Sembilan

1103 Kata
Sepanjang pelajaran berlangsung, Alfi dan Satheo sama sekali tidak berbicara sedikitpun. Sebenarnya, Alfi sih ingin sekali berbicara dengan Satheo, namun Satheo sepertinya masih marah dengan Alfi. Buktinya, Alfi beberapa kali menoleh pada Satheo, namun Satheo seolah tak peduli dan masih saja mengacuhkan Alfi. Sampai bel istirahat pertama berbunyi, Satheo masih tetap pada posisinya. Ia tak bergerak sedikitpun, Alfi pun yang tadinya enggan untuk bertanya duluan pada Satheo, kini ia memberanikan diri untuk berbicara duluan pada Satheo. "Satheo!" Tegur Alfi untuk mempercair suasana, kebetulan seluruh anak di kelas ini sedang keluar semua. Hanya ada mereka berdua di kelas itu. Satheo tak menjawab, bahkan menoleh pun enggan. Satheo berpura-pura tak mendengar panggilan Alfi itu. "Satheo!! Udahan dong marahnya! Gue tau gue salah, gue minta maaf!" Alfi mengguncang bahu Satheo agar Satheo menoleh kearahnya. Benar saja, Satheo pun langsung menoleh, namun tatapannya masih dingin. "Lo pikir, dengan cara lo minta maaf gini, Wulan juga bakal maafin gue?" Desis Satheo ketus. Alfi mendengus kesal, Mengapa harus karena Wulan lagi?!! Gerutu Alfi dalam hatinya. "Wulan aja terus! Wulan mulu! Gedek gue denger ntu nama!" Dengan seenaknya, Alfi kini malah meluapkan emosinya. "Bilang aja lo iri sama dia! Lo nggak Bisa kan sama dia! Makanya lo benci sama dia!" "Heh! Siapa juga yang iri sama dia! Kurang kerjaan! Gue cuma benci aja sama dia, abis dia it.." Belum selesai Alfi berbicara, Satheo langsung memotongnya. "Rian? Rian lagi! Lo bilang, lo udah jadian sama Refal! Kenapa lo masih bahas Rian! Dan satu lagi, dalam taruhan ini lo curang!" "Gue curang? Curang apanya?!" "Astaga ALFI! Lo g****k kebangetan yah!" Dengan santainya Satheo lagi-lagi mengatai Alfi. Alfi pun mengelus dadanya, seolah menenangkan dirinya dengan omongon Satheo. "Oke! Gue emang g****k! i***t! Terus apa lagi? Terserah lo dah mau bilang gue apa! Biar lo puas!" Penuturan Alfi terdengar begitu di tekan. Tampaknya ia sengaja bicara seperti itu. "Kalo elo pinter, lo pasti ngerti! Sekarang gini, tantangan gue ke elo, gue nyuruh lo dapetin Refal dengan penampilan lo yang nggak banget, tapi lo Bisa ambil sisi positifnya. Elo Bisa nemuin seseorang yang cinta elo apa adanya, bahkan katanya lo udah jadian kan sama Refal! Sedang gue? Lo nyuruh gue nyakitin orang yang gue sendiri nggak tau salah dia apa sama gue! Lo nyuruh gue nyakitin orang yang sekarang bener-bener gue cintai." Satheo menarik nafas sejenak, setelah ia berbicara panjang lebar pada Alfi. Alfi pun berusaha hendak membela dirinya. "Tapi..." Lagi-lagi omongan Alfi di potong oleh Satheo. "Dan dugaan lo tentang Wulan itu salah! Lo bilang Wulan itu jahat, dia itu modus! Lo ngecap Wulan gitu karena Rian kan! Alfi TER-sayang, lo denger baik-baik yah. Setelah gue kenal Wulan lebih lanjut, gue tau sekarang, Wulan cuma modusin cowok yang enggak bener! Berarti, Rian itu nggak bener, Alfi! Lagipula, kemaren lo pernah bilang kalo Rian nembak lo lagi, tapi lo nggak terima kan? Karena lo tau dia nggak baik buat lo! Iyakan?! Tapi kenapa lo masih aja benci sama Wulan? Kenapa lo dendam banget sama dia, cuma gara-gara cowok nggak bener kaya Rian?!" Potong Satheo dengan omongannya yang lebih panjang. Alfi terdiam, bingung hendak menjawab apa? Karena memang omongan Satheo tadi mengarah kesalahan berlimpah pada Alfi. Alfi tidak Bisa mengelak apa-apa lagi. "Lo itu nggak ngerti, Sat! Dan nggak akan pernah ngerti!" Karena bingung hendak menjawab apa? Alfi hanya melontarkan kalimat pendek yang sekiranya cocok untuk di ungkapkannya. "Gimana gue mau ngerti kalo lo nggak mau cerita sama gue!" "Karena gak semua hal tentang gue harus gue ceritain ke elo!" Bantah Alfi lebih keras. Sepertinya Satheo sudah tak peduli dengan Alfi. Satheopun pergi meninggalkan Alfi di kelasnya sendirian. Kepala Alfi langsung di tenggelamkan di atas meja. Di tempelkannya kepalanya itu diatas mejanya. Alfi tampak bingung apa yang harus di lakukannya. Apa yang harus di jelaskannya lagi untuk memperbaiki hubungannya dengan Satheo? "Mending buka twitter.." Gumam Alfi kemudian saat dirinya sudah terlalu penat dengan keadaannya kini. "@Alfi_Septi Debat sama si Satheo! Selalu gue yang salah! Semua kesalahan jatohnya ke gue! Arghh.. :@" Itulah isi twit baru dari account twitter Alfi. Dari pada pusing, mending buka twitter. Itulah yang di pikirkan Alfi saat dirinya begitu penat. Sesaat kemudian, Alfi melihat ada mention baru yang masuk di account nya. Alfi pun langsung mengeceknya. "Karna lo emang salah, Fi! RT @Alfi_Septi Debat sama si Satheo! Selalu gue yang salah! Semua kesalahan (cont..)" Alfi tersenyum sinis melihat mention dari Reza itu. Alfi tak mereply nya, hanya di biarkan begitu saja. Karena Alfi sedang tidak ingin menambah masalah dengan yang lain. Urusannya dengan Satheo saja belum kelar, ini Reza sudah ingin ikut-ikutan lagi. *** Alfi mempercepat gerak kakinya, menaiki anak tangga menuju atap gedung sekolahnya itu. Nafasnya terhenggal-henggal karena kelelahan melangkah. Akhirnya, kakinya kini telah sampai di atap gedung itu. Matanya langsung menatap pada seseorang yang sedang berdiri di tempat itu. Rasanya orang itu buka Refal, Alfi pun meicingkan matanya, memperjelas penglihatannya. "Ngapain lo disini?" Tanya Alfi sinis ketika Alfi telah mengetahui siapa orang itu. Orang itupun menoleh, lalu melihat Alfi sekilas. "Hak dong!" Balasnya singkat. Alfi pun terdiam sejenak. "Setau gue, cuma Refal dan gue yang sering ke tempat ini!" "Nggak usah sok tau! Lo kan sekolah disini baru seminggu lebih." Alfi lagsung terdiam, karena memang perkataan Wulan barusan benar. Alfi memang baru bersekolah disini seminggu, jadi Alfi harus membalas apa lagi ini? Masa iya Alfi harus mengalah dan dia saja menanggapi omongan Wulan. Alfi menatap sinis Wulan yang sedang menatap lurus ke depan, memperhatikan langit yang begitu luas. Tatapan Alfi benar-benar terlihat amat benci dengan Wulan. Raut wajah Alfi-pun sangat mewakili tentang kebenciannya terhadap Wulan. "Sumpah demi apapun, GUE BENCI SAMA LO!!" Alfi berteriak begitu kencang menghadap kearah Wulan. Wulan yang terkejut mendengar itupun langsung menengok. "Dan sumpah demi apapun gue nggak pernah ngerti, KENAPA LO BISA SEBENCI ITU SAMA GUE, HAH? Apasih salah gue sampe lo segitu jahatnya sama gue? COBA JELASIN, ALFIA SEPTIANI!!" Wulan pun berteriak tak kalah kencang. Mendengar jawaban Wulan, lagi-lagi Alfi terdiam sejenak. Diperhatikannya wajah cewek yang katanya amat di bencinya itu. "Karena lo selalu ngacauin hidup gue! Lo itu pengganggu! Pertama, lo bikin hubungan gue sama Rian berantakan, kedua, lo juga sempet bikin Refal dingin lagu sa.." "Tapi akhirnya lo jadian juga kan sama Refal!" Potong Wulan ketika Alfi sedang berbicara. "Gue belom selesai ngomong, PEA! Oke, meskipun akhirnya gue jadian sama Refal, tapi Satheo? Sekarang marah besar sama gue!" Lanjut Alfi geram, karena merasa omongannya di potong oleh Wulan. "Terus, gue peduli?" Mata Alfi langsung melotot ketika mendengar balasan Wulan yang menurutnya "SONGONG" "Ehh, SIAL! Lo lama-lama ngeselin ya?!" Alfi agak sedikit memajukan posisinya, tampaknya ia begitu emosi. Wah, ini sangat gawat. Jika Alfi emosi, dia tak tanggung-tanggung untuk main kasar dengan orang. Tak peduli itu lelaki atau perempuan. "Lo yang mulai kan?!" Balas Wulan masih cuek. Tangan Alfi kini sudah mengepal, seakan hendak menonjok Wulan. Alfi mulai mengangkat tangannya, bersiap untuk menonjok Wulan. Namun, tiba-tiba saja sejurus tangan langsung memegang kencang tangan Alfi, meghentikan aksi Alfi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN