Kicauan burung yang berhinggapan di pohon-pohon besar itu terasa indah untuk di dengar, namun beberapa bunga kian berguguran dan jatuh di rerumputan nan hijau itu. Hembusan angin melintas, menerbangkan rambut panjang seorang cewek yang tengah terjongkok di depan makam. Cewek itu tampak sedang mengusap batu nisan pada makam itu.
Ia tersenyum getir, jika mengingat tentang kisah hidupnya. Sungguh miris sekali, ia harus ditinggalkan kedua orang tuanya di umur yang masih belia.
"Mama, Papa, kalian apa kabar? Aku kangen kalian. Kenapa ya, Ma, Pa? Di dunia ini aku bener-bener ngerasa sendiri. Mereka gak ada yang pernah bisa ngertiin aku, yang mereka bisa cuma ngejudge aku doang." Ia berbicara pada nisan itu. Makam Mama dan Papanya memang bersebelahan.
Suasana sore hari di makam itu sungguh sangat sepi, hanya terdengar gemuruh angin dan kicauan burung. Rerumputan yang hijau, yang menjadi baground utama tempat itu seakan memperindah pemandangan disitu. Di tempat inilah, Wulan merasa tenang. Tempat yang menjadi favorit Wulan untuk mencurahkan segala isi hatinya, entah itu senang, sedih, gundah, disinilah tempatnya. Di depan makam orang tuanya.
"Gue liat, lo anteng banget disini?" Tiba-tiba datang sebuah suara yang berasal dari belakang Wulan. Wulan pun menengok. Ditatapnya seorang lelaki yang mengenakan seragam sama sepertinya. Seragam khusus SMA Budi Perwira.
"Anteng lah, masa di pemakaman kayak gini gue mau teriak-teriak." Jawab Wulan masih dengan berjongkok. Satheo kini malah menyamai Wulan berjongkok.
"Haha, iya sih. Ehh iya, flash disk nya tadi ketuker, nih, Wulan." Satheo mengulurkan sebuah flash disk yang tadi sengaja di tukarnya. Betulkan! Inilah rencananya.
"Ehh, masasih." Wulan mengambil flash disk yang tadi di berikan Satheo. "Lo tau nama gue?" Tanya Wulan setelah mengambil flash disk nya.
"Siapa sih yang nggak kenal Wulan, secara..." Belum sempat Satheo selesai berbicara, Wulan langsung memotongnya.
"Gue cewek modus di sekolah, iyakan, Sat? Lo mau ngomong itukan?" Sergah Wulan degan suara yang terdengar pilu. Satheo langsung menatapnya tajam. Mengapa Wulan yang setiap hari dilihatnya tampak berbeda di tempat ini?
"Kok lo ngomongnya begitu? Ehh iya, lo kok juga tau sih nama gue?" Saut Satheo. Wulan pun menunduk, menatap rumput yang tumbuh dimakam orang tuanya.
"Emang kebanyakan orang nganggep gue begitu kan? Aelah, siapa juga sih yang nggak kenal lo, Satheo, anak semata wayang pemilik yayasan sekolah. Yang terkenal ganteng, keren, tajir, pinter, dan nasib cintanya selalu miris, karna di eretin mulu ama pacarnya. Hahaha.." Wulan tertawa begitu renyah ketika mengakhiri perkataannya. Satheo hanya cemberut saat Wulan bebicara seperti itu.
"Awalnya enak, ujungnya ituloh!"
"Haha, tapi emang benerkan?" Wulan tersenyum nakal pada Satheo. Satheo pun mengangguk ragu.
Mereka terus terhanyut dalam obrolannya. Tampaknya mereka sudah akrab, padahal baru sekali ini ngobrol bareng. Dibalik tawa Wulan, Satheo seakan dapat melihat tentang ketertekanan batin Wulan. Meskipun ia belum tau jelas mengapa.
"Sat, lo ngapain di pemakaman?" Wulan kembali bertanya. Karena Wulan memang sering melihat Satheo ke pemakaman ini pula. Hanya saja baru pertama kali mengobrol di kesempatan ini.
"Dari makam Shila." Jawab Satheo datar.
"Shila?" Wulan mengulang kalimat Shila. Seolah bertanya siapa itu Shila. Satheo pun tersenyum getir, senyumannya terlihat pahit.
"Shila, dia itu..."
***
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah Toilet Umum. Ia pun memasuki salah satu dari banyaknya toilet umum tersebut. Di dalam toilet umum itu, ia melepaskan kepangan duanya. Disisirnya dengan rapi rambut panjangnya itu, tampak agak keriting. Ia pun merogoh tas-nya yang di tenteng dengan tangan kanannya. Sebuah conditioner kini telah di tangannya. Ia pun merapikan rambutnya dengan itu.
Di lepaskan kacamata minimalis nya itu, lalu tangannya mengambil soflen yang hanya berada di sebelah matanya. Tak lupa ia pun mencuci wajahnya yang di poles bedak berwarna kecoklatan itu.
Perfect! Alfi terlihat cantik kembali dengan penampilan ini. Alfi tidak mungkin berani pulang sendirian dengan penampilan seperti tadi. Pulang sendirian? Yah, Satheo meninggalkannya, karena memang setiap hari selasa, Satheo melakukan ritualnya. Mengunjungi makam Shila. Sebenarnya Alfi ingin ikut, namun Satheo selalu melarangnya.
"Tuhan! Gimana Bisa gue nge-gaet Refal dalam waktu satu minggu. Ayolah para ilmuwan fisika, kalo ada kasih tau gue rumusnya deh!" Ucap Alfi ngawur masih di dalam toilet umum itu.
Alfi pun keluar dari toilet umum itu. Ia berjalan menuju jalan raya, mecari sebuah angkot ataupun taksi. Terliah beberapa siswa Budi Perwira menatapnya, menatap Alfi bingung. Karna biar bagaimanapun kini Alfi mengenakan seragam Budi Perwira, sedangkan anak Budi Perwira tidak pernah melihatnya disekolahnya. Sudahlah! Alfi tidak mengiraukan itu sama skali.
Cittt...
Sebuah motor satria-f berwarna hijau tepat berhenti di depan Alfi. Sejenak Alfi memperhatikan wajah orang itu yang masih tertutup helm, hatinya bertanya-tanya sebenarnya siapa dia?
"Lupa sama gue?" Orang itu membuka helm yang menutupi wajahnya. Alfi pun langsung memukul akrab pundak orang itu.
"Reza! Gue kira siapa? Anter gue dong." Tanpa basa-basi Alfi langsung naik ke motor Reza.
"Ehh! Siapa nyuruh lo naek, gue mau pulang!"
"Yaudah anterin gue dulu, 20 ribu nyampe rumah deh, oke!" Alfi nyengir jail pada Reza.
"Disangka gue tukang ojek!" Saut Reza. Alfi hanya terkekeh geli.
***
"Shila itu..." Satheo menggantung ucapannya, sedangkan Wulan sudah serius memperhatikan Satheo. Rasa tanda tanyanya kian membesar.
"Kucing gue yang mati tiga bulan lalu, gue sayang banget sama dia. Dia cantik deh, matanya indah, bulunya lembut. Pokoknya gue sayang banget sama dia!" Suara Satheo terdengar sedikit melo. Namun tak tersirat rasa sedih sedikitpun ketika Wulan mendegarkan cerita Satheo. Justru ia malah tertawa ngakak.
"Hahahahaha! Satheo! Lo itu, hahaha!" Wulan tak Bisa menghentikan tawanya. Tangan kanannya memegang perutnya karena tertawa begitu puas.
"Kok elo malah ketawa?" Dengan tampang innocent nya, Satheo mala bertanya. Wulan semakin terkekeh geli melihat wajah Satheo yang begitu polos itu.
"Yaiyalah! Gue kira Shila itu cewek lo gitu, taunya kucing! Hahaha!" Wulan masih terus tertawa.
"Aww!" Wulan memegang hidungnya yang kesakitan karena di pencet Satheo.
"Emang enak." Satheo menjulurkan lidahnya pada Wulan. Wulan masih mengusap hidungnya yang merah akibat ulah Satheo.
"Lo lucu yah?" Wulan menatap Satheo dengan pandangan khasnya. Satheo yang tersadar di pandang seperti itupun malah salting.
"Mau gue anter pulang?" Tawar Satheo.
"Boleh."
Mereka pun berjalan, keluar dari tempat pemakamannya itu. Tepat di pinggir jalan sudah terlihat mobil berwarna hitam metalik terparkir. Mereka pun memasukinya. Yeah, rencana awal Satheo berhasil dengan mulus.
***
"Wih, kulkas Satheo banyak amat makanannya." Alfi tersenyum bahagia, ketika melihat isi kulkas Satheo yang di penuhi makanan.
Dengan senyuman jail, Alfi pun langsung mengambil beberapa makanan yang ada di kulkas Satheo. Diletakannya makanan itu di sebuah meja yang berada di dapur Satheo. Alfi pun terduduk di kursi yang ada disitu.
"Haha, kenyang mendadak gue disini. Emang ntu Kunyuk kemanain sih? Kok belom pulang?" Alfi mengunyah sebuah apel merah yang tadi diambilnya dari kulkas Satheo.
"Bodo ahh, yang penting gue kenyang." Alfi pun meminum teh kotak dari kulkas itu, seperti kulkas Satheo sedang kerampokan jika seperti ini.
Satu persatu makanan di coba oleh Alfi. Tanpa peduli seorang pembantu rumah tangga di rumah Satheo mengomelinya. Itu dianggapnya angin lalu saja, toh pemilik rumahnya ngomel juga tak di pedulikan Alfi. Mungkin kalian bertanya-tanya? Kemana orang tuanya Satheo? Yah, beginilah. Bisa dikatakan Satheo itu anak yang dibesarkan oleh tangan seorang pembantu, orang tuanya selalu sibuk kerja. Untungnya saja, Satheo tidak terjerumus ke pergaulan yang tidak benar.
"Buset! Kulkas gue dirampok!" Suara serak itu tiba-tiba datang dari arah pintu dapur. Alfi yang menyadari kedatangan Satheo langsung menolehnya.
"Hehe, laper, Sat! Mama gue lagi jemput Selqa ketempat les-nya. Jadi gue males makan sendiri." Alfi hanya cengengesan sambil terus memakan cake brownis. Satheo pun menghampirinya dan duduk dibangku dekat Alfi.
"Anggep aja amal deh, oh iya, Fi! Tahap awal gue berhasil loh!" Satheo kini memulai bercerita, sambil sesekali mengambil makanan yang sudah dikeluarkan Alfi dari kulkas Satheo.
"Emang rencana lo apaan?"
"Yaa, gitulah. Liat aja nanti, yang jelas gue Bisa nuntasin tantangan lo! Oh iya, lo sendiri gimana?" Satheo balik bertanya, tentang Alfi dan Refal. Alfi pun cemberut.
"Hm, si Manusia es batu itumah parah! Kagak Bisa di deketin, pesimis gue jadinya!"
"Haha, sabar-sabar! Makanya jangan suka nyolong kulkas gue!"
"Yeee! Siapa juga yang nyolong, orang gue ngerampok, haha!" Alfi berdiri dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkan Satheo.
"Mau kemana?" Tanya Satheo.
"Pulang, terus tidur!" Teriak Alfi sambil berjalan.
***