BAB 61 – Rencana Terungkap Malam itu, suasana apartemen Rani terasa berbeda. Lampu-lampu temaram menerangi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang memperkuat keseriusan pertemuan mereka. Di tengah meja kayu yang penuh dengan peta kampus, dokumen-dokumen kecil, catatan, dan beberapa gelas kopi setengah kosong, tiga sahabat—Arka, Rani, dan Arman—berkumpul dengan raut wajah penuh tekad dan kekhawatiran. Arman membuka pembicaraan dengan suara mantap, meski ada sedikit getar yang tak bisa disembunyikan. “Kita nggak bisa terus jalan tanpa rencana yang jelas. Kita harus tahu kelemahan dia, bagian mana yang bisa kita manfaatkan. Kalau kita cuma mengandalkan emosi dan rasa sakit hati, bisa-bisa kita malah yang jadi korban.” Rani mengangguk pelan, sambil menatap dokumen yan

