Lima Belas

1396 Kata
Sekitar jam enam pagi, pintu gerbang SMA Budi Perwira masih tampak begitu sepi. Hanya satu dua orang yang terlihat baru datang. Padahal waktu masuk sekolah itu jam setengah tujuh. Namun sudah jam enampun para siswa belum banyak yang datang. Dengan motor satria-f berwarna hijaunya, Reza memasuki gerbang sekolahnya itu. Di parkirnya motor semata wayangnya itu. Lalu Reza pun melepaskan helmnya. Tak ingin berlama-lama di parkiran, Reza pun langsung berjalan menuju kelasnya. *** Sesampainya Reza di pintu kelasnya, Reza pun dengan segera memasuki kelasnya. Kepala Reza melirik pada sebuah jam dinding yang tergantung di depan kelas. Ia mendengus sebal. "Huhh, kebiasaan anak sini. Demen banget dateng telat." Dengus Reza sendiri. Reza pun langsung berjalan kearah bangkunya yang berada di sudut kelasnya itu. Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki seseorang yang hendak memasuki kelas ini. Reza pun melirik sekilas pada pintu kelasnya. Ternyata disitu ada Wulan yang baru datang. Sama seperti yang di lakukan Reza, Wulan pun berjalan menghampiri tempat duduknya. "Wulan!" Entah ada angin apa, tiba-tiba Reza berjalan menghampiri tempat Wulan. Wulan yang baru saja menaruh tas di mejanya itupun menengok. "Ehh, Reza? Kenapa?" Wulan menyapa Reza balik, sambil menatap Reza bingung. Karena tak biasanya Reza memanggil Wulan. "Enggak, mau ngobrol aja. Abis masih sepi." Reza pun duduk di bangku sebelah Wulan. Wulan menganggukkan kepalanya sambil mulutnya membentuk huruf O. "Ohh iya, Lan. Gue boleh nanya nggak? Boleh ajadeh! Lo pacaran sama Rino ya?" Dengan aksen bicaranya, Reza bertanya namun seolah menjawab sendiri. Wulan sedikit terkekeh mendengarnya. "Ck! Elo yang nanya, elo yang jawab. Haha! Enggak kok. Kenapa emang?" "Masasih? Tapi anak-anak pada bilang gitu." Seakan masih penasaran, Reza pun bertanya kembali. "Inikan hidup gue, bukan hidup anak-anak." Saut Wulan santai. Reza terdiam sejenak, memang benar yang di katakan Wulan. Ini memang hidupnya, bukan hidup anak-anak. "Iyasih. Tapi, elo juga bilang kalo lo pacaran sama Rino." Setelah terdiam sejenak, Reza kembali memastikan soal hubungan Wulan dengan Rino. "Masasih? Kayaknya gue cuma bilang itu ke satu orang deh. Dan gue rasa elo kenal orangnya." Wulan tersenyum pada Reza. Reza yang kikuk karena mengerti maksud Wulan pun langsung menggaruk tengguknya yang tak gatal. "Ohh gitu. Ehh berarti, lo nge-php ini Rino dong?" "Nggak juga ahh." Reza yang mendengar jawaban Wulan yang singkat lagi-lagi terdiam. Bingung harus bertanya apa lagi? "Nih dengerin ya, anak-anak emang taunya gue pacaran sama Rino. Tiap kali mereka nanya gue cuma senyum aja, tapi gue gak bilang iya loh. Cuma elo satu-satunya yang tau kalo gue nggak pacaran sama Rino." Tanpa disangka Reza. Ternyata Wulan malah bercerita padanya. Reza pun kini langsung menoleh seketika Wulan selesai bicara. "Cuma gue?" Reza menatap Wulan bingung. Wulan hanya mengangguk disertai senyumannya. "Iya cuma elo. Gue tau gue gak akrab sama lo. Tapi gue percaya kok sama lo." "Kenapa Bisa gitu?" Dahi Reza kini berkerut, semakin bingung dengan omongan Wulan. "Karena adek gue percaya sama elo." Wulan nyengir kuda, sambil menunjukan gigi puthnya. Reza hanya tersenyum kecut menatap Wulan. Pagi-pagi gini Wulan sudah ingin membahas 'hal itu' nanti Reza malah flashback lagi deh. "Oh iya, denger-denger, malem jumat lo mau nonton?" Tak kehaBisan akal, Reza bertanya lagi. Berusaha mengorek lebih dalam tentang Wulan demi sahabatnya itu. Namun dengan senantiasa Wulan terus menjawabnya. "Iya." Jawab Wulan singkat. "Film apa? Jam berapa?" Lagi! Reza terus bertanya lagi pada Wulan. Andai saja Reza bertanya seperti ini pada Alfi, mungkin Alfi sudah menyemprotnya 'KEPO' "Jam delapan, nggak tau deh. Gue sih ngikut Rino aja." Wulan menjawab sambil terkekeh melihat Reza bagaikan wartawan ini. Sejujurnya Reza malu juga bersikap seperti ini. *** Malam yang di tunggu-tunggu pun tiba, malam jumat. Malam yang sedang trend di kalangan remaja ini, yang akan di pakainya untuk nonton. Di depan bioskop XXI, Alfi dan Refal berdiri sejajar. Sepertinya mereka sedang menunggu Satheo dan Reza yang kebetulan ingin mengikuti Wulan. Jadi, kebeneran deh. Malah bareng sama kencan pertama Refal dan Alfi. Kira-kira ganggu nggak sih? Tapi Refal bilang, biasa aja. Mata Alfi kini menengok kanan kirinya, mencari kedua makhluk yang katanya mau ngebuntutin acara nontonnya Wulan. Tapi Satheo dan Reza sampai saat ini belum juga datang. Tak lama kemudian, dari kejauhan terlihat Satheo, yang memakai kaos berwarna putih, di balut jaket bahan berwarna hijau, datang menghampiri Alfi dan Refal. Namun sepertinya tak ada Reza di sebelah Satheo. Pletakk!! Sebuah jitakan kecil langsung mendarat di kepala Satheo, menyambut kedatangannya. Refleks Satheo langsung memegangi kepalanya yang di jitak Alfi. "Aww!! Ehh sial, apa-apaan lo maen jitak gue aja?!" Satheo meringis kesakitan, sambil mengomeli Alfi yang tiba-tiba menjitaknya. "Elo kelamaan, Kunyuk! Belahan jiwa lo udah dateng dari tadi!" Jawab Alfi sekenanya. "Fi! Jaga omongan Bisakan? Lo kan cewek, gak usah brutal banget kali kalo ngomong." Tegur Refal saat mendengar Alfi yang berbicara seucapnya saja. Alfi hanya terdiam. "Mampus! Omelin aja tuh Fal! Skut kan lo, bukan gaplokin aja bolak balik!" Satheo menambahkan, memanas-manasi Alfi. "Reza mana?" Dengan segera Alfi mengalihkan pembicaraannya, mencari sosok Reza yang sedari tadi tidak kelihatan. "Tadi sendalnya putus, jadi dia mau nyari sepatu dulu katanya." "Putus? Emang dia pake sendal jepit?" Dahi Alfi berkerut bingung, saat Satheo menjelaskan tentang Reza. "Kepo! Udelah ayuk masuk." Satheopun langsung menarik tangan Alfi, yang kebetulan sedang menggandeng Refal. *** "Ish! Itu apa-apaan sih, nggak usah pegang-pegangan kek. Lebay lo ahh!" Satheo mengoceh sendiri di dalam bioskop tersebut. Entah ia mengoceh tentang filmnya atau karena yang lainnya? "Satheo heboh ihh! Film nya biasa aja juga, dramatis! Gak ada action sama sekali, selera Rino ancur nih!" Alfi yang tepat berada di sebelah Satheo pun ikut mengoceh, karena sedari tadi Satheo tak Bisa diam. Sudah ngedumel melulu, ngambilin popcorn Alfi terus pula. "Bawel lo! Itutuh liat, si Wulan dempet banget ama Rino. Kesel kesel gue timpuk sih!" Satheo merauk sebagian popcorn milik Alfi, lalu melemparkannya kearah Wulan-Rino. Namun nasib baik belum berpihak pada Satheo, bukannya kena Rino, popcorn tersebut malah mengenai orang lain. Sontak orang itupun menoleh dan menatap sinis pada Satheo. Tapi Satheo malah berlagak pura-pura gak tau. "Maaf ya, Mbak. Temen saya orang kaya soalnya, popcorn bukannya dimakan malah di buangin." Kedua telapak tangan Reza di tempelkan, membentuk seperti memohon. Lalu kemudian menoyor kepala Satheo yang berada di sebelahnya. Orang yang tadi terkena popcorn hanya mengangguk lalu terfokus lagi menonton. *** Perlahan, kedua tangannya di dekatkan pada tangan lawan jenisnya, yang tepat berada di hadapannya. Lalu ia pun menggenggam erat tangan cewek tersebut. Ia menarik nafas panjang, meyakinkan dirinya untuk segera berbicara. "Lan, gue nggak ngerti. Hubungan kita ini sebenernya gimana? Anak satu sekolah taunya kita udah pacaran, tapi kenyataannya elo belom nerima gue juga kan?" Rino memulai pembicaraannya, sambil tangannya masih menggenggam tangan Wulan. Dari arah yang berlawanan, di sudut cafe tersebut. Mata Satheo terlihat memanas. Memang suara yang terdengar agak samar-samar, namun masih Bisa terdengar apa yang di ucapkan mereka. "Untuk kesekian kalinya, gue akan nyatain ini lagi. Gue sayang sama lo, cinta sama lo, suka banget sama lo, please.. Kali ini terima gue, gue capek di php ini kayak gini." Mata Rino menatap mata Wulan begitu dalam. Mata yang sudah berkaca-kaca itu. Tak kuasa menatap Rino, Wulan pun menunduk. Benar! Rasa itu sama sekali tak ada untuk Rino, namun Wulan pun semakin lama tak tega membiarkan Rino terus di permainkan olehnya sendiri. "Enggak!! Bilang enggak, Lan! Please.." Batin Satheo seolah berteriak, memBisikan kata tidak untuk Wulan. Mata Satheo terus menatap mereka, berharap agar Wulan tak mengatakan iya. "No, gue enggak.." Wulan menarik nafasnya panjang. Namun dari tempat duduknya, Satheo menarik nafas lega mendengar Wulan berkata Enggak. "Gue emang nggak Bisa terus php ini lo, maka detik ini, gue mau jadi pacar lo." Jedarrr... Hati Satheo yang semula mulai lega justru kini serasa tersambar petir. Matanya semakin memanas, beriringan dengan ucapan Wulan yang menjawab Rino. Dadanya terasa sesak, detak jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Prangg... Gelas yang berada di mejanya itu langsung pecah, seketika Satheo mendorong bangkunya kebelakang, dan langsung pergi tanpa sadar ternyata ia menyenggol gelas. Alfi yang kebetulan satu meja bersama Satheo, langsung terkejut. "Satheo kenapa?" Alfi menatap Reza dan Refal secara bergantian. "Wulan nerima Rino." Jelas Reza. Dengan segera Alfi pun berdiri, hendak berlari mengikuti Satheo. "Fal, gue pulang sama Satheo. Nanti lo anter Reza aja, dia gak bawa motor!" Alfi langsung berlari setelah berpesan pada Refal. Wulan yang mendengar bunyi pecahan gelas pun sontak menengok. Wulan terperangah melihat Satheo yang tadi berlari dengan wajah kecewanya. Ia tak menyangkau ternyata ada Satheo disitu. "Satheo.." Batinnya memanggil lirih nama Satheo, seakan ingin menangis, tentang kebohongan perasaannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN