Matahari tampak sudah begitu terik menyinari bumi. Cahayanya perlahan menyusup masuk kedalam sebuah kamar gadis SMA yang masih berkutat dengan selimut dan bantal gulingnya. Alfi sama sekali tak memperdulikan teriknya sinar matahari yang mengganggu ketenangan tidurnya, serta jam weeker yang telah berkali-kali menyala, dan teriakan-teriakan sang Mama dari bawah.
Alfi tetap saja pada posisinya, tertidur nyenyak seolah tak terjadi apapun. Entah ia sedang terlalu asik dengan mimpinya, atau memang kelelahan. Yang jelas Minggu Pagi ini Alfi belum melakukan aktifitas apapun. Jelas! Bangus saja belum.
Ceklekk.. Handel pintu kamar Alfi seakan ada yang memutar, sesaat pintu itupun terbuka. Dengan mengendap-endap, Satheo memasuki kamar Alfi, berusaha untuk tidak di ketahui Alfi. Satheo pun melangkah menuju tempat tidur Alfi, lalu Satheo mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya, dan langsung di jejelin ke hidung Alfi. Hidung Alfi seakn bergerak, mencium bau yang begitu tepat berada di depan hidungnya, bau yang begitu menyengat alat inderanya.
"A..aapaan nih?" tanya Alfi masih dengan mata terpejam. Perlahan Alfi pun membuka matanya, tiba-tiba saja perutnya seakan mual saat baru bangun tidur.
"AAAAA.." Alfi berteriak histeris ketika melihat Satheo menenteng sesuatu benda kecil, dan di pajang di depan wajah Alfi yang masih polos tersebut. Alfi pun langsung berlari menuju kamar mandi di kamarnya, di putarnya keran westafelnya itu.
"Uwek, uwek, uwek," suara mual Alfi yang begitu kencang ternyata terdengar jelas di telinga Satheo.
"Hahaha, lebay lo sama terasi aja ampe muntah-muntah begitu?" cibir Satheo yang sedang duduk di tepi ranjang Alfi.
"Uwek, uwek." Alfi pun dengan segera langsung berkumur-kumur dan mengusap wajahnya dengan air.
"Sial lo, Sat. Sumpah itu eneg banget, jauhin kagak!" Alfi berjalan keluar dari kamar mandi sambil memegangi hidungnya. Satheo menggeleng sambil tersenyum jail, tangannya seakan melayangkan terasi tersebut dan di takut takuti pada Alfi.
"Kalo gue gak mau, emang lo mau apa?" Satheo menyeringai jail menatap wajah Alfi yang ketakutan.
"Gue laporin polisi! Satheo jauhin udahan ahh! Atau gue teriak nih."
"Dari tadi lo udah tetereakan, Fi. Gak bakal nolongin bonyok lo juga." Satheo semakin tersenyum jail pada Alfi.
"Sat, plis jauhin terasinya ahh!" wajah Alfi masih terlihat panik, tangan kanannya masih memecet hidungnya.
"Tapi bantuin gue ya?"
"Bantu apa?"
"Udah iya dulu, nanti baru gue awasin nih teras!"
"Yaudah iya!" Alfi pun akhirnya mengangguk pasrah karena ulang Satheo ini. Satheo tersenyum penuh kemenangan pada Alfi, sedang Alfi hanya menatap Satheo kesal, karena perutnya masih mual gara-gara terasi tersebut.
***
Senin pagi, merupakan awal aktifitas bagi para pelajar untuk berangkat ke sekolah. Di depan pintu rumahnya, Alfi tampak berdiri sambil memainkan BBnya. Sambil sesekali menoleh kanan-kirinya, menanti seseorang yang katanya hendak menjemputnya.
Mata Alfi berbinar ketika ia menoleh pada arah kanan terlihat sebuah motor yang sudah sangat di kenalnya itu melaju kearahnya. Motor itupun terhenti di depan Alfi, lalu si pengendara pun membuka helm nya.
"Cepet naik." perintah Refal singkat. Alfi hanya menurutinya dan langsung naik kemotor Refal.
"Jalan." Alfi menepuk pundak Refal mengisyaratkan untuk menjalankan motornya. Refal pun langsung meng-gas kembali motornya. Motor ninja itu melesat, meninggalkan komplek perumahan Alfi. Kedua remaja SMA itu tampak berseri sepanjang perjalanan.
***
Setibanya di sekolah Refal pun memarkirkan motornya. Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju kelasnya. Hingga akhirnya di pertigaan koridor mereka berpisah. Alfi pun melangkah menuju kelasnya. Setibanya di kelas Alfi hanya menemukan beberapa anak yang baru datang. Satheo pun belum datang.
Terus Alfi mau ngapain kalo Satheo belum datang? Karena pasalnya hingga detik ini Alfi sama sekali tidak akrab dengan teman sekelasnya. Di sekolah ini Alfi hanya akrab dengan Satheo, Reza, dan kekasihnya Refal.
"Ke kantin ajadeh, laper." tanpa menaruh tasnya, Alfi memutar langkahnya, berbalik kembali pada pintu kelas. Lalu berjalan meuju kantin.
***
Suasana hening seakan menjadi baground koridor lantai dua sekolah Budi Perwira ini. Meskipun terlihat banyak siswa berlalu lalang, namun tak dapat mengubah keheningan di tempat ini. Refal menatap asal kearah lapangan yang terletak di bawah, melalui balkon di koridornya itu.
Tatapannya begitu datar, tak tertuju pada siapapun. Tiba-tiba saja Refal teringat kejadian kemarin malam, saat ia menemukan sesuatu di balik pohon. Siapa sebenarnya dia? Falel terus berpikir keras, apakah akalnya sudah tidak sehat sehingga halusinasinya terlalu tinggi?
"Tuh kan!" mata sipit Refal seketika membesar, memperjelas penglihatannya. Refal menatap kearah bawah tak percaya, mungkinkah ini halusinasinya lagi? Untuk kali pertama di kesempatan ini, Refal mengucek matanya, memastikan apakah yang di lihatnya benar.
Ohh tidak! Sesuatu itu seakan menghilang kembali entah kemana. Refal mendengus nafas berat, tak percaya akan pikirannya. Sebenarnya ada apa ini?
***
Byurr.. Segelas energen panas dari tangan seorang gadis yang berada di kantin tersiram pada Alfi, karena ia menabrak Alfi.
"Ahh.." Alfi berteriak kepanasaran karena energen tersebut membasahi bajunya dan menyiram sebagian kulitnya.
"yaampun maaf. Beneran gue gak sengaja." gadis itu terlihat panik saat air muka Alfi berubah menjadi kesal.
"Iya gapapa." dengan manis Alfi tersenyum ramah pada gadis itu. Meskipun ia sedikit kesal bajunya agak basah dan panas.
Dengan malas Alfi mengucek-ngucek es cappucino miliknya. Di bagian luar gelas tampak basah karenaes yang mulai mencair. Sesekali Alfi menyedot cappucinonya itu.
Di keluarkannya BBdari saku seragamnya, lalu Alfi menatap layar BB nya itu. Tanpa berlama-lamaternyata Alfi sudah on f*******: saja. Pagi-pagi gini, saatnya up-date. BatinAlfi.
"Huft,pagi-pagi baju udah kecipratan energen panas. Nasip -_-" kira-kirabegitulah yang di ketik Alfi untuk statusnya di f*******:. Alfi punmengutak-atik BB nya kembali, mengecek beberapa account jejaring sosialnya.
"Pagi-pagi kokminum es?" suara lembut yang begitu Alfi kenali kini terdengar di telingaAlfi. Orang itu yang awalnya baru datang, masih tetap berdiri menatap Alfi yangbegitu fokus dengan BBnya.
Alfi mendongkakan kepalanya, menatap orangyang berdiri di hadapannya. Segurat senyuman manis terukir di bibir tipisnya."Hak dong. Katanya mau ngerjain tugas?" saut Alfi dengan kosa katayang biasa di ucapkannya itu.
Refal terduduk dikursi hadapan Alfi. Alfi pun langsung meletakn BBnya di meja kantin tersebut,lalu menatap sang kekasih yang sudah berada di hadapannya.
"Nantinyasakit perut, Sayang. Udah beres kok." mata Alfi seakan tertawa mendengarRefal memanggilnya sayang. Alfi terkekeh pelan, meski di hatinya terasasenang.
"Sayang? Haha,baru pertama kali gue denger lo manggil gue sayang." Alfi tertawa kecil.Tangan kanannya kini di pakai untuk menopang dagunya.
"Masasih? Abiselo nya ajatuh, pacaran sih maunya pake gue-elo aja. Gimana mausayang-sayangan." Refal pun ikut terkekeh pelan mengingat gaya pacarannyaini.
"Haha. Lucuyah, tapi biarin, yang penting kita seneng."
"Haha. Iyadeh,sesuka hati lo, Fi." Refal menggelengkan kepalanya sambil tertawa,memperhatikan makhluk cantik yang berada di depan matanya ini, yang terkadangtingkahnya membuat Refal berseri.
***