Sekelompok preman itu melingkari Kalina, tetapi sebelum mereka melakukan tindakan lain yang lebih jauh, sebuah batu besar tiba-tiba saja melesat dan menghantam kaca mobil. Spontan mereka mencari pelaku tindakan anarkis itu dan di sanalah Sky berjalan mendekat sambil menatap tajam.
"Oke! Aku akan membantumu, tapi kau harus pergi dari sini supaya aku bisa menjalin hubungan dengan teman-teman baruku ini." Sky berseru kepada Kalina.
Kalina ragu-ragu.
"Aku akan menghitung sampai dua. Kalau kau tidak pergi, aku tidak mau membantumu." Sky mendesak Kalina.
Sekelompok preman itu mengalihkan perhatian mereka kepada Sky. Wajah mereka merah padam. Dengan penuh emosi mereka melangkah mendekati Sky. Kalina mengambil kesempatan itu untuk menyingkir seperti perintah Sky.
"Aku pulang! Temui aku dalam keadaan hidup, oke? Aku sudah punya terlalu banyak orang mati." Kalina berseru sambil berlari berbalik arah. Dia berhasil menyetop sebuah angkutan umum dan pergi dari sana.
Sky menyeringai. Preman-preman itu semakin dekat dengannya, tak sabar untuk menghabisinya. Sky bergegas kembali ke sepeda motornya yang tadi dia pakai berboncengan dengan Kalina, menaikinya, lalu melaju pergi.
"Sialan! Kembali ke mobil, kita kejar dia!" Salah satu dari para preman itu memberi komando.
Sky tidak pernah berniat untuk melarikan diri. Orang-orang itu sudah menyentuh temannya yang paling berharga dan dia tidak akan memaafkan mereka. Sky sengaja membuat mereka agar mengikutinya ke tempat yang aman di mana dia bisa bebas memberi mereka pelajaran tanpa banyak saksi mata.
Motornya menderu dan meliuk di jalan raya. Sky tahu ada satu gedung terbengkalai yang tak jauh dari sana. Dia pernah mengunjunginya bersama Kalina demi salah satu konten ekspedisi alam gaib yang tengah digarap Kalina. Gedung itu bekas pabrik, keberadaannya nyaris tak tampak dari luar, terlindung oleh semak belukar dan pepohonan. Ke sanalah Sky menggiring mereka.