11. Adek Kelas Halu

2441 Kata
CHAPTER 11: ADEK KELAS HALU Raina membuka matanya perlahan, aroma khas minyak kayu putih menyeruak masuk ke indra penciumannya. Kepalanya masih terasa berdenyut, akibat hantaman bola yang cukup keras tadi. "Ra? Gimana? Masih pusing?" tanya Alen dengan lembut, cowok itu sedari tadi menemani Raina disini, ia juga yang menggendong Raina sampai ke UKS. Dan, kalian tahu bagaimana reaksi teman-temannya yang menyaksikan? Heboh semua. Apalagi para penggemar Alen, mereka berteriak histeris karena iri pada Raina yang bisa berada didalam gendongan Alen. "Lumayan, tadi kamu yang bawa aku kesini?" tanya Raina. Alen mengangguk, "Iya, yakali gue ninggalin lo disana," Alen terkekeh. "Hah? Berarti banyak yang ngelihatin dong?" tanya Raina, wajahnya berubah panik bercampur malu. "Ya iyalah, semuanya pada teriak-teriak gak jelas, aneh." balas Alen. "Aduh!" Raina menepuk jidatnya pelan, membuat Alen mengerutkan keningnya. "Kenapa Ra?" "Eum..nggak papa kok. Makasih ya Len.." ucap Raina sambil tersenyum ke arah Alen. "Iya sama-sama," balas Alen sambil tersenyum juga. Tiba-tiba saja ada Devan dan Via yang  baru sampai didepan pintu UKS, mereka akhirnya masuk dan menemui Alen serta Raina. Devan membawa segelas teh hangat yang ia beli dikantin barusan, karena ia berniat untuk bertanggung jawab, karena ketidak-sengajaannya mengenai Raina bola basket. "Nih Ra, gue bawain lo teh anget, supaya pusing lo berkurang, dan--maaf ya buat tadi, gue bener-bener nggak sengaja dehhh suwer!" ucap Devan sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya, membentuk huruf V. "Iya Van, nggak papa," balas Raina. "Makasih juga teh nya." "Oke." "Selamet aja gue gak dihajar sama Alen gara-gara gak sengaja nimpuk bola ke lo." ucap Devan sambil melirik ke arah Alen yang tengah duduk dikursi. Raina terkekeh mendengarnya, "Gak mungkin Alen ngehajar kamu cuma gara-gara aku Van," "Gak mungkin apanya? Alen kan sayang sama lo Ra!" seru Devan membuat Alen melotot kearahnya. "Apaan dah lo?!" tangkas Alen merasa kesal. Raina yang melihatnya hanya terdiam menatap Alen, lalu menatap langit-langit ruangan. "Ya udah, kalian berdua gak mau ke kelas nih? Habis ini pelajarannya Bu Yuni, biar gue aja yang nemenin Raina disini," ujar Via yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. "Aduh males banget gue masuk ke kelas," ucap Devan. "Sama, bolos aja kuy Van?" hasut Alen. "Heh jangan! Ntar kalian dihukum lagi mau?" Raina mengingatkan kedua temannya itu. "Males Ra masuk kelas, ngantuk mulu." jawab Alen. "Jangan Len. Ganti seragam dulu terus langsung masuk kelas." ucap Raina mencoba membujuk. "Udah Len, ngikut apa kata Neng Raina aja, sekali-kali jadi anak rajin!" kini Devan menimpali. Alen nampak berfikir sebentar, "Oke, gue masuk ke kelas. Lo istirahat aja dulu disini, nanti kalo udah baikan baru balik ke kelas," kata Alen yang kini sudah berdiri, dan mengusap rambut Raina. Raina yang diperlakukan seperti itu langsung menahan napasnya, ia malu bukan main. Sedangkan Devan dan Via yang ada disini hanya saling melempar pandang. "Cieeee! Ini kayaknya ada bau-bau mau jad-" "Bacot lo! Skuy balek!" pungkas Alen, sebelum Devan melanjutkan kata-katanya. "Vi, jagain Raina gue ya? Jangan sampe dia sendirian disini," ujar Alen pada Via yang berdiri disebelahnya, ia berkata seakan-akan Raina itu adalah miliknya dengan kalimat 'Raina gue'. "Iya Len." Setelah itu, Alen dan Devan pun pergi dari UKS. Mereka bergegas ke toilet untuk berganti pakaian sebelum masuk ke dalam kelas. Via duduk dikursi yang ditempati Alen tadi, cewek itu menatap Raina dengan serius. "Ra? Lo ada apa sama Alen?" tanyanya dengan tampang penasaran. "Ha? Ada apa gimana maksudnya?" "Ya, lo itu punya hubungan ya sama Alen?" tebak Via. "Eh, nggak kok. Aku sama dia cuma temenan biasa." balas Raina. "Masa?" Via memicingkan matanya, menatap Raina penuh dengan tatapan menyelidik. "Ih! Iyaaa Piaaa! Kenapa sih?" Raina risih sendiri. "Soalnya Alen itu gak pernah se sweet itu sama cewek, dua tahun gue sekelas sama dia, bolak-balik gue liat dia deket sama cewek-cewek cantik dan hits, tapi gak pernah semanis itu perlakuannya, semua yang dia lakuin ke lo sama ke cewek-cewek lain itu kesannya beda Ra," ujar Via. "Dan for your information ya, si Alen itu anaknya bandelnya naudzubillah kan? Dia itu susah buat diatur, tapi seketika aja pas lo bilangin dia buat gak bolos jam pelajaran tadi, dia langsung nurut gitu aja? Wih lo keren banget Ra!" takjub Via. "Cewek-cewek yang pernah deket sama dia juga pada gak berani buat larang-larang dia kayak lo tadi," lanjutnya. "Emangnya aku tadi ngelarang dia?" tanya Raina. "Iya Ra! Tadi kan lo bilang 'jangan Len' gitu kan, itu kan kalimat larangan, dan lo sama aja udah ngelarang Alen tadi," balas Via. Raina terlihat sedang berfikir, dan benar juga. "Jadi nih kalo kayak gini. Gue mah dukung hubungan lo sama Alen Ra! Soalnya pasti perlahan-lahan lo bisa rubah perilakunya dia yang urakan!" ucap Via terlihat bersemangat. "Ih apaan sih Vi..." Raina memukul tangan Via pelan. ✨✨✨ "Devan!" panggil Raina sambil berlari ke arah Devan yang ingin masuk ke ruang musik. "Oyy Ra! Kenapa? lo udah sehat?" tanya Devan saat Raina sudah ada dihadapannya. "Udah kok. Aku kesini mau ngobrol sebentar sama kamu," ucap Raina. "Ohh ayo, mau dimana? Tapi-- cuma sebentar doang nih? Lama juga gak papa kok Ra," Devan tertawa. Raina juga ikut tertawa, "Disini aja," "Yaudah, gimana?" "Eum...kamu tau nggak kenapa Alen suka berantem sama buat masalah? Mama sama Papa nya emang gak ada dirumah? Atau---" "Alen itu anak broken home Ra, Mama sama Papa nya cerai waktu dia masih kelas 8 SMP. Dulu Alen nggak sebandel  ini, dia nurut apa kata orang tua, guru, gak kayak sekarang, cuma untungnya aja otaknya yang pinter itu gak ilang," ucap Devan. "Terus? Dia tinggal sama siapa sekarang?" tanya Raina yang penasaran. "Sama bokapnya, tapi Alen nggak pernah nganggep Papa nya ada, bahkan setiap Papa nya mau nasehatin dia aja gak sempet, karena Alen udah menghindar duluan," "Mama nya tinggal dimana? Emangnya gak pernah jengukin Alen?" "Mama nya tinggal dirumah orangtua nya, sama Oma nya Alen. Mama nya jarang jengukin Alen, katanya sih gara-gara nggak pengen ketemu sama mantan suaminya itu, gak tau deh kenapa." Devan berucap dengan suara pelan, kini ia seperti merasakan tidak enaknya hidup yang Alen jalani. Alen sendiri pernah cerita pada Devan, buat apa ia lahir dari orang kaya dan berkelimpungan harta, tapi keluarganya tidak bisa utuh seperti keinginan Alen. Maka dari itu Alen tidak pernah betah jika dirumah, ia selalu pergi dan keluar malam untuk ke club, balapan, dan ngafe bersama teman-temannya. Raina terlihat diam dan berfikir, membuat Devan menegurnya, "Dan kenapa lo tiba-tiba nanya tentang Alen?" Raina tersadar, "Ohh itu--aku cuma pengen tau tentang Alen aja," "Yakin? Atau jangan-jangan lo suka lagi sama Alen, iyakan? Hayo Ra ngaku!" tuding Devan sambil menunjuk-nunjuk wajah Raina, membuat gadis itu salting. "Apaan sih! Gak kok. Ya udah, makasih ya Devan, aku mau balik ke kelas dulu." ✨✨✨ Raina turun ke lantai bawah dengan piyama bergambar doraemon nya, rambutnya yang tergerai masih terlihat setengah basah karena ia habis keramas tadi. Ia datang dan menghampiri Mama nya yang tengah asik menonton drama korea favoritnya.  "Hallo Ma," sapa Raina pada Cherry. "Eh, hallo sayang, sini ikutan nonton drakor bareng Mama," ajak Cherry sambil merangkul hangat putrinya itu. "Mama mah drakor mulu, nggak mau kalah sama Rara," balas Raina sambil mengambil posisi tidur dan paha Cherry ia jadikan bantal. Fyi, Rara itu nama panggilannya Raina juga, biar lebih singkat juga ngetiknya. "Mama kan udah suka drakor dari dulu sayang. Kamu itu nurun sama Mama, suka korea kan kamu? Suka BTS, BLACKPINK, EXO, terus apa lagi itu?" tanya Cherry terlihat sedang berfikir. "IKON? TWICE? iya-iya semuanya aku suka," balas Raina. "Terus, bias kamu siapa?" tanya Cherry sambil memperhatikan layar televisi dan mengelus rambut Raina. "Kim taehyung sama Jimin dong jelas, kalo yang lainnya itu selingkuhan aku," ucap Raina dengan polosnya membuat Cherry tertawa mendengarnya. "Nggak boleh selingkuh-selingkuh kayak gitu sayang, harus satu. Terus bias kamu disekolah siapa?" tanya Cherry seperti menggoda. Raina yang tadinya sudah hampir masuk kedalam alam drakor kini langsung terkejut dan mendongak menatap Cherry. "What? Bias disekolah? Rara gak punya Ma." "Masa sih? Jangan bohong-bohong sama Mama. Kamu kalau ada apa-apa bebas cerita ke Mama, jangan ditutupin ya?" "Iya Maaa. Tapi sekarang Rara emang lagi gak ada bias, tapi mungkin eum---" "Apa?" "Deket tapi cuma temen gitu, dia baik sama Rara," ucap Raina. Cherry manggut-manggut, "Ohh..jadi Rara suka?" "Enggak Ma!" elak Rara. Cherry terkekeh, "Emang selain baik dia kaya gimana?" "Dia pinter, ganteng sih tapi tetep cakep taehyung, famous Ma, banyak perempuan yang suka sama dia, jago karate, but----" Raina menggantungkan ucapannya. "But? Tapi apa?" "Eum..dia itu bad. Mama jangan marah ya kalo aku temenan sama dia," pinta Raina memelas. Cherry tersenyum hangat, membuat siapa pun yang melihatnya langsung merasa tenang, "Mama nggak ngelarang kamu buat berteman sama siapa aja sayang, yang penting dia baik dan nggak jahat sama kamu," ucap Cherry membuat Rara langsung tersenyum. "Dulu Papa itu nakal ga sih Ma?" Rara bertanya dengan penasaran. "Ehm..Papa kamu itu suka banget berantem sama siapa pun yang udah ngusik dia, bisa dibilang berantem itu udah kayak rutinitas." balas Cherry. "Terus Mama kenapa bisa suka sama Papa?" tanya Rara semakin memperdalam, sehingga drakor yang ada ditelevisi dianggurkan begitu saja. "Sebenernya Mama itu dulu gak pernah akur sama Papa kamu, selalu beranteeemmm terus setiap hari, udah kaya tom and jerry versi manusia, gitu sih katanya temen-temen Mama dulu," Cherry terkekeh mengingat kisah SMA nya dulu bersama Arka. "Oh yaaa? Wihhh keren banget! Terus pasti karena sering berantem jadinya Mama sama Papa saling suka, iyakaaannnn?" tebak Rara sambil tersenyum menggoda. "Udah-udah ah. Jangan bahas itu," Cherry menghentikan ceritanya, bertepatan saat itu Raka turun dan menuju dapur untuk mengambil air dingin didalam kulkas. Raka menenggak air segelas sampai habis, tenggorokan yang tadinya kering langsung segar seketika. Ia pun langsung berjalan mendekati Cherry dan Raina, duduk di single sofa. "Raka, kamu udah mandi belum?" tanya Cherry. "Udah Ma," balas Raka sambil melirik ke arah Raina yang enggan melihatnya. "Ra?" panggil Raka, membuat Raina hanya berdehem. "Masih marah?" tanya Raka, membuat Cherry langsung memberikan tatapan bertanya-tanya pada kedua anaknya. Rara yang masih setia tidur dipaha Cherry itu pun tak mengindahkan pertanyaan Raka, ia hanya memutar bola matanya malas sambil menatap ke arah televisi. "Kalian kenapa hm? Lagi marahan?" tanya Cherry pada kedua anaknya. "Enggak kok Ma, Rara lagi males aja," jawab Raina. "Kenapa Raka?" tanya Cherry pada Raka yang juga tengah melihat Mama nya. "Kemarin Rara pergi---" ucapan Raka terpotong saat Rara tiba-tiba bangun dan berdiri. "Rara mau ke kamar dulu Ma, nanti kalo Papa dateng kasih tau ya," ucap Rara dan langsung pergi meninggalkan Mama dan Kakaknya, sebelum itu Rara melirik kearah Raka dengan tatapan tidak suka. ✨✨✨ "Len, anak SMA Buana nantangin kita buat tanding basket, katanya mereka gak terima kekalahan mereka yang kemarin," ucap  Yuda, salah satu teman kumpul Alen. "Dimana mereka ngajak tanding?" tanya Alen sambil menghisap rokok eletriknya yang variant buah-buahan. "Di Gor Lumintang, besok sore sepulang sekolah," jawab Yuda. Alen mengepulkan banyak asap ke udara, membentuk bulatan-bulatan dan beberapa bentuk yang keren lainnya, "Oke, terima! Gue gak pernah nolak pertandingan," balas Alen lugas. "Oke siap!" Drttt drttt drttt Ponsel milik Alen berdering, menandakan telpon masuk, ia segera merogoh saku celananya, dan melihat nama yang tertera disana. Papa is calling... Alen berdecak, ia enggan mengangkat telepon dari ayahnya itu, karena ia sudah tau, pasti ayahnya akan menyuruhnya untuk cepat pulang. "Siapa Len?" tanya Devan yang baru duduk disebelah Alen. "Bokap." "Angkat napa sih, lo tuh yak!" timpal Devan. Lagi-lagi ponselnya berdering, Alen hanya menatapnya malas, ia pun langsung menggeser ke tombol merah, dan langsung mematikan ponselnya. "Astagfirullah! Bokap lo itu Len! Main di reject aja ni bocah!" timpal Devan lagi. "Bodo amat, cuma sok peduli aja dia," balas Alen cuek. "Jangan gitu Len, lo itu harusnya bersyukur masih bisa ngerasain ke peduliannya orangtua lo, sekali-sekali lah lo itu nurut sama apa katanya mereka, apalagi bokap lo yang selalu nasehatin lo. Gue aja pengen kayak gitu, lama udah gak ngerasain kasih sayang dari bokap." ucap Devan terdengar sendu, memang Devan ini adalah anak yatim, ia kini hanya tinggal berdua dengan Bunda dan adiknya yang masih SD. Alen memperhatikan sahabatnya itu dengan tampang yang prihatin, ia mengerti perasaan Devan seperti apa, namun seperdetik kemudian Devan langsung tertawa renyah berusaha memecah ke awkward an mereka. "Ya udah selow kali! Lo mah gak nyante liatin gue nya! Gue gak kenapa-napa." ucap Devan sambil memukul bahu Alen. "Sorry ya Van kalo sikap gue ke bokap bikin lo jadi inget sama ayah lo," ujar Alen merasa tak enak hati. "Yoi gak papa! Gue juga bisa ngertiin lo kok." ucap Devan, dan Alen pun langsung tersenyum. ✨✨✨ "KAK ALEN! YAAMPUN KAK, AKU TADI NGASIH KAKAK COKLAT LOHHH! AKU TARUH DIBAWAH MEJA!" "Tapi tadi udah banyak yang naruh coklat sama surat disana, jadi aku pindahin ke laci mejanya Kak Devan, terus punya aku jadi spesial ada dilaci Kak Alen sendiri!!" "JANGAN LUPA DIMAKAN YA KAK! ITU ENAK BANGET LOHH GAK BOHONG! COKLATNYA MANIS BANGET KAYAK KAK ALEN!!" "Kak! Kak! Kak? Dengerin aku gak sih? Dari tadi aku ngomong loh!" seru gadis bermata belo dengan bando kuning nyentrik dirambutnya. "Lo siapa sih? Sok kenal banget." ucap Alen yang akhirnya berhenti berjalan dikoridor, ia menatap gadis itu dengan tatapan yang tegas namun teduh, karena gadis itu sudah nyerocos dan mengikutinya sejak Alen masuk ke dalam lobby tadi. "Hehehehe maaf Kak, yaudah kenalin nama aku--" gadis itu mengangkat tangan kanannya. "Alen! Nanti jadi latihan karate atau nggak?" tanya Raina yang tiba-tiba datang dari arah kanan, gadis itu nampak cantik hari ini, dengan seragam batik kebanggaan SMA Galaksi, dan juga jepit mutiara yang bertengger dirambut bagian samping. Alen terpana melihatnya, bahkan ia sedari tadi tak berkedip, membuat Raina dan adik kelas yang ada disebelahnya menatapnya. "Aleeeen? Kamu kenapa?" tanya Raina membuyarkan keterpanaan Alen. Alen langsung gelagapan sendiri, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ehh gak papa kok Ra, lo cantik banget hari ini, sampe terpana gue liatnya," kekeh Alen, dan langsung membuat pipi Raina bersemu merah. "Apaan sih!" Alen hanya tertawa, tawa yang sangat renyah, sampai kedua matanya itu tertutup hingga segaris, membuat siapa pun yang melihatnya langsung terpikat oleh tawanya itu. "Tadi nanya tentang latihan kan? Sorry ya Ra, nanti gak bisa latihan, nanti gue ada tanding basket di Gor." kata Alen berucap dengan halus. Raina nampak menurunkan bahunya, "Ya udah kalo gitu, gapapa." "Gausah sedih Ra! Gue gak bakalan hilang di Gor." Alen terkekeh dengan ucapannya sendiri. "Apaansih gak jelas banget!" Sedangkan gadis yang berpredikat sebagai adik kelas Alen dan Raina itu, kini hanya diam menyaksikan perbincangan hangat antara mereka. Ia menunduk, menatap tangan kanannya yang hampa dengan nanar, dan berjalan menjauhi mereka, ia ber-angan jika ia bisa diperlakukan seperti itu oleh seorang Alen. Tapi mungkin itu hanyalah halu. - Senyumanmu...yang indah bagaikan candu, ingin trus ku lihat walau dari jauh. Ada yang halu tapi bukan Febby Putri:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN