Episode Bayangan yang mengetuk pintu

1522 Kata
BAB 43 – Bayangan yang Mengetuk Pintu Malam belum larut, tapi udara di kosan Liora sudah berat. Pintu tertutup rapat, tirai ditarik, dan tiga kursi plastik melingkari meja kayu kecil yang mulai penuh dengan sisa kopi sachet dan bekas roti. Liora membuka laptop. “Gue udah gabungin semua laporan dari hasil forum terbuka. Sekarang kita punya sembilan testimoni dengan bukti lampiran. Lima di antaranya siap maju kalau dibutuhkan.” “Berarti... kita punya dasar kuat buat dorong investigasi formal,” kata Arka, suara berat dan pelan. “Tapi tetap... ada yang ganjil.” Rio, yang duduk bersila di lantai sambil nyender ke dinding, menyambung, “Ganjil karena semuanya terlalu... berhasil. Terlalu lancar. Seakan-akan... ada yang buka jalan dari dalam sistem.” Liora melirik. “Lo pikir ini jebakan?” “Mungkin bukan jebakan. Tapi bisa jadi... dorongan dari pihak lain. Pihak yang pengen kita bersih-bersihin jalan buat mereka.” Arka memijat pelipisnya. “S itu siapa? Dia kirim email ngancam, tapi juga... diam-diam kayak ngarahin.” Liora menyalakan rekaman suara anonim yang mereka dapat dari kontak lama Rio. Suara dalam rekaman itu perempuan—beraksen halus, tapi tiap katanya tajam. > “Kalau kalian pikir Keyla itu dalang, kalian keliru. Dia cuma pion dengan suara keras. Kekuatan asli datang dari mereka yang nggak pernah tampil. Mereka yang udah lama main di balik kampus, bukan di permukaan.” > “Dan salah satunya... mungkin kalian kenal baik.” Suasana membeku. Rio menutup matanya. “Lo tahu, beberapa bulan lalu, gue sempat ikutan proyek riset kampus. Gue ketemu dosen muda, namanya Adrian. Cerdas. Pendiam. Tapi punya akses aneh ke sistem administrasi. Waktu itu, dia pernah bilang ke gue, ‘Kalau lo mau tahu siapa yang punya kuasa, cari siapa yang bisa bikin satu mahasiswa bisa lulus dalam 5 semester tanpa pernah masuk kelas’.” “Dan?” “Gue kira itu cuma metafora.” Arka berdiri. “Kita harus nyari Adrian.” --- Minggu sore, di lantai tiga kantin kampus yang udah sepi, Arka dan Rio akhirnya ketemu Adrian. Dosen muda itu masih seperti dulu—berkacamata, berwajah datar, dan tak banyak bicara. Tapi ada tatapan lelah di matanya, seperti seseorang yang sudah menyaksikan terlalu banyak, tapi memilih diam. “Gue tahu kenapa kalian ke sini,” katanya tanpa basa-basi. “Kalian main api. Dan sekarang, apinya nyala terlalu terang.” Rio duduk tanpa izin. “Kami pengen tahu siapa yang main di balik semuanya. Siapa ‘S’. Siapa yang nulis email itu. Dan kenapa semua ini seakan diatur?” Adrian mengangkat alis. “Lo kira semua orang pengen lihat kebenaran muncul? Nggak semua.” “Terus kenapa lo nggak bilang dari awal?” potong Arka. Adrian tersenyum tipis. “Karena kalian perlu bukti. Dan kalian dapetin itu... tapi kalian lupa: bukti juga bisa digunakan.” Ia membuka tasnya, mengeluarkan map tipis. Di dalamnya, salinan transaksi kampus yang tak pernah dirilis publik. Termasuk nama dosen pembimbing ormawa... dan satu nama lain yang mengejutkan. “Ini?” Arka membeku. Liora yang baru datang langsung mengambil kertas itu. Matanya membelalak. “Bu Mirna?” bisiknya. “Pembina media kampus? Dia mentor kita sejak awal!” Adrian mengangguk pelan. “Dia bukan musuh. Tapi dia bukan sepenuhnya bersih. Dan... dia bagian dari ‘jaring’ yang jauh lebih luas. Sistem ini udah bertahun dibentuk. Kalian cuma ganggu permukaan. Tapi kalau kalian gali lebih dalam, kalian bisa lihat... akar dari segala pembusukan ini.” Arka menatap Adrian lama. “Lo bantuin kita?” “Gue bantuin kalau kalian siap jatuh. Karena kalau kalian terus naik... akan ada yang narik turun. Dan kadang, orang yang narik itu... orang yang paling dekat.” --- Malam itu, di kamar Liora, mereka bertiga duduk diam. “Jadi Bu Mirna tahu semua?” tanya Rio akhirnya. “Mungkin iya. Mungkin nggak. Tapi dia punya andil,” jawab Arka. “Gue nggak bisa percaya,” ucap Liora pelan. “Dia yang ngasih kita arah. Dia yang ngajarin nulis investigatif. Dia yang selalu bilang, ‘kebenaran itu suara paling lantang di ruang sunyi’.” Arka menggenggam jari-jari tangannya. “Kadang orang baik juga terseret arus sistem. Kita semua bisa jadi korban... atau pelaku, tanpa sadar.” Suara ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: > "Sudah saatnya kalian putuskan: kalian masih ingin jadi penonton? Atau siap disorot lampu panggung?” —S Liora menatap Arka. “Apa pun ini, kita udah nggak bisa mundur.” Arka menjawab pelan, “Nggak. Tapi mulai sekarang... kita main di medan yang beda. Lebih gelap. Lebih luas. Dan nggak ada yang bisa kita percaya sepenuhnya.” --- Bab ini ditutup dengan pertanyaan paling menakutkan: Siapa sebe narnya 'S'? Apakah ini permainan untuk kebenaran, atau hanya bidak dalam catur yang lebih besar? BAB 44 – Nama yang Tertinggal di Dinding Kampus terlihat tenang dari luar, seakan tidak pernah terjadi apa pun. Tapi bagi Arka, Rio, dan Liora, kampus itu bukan lagi sekadar tempat kuliah—ia telah berubah jadi medan perang. Perang yang tidak pakai s*****a, tapi luka batinnya lebih dalam dari tebasan. Pagi itu, mereka berdiri di depan dinding tua di lorong sempit lantai bawah gedung Fakultas Sastra. Dinding itu dikenal sebagai "Dinding Para Lulusan", tempat nama-nama mahasiswa berprestasi ditulis secara permanen sebagai bentuk penghargaan kampus. Tapi hari ini mereka melihat sesuatu yang aneh. Rio menunjuk sebuah nama yang baru ditambahkan. “Keyla Andharista – Lulus Dengan Kehormatan” Liora langsung menghela napas keras. “Baru kemarin dia diadili karena tuduhan manipulasi organisasi. Sekarang, dia malah dipuji?” Arka merapatkan jaketnya. “Ini permainan. Keyla dijadikan simbol kemenangan, tapi buat nutupin luka. Mereka butuh seseorang yang bersinar... agar orang lain lupa kegelapan di baliknya.” “Ini pencucian reputasi,” Rio mendecak. “Dan kita tahu siapa yang bisa bikin nama secepat itu dipajang di sini. Bu Mirna.” Mereka bertiga diam. Sampai Liora, yang paling idealis dari mereka, berkata dengan suara pelan, “Gue nggak mau percaya. Tapi semua jejaknya menuju dia.” --- Sore harinya, Liora diam-diam menemui Bu Mirna di ruangannya. Tidak ada yang tahu dia ke sana. Bahkan Arka dan Rio pun tidak. Ia hanya ingin satu hal: jawaban. Ruang itu sunyi. Bu Mirna duduk di balik mejanya, tampak tenang. Tapi mata Liora menatapnya dengan luka. “Bu... kenapa nama Keyla bisa ada di dinding?” tanyanya langsung. Bu Mirna tersenyum kecil. “Karena dia lulus, Liora. Sesederhana itu.” “Dia manipulatif. Dia biayain organisasi pakai dana gelap.” “Bukti resminya tidak pernah diajukan. Komite tidak menemukan cukup pelanggaran. Dan... kita tidak boleh menghukum orang karena gosip.” Liora menggigit bibir bawahnya. “Jadi... kita cuma diam? Biar semua yang kita perjuangkan kemarin jadi abu?” Bu Mirna berdiri, melangkah ke jendela. “Liora, hidup bukan cuma soal benar dan salah. Kampus ini punya sejarah. Dan kadang... sejarah itu butuh ‘tokoh positif’, walau yang diangkat bukan orang terbaik.” Liora menatapnya tajam. “Jadi semua ini... cuma narasi yang diatur?” “Sebut saja... strategi bertahan.” Kalimat itu membuat Liora mundur satu langkah. Suaranya gemetar. “Gue dulu percaya sama Ibu. Tapi sekarang... gue mulai ngerti kenapa semuanya terasa seperti sandiwara.” Bu Mirna menatapnya, tenang. “Kalau kamu nggak siap hidup di panggung, Liora... mungkin kamu belum siap untuk bicara soal perubahan.” --- Liora keluar dengan langkah gontai. Di tangannya, flashdisk kecil tergenggam erat. Bu Mirna, mungkin tak sadar, telah menjatuhkan sesuatu saat membuka laci tadi. Atau... mungkin dia sengaja. Di dalam flashdisk itu ada sebuah folder: “Aksen – 2020” Rio dan Arka menunggu di tempat biasa—di belakang perpustakaan kampus. Saat Liora menyerahkan flashdisk itu, mereka tahu, ini bukan data biasa. File itu berisi: Rekaman rapat dosen dan pengurus kampus yang membahas cara "mengatur" hasil pemilu ormawa. Transkrip percakapan mengenai penempatan mahasiswa tertentu untuk jabatan tertentu. Daftar dana sponsor dari perusahaan-perusahaan yang ternyata terhubung dengan mantan alumni—beberapa punya catatan korupsi. Tapi satu nama mencuat dari semuanya. “S” = Saka Fadillah Rio langsung berdiri. “Gila... ini... Saka itu... pendiri forum kampus kita yang dulu. Dia senior kita. Dia juga yang dulu ngilang secara misterius pas tahun keempat.” Arka menarik napas panjang. “Berarti dia balik. Tapi sekarang... main di balik layar.” Liora gemetar. “Dan dia... yang ngatur semua ini? Yang kirim email? Yang nyetir gerakan lewat kita?” Sunyi. Semua ingat Saka. Mahasiswa brilian yang idealis—yang pernah berkata di depan umum: > “Kebenaran itu bukan cuma untuk dimenangkan, tapi harus diwariskan.” Dan sekarang... dia yang jadi bayangan. --- Pukul 10 malam, Arka duduk sendirian di tangga kampus, ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. > “Jangan kaget. Gue cuma ngelanjutin perjuangan yang kalian mulai. Tapi dengan cara gue.” —S Lalu sebuah foto menyusul. Foto mereka bertiga—Arka, Liora, dan Rio—sedang berdiskusi di warung kopi tempo hari. > “Kalian diawasi bukan karena kalian berbahaya. Tapi karena kalian... berpotensi terlalu besar untuk dikendalikan.” Arka berdiri. Matanya tak berkedip. Dia sadar satu hal penting. Mereka bukan lagi mahasiswa biasa. Mereka sudah jadi bidak dalam permainan besar. Dan satu-satunya cara keluar dari permainan ini... adalah menjadi pemain paling licik. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN