9

3511 Kata
Alana sudah tahu kemana hubungan mereka berjalan. Menjadi sepasang kekasih bersama  Akira, dan mereka sepakat untuk mempublikasikannya ke muka umum. Beginilah dia akhirnya. Di siang hari, saat dia turun untuk makan, beberapa orang menyapanya dengan senyum malu dan beberapa menundukkan kepala, merasa tidak mampu berkata apa-apa. Karena Akira mengencani sekretarisnya sendiri, dan sekretaris yang dia kencani, bukan orang sembarangan. Mungkin lebam dan bekas tamparan masih tertinggal di wajahnya, dengan sedikit polesan bedak yang agak tebal untuk menutupinya, Alana merasa dia lebih baik hari ini. "Makan siang bersamaku?" Alana menengadah, menatap Akira yang keluar dari ruang meeting bersama Souma yang melambai padanya dan berlalu, pergi mencari makan siang di tempat lain. "Hm," Alana bergumam. Matanya melirik ke sana dan kemari. "Boleh," dia menerima ajakan Akira ketika berjalan bersama pria itu membelah lobi dan berakhir di kantin kantor yang padat. "Kau tidak diet hari ini, kan?" Alana melirik Akira dari sudut mata. "Tidak, tapi aku akan mengatur pola makanku," katanya, dengan senyum. "Lagipula, aku sedang berbohong pada orang tuaku tentang aku yang menghilang tiba-tiba karena perjalanan bisnis bohongmu. Jadi, setelah pulang aku akan pergi ke hotel." Alis Akira menekuk sempurna. "Kau bisa tidur dirumahku, kalau kau mau?" Alana tersenyum. "Kau yakin?" Pria itu hanya menyunggingkan sebuah seringai tipis. "Yah, kau tahu, aku tidak pernah menarik kata-kataku," balasnya, menggoda dengan kedipan mata jahil dan Alana tertawa. Dehaman dari Akira membuyarkan suasana yang tercipta di antara mereka. Alana menoleh, mendapati beberapa pasang mata dari pegawai kantor mengarah ke mereka. Dia tersenyum, maju beberapa langkah untuk mengantri makanan cepat saji yang tersedia di kantin. "Sup jagung kental, dan kau?" Akira menyipit menatap menu makanan. "Sup daging dan kulit sapi," ucapnya. Alana mengangguk dan mengeluarkan dompet, tetapi Akira menahannya, membawa dompetnya keluar dari dalam jas abu-abunya dan memberikan beberapa lembar uang pada kasir. Alana hanya tersenyum, dia kembali menutup dompetnya dan menunggu pesanan mereka. Setelah nampan berisi dua mangkuk yang masih panas, Akira membawanya ke meja yang kosong. Layaknya pria sejati dan Alana tidak bisa berhenti tersenyum hari ini. "Ini akan cocok dengan air putih dan bukan ocha dingin," gumam Akira. Dia melambai pada pelayan, meminta tolong air putih untuk mereka berdua saat Alana memasukkan kimchi ke dalam supnya. "Kenapa kau tidak makan siang bersama Souma?" Akira melirik dari sendok makannya. "Dia punya jam makan siang bersama kliennya. Kami berpisah di ruang meeting," katanya. Alana menganggukkan kepala dalam diam. Dia mengernyit, mencoba menerka-nerka sesuatu dari dalam kepalanya dan tersentak. "Bagaimana dengan McClaren milikku?" Dia sedikit histeris dan beberapa pasang mata menoleh ke meja mereka. Akira mengangkat alis, menatap para bawahan yang bergegas memutar kepala mereka kembali dan berbicara satu sama lain. "Sudah kuurus," balasnya tenang. Alana menghela napas panjang. "Aku tidak peduli jika itu rusak berat atau apa pun, hanya saja bukankah ada mayat di dalammya?" Akira menaruh sendoknya di atas nampan. "Sudah kubilang, aku sudah mengurus segalanya," Alana menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Kau yang terbaik," dia memberikan jempolnya dan kembali melanjutkan makan siangnya. *** "Alana!" Alana terlonjak. Dia menoleh dan membelalak mendapati  Hayate berjalan agak cepat dengan tangan memegang tas Hermes keluaran terbarunya. Alana menatap ibunya bersama Akira yang terdiam, menunggu Hayate mendekat. "Alana!" Ibunya memukul bahu putrinya. "Kau gila? Ibu hampir serangan jantung mendengar berita itu," dia melirik Akira dan tersenyum kecut. "Kemarin bosmu bilang kau pergi dinas. Apa secepat itu?" Dia berbisik, tetapi Akira masih bisa mendengarnya. Pria itu tersenyum, merangkul bahu Alana dan membuat Hayate terkejut. "Maaf, bibi, kami memang pergi dinas. Hanya saja, kembali lebih cepat." "Benar-benar hanya bisnis, kan? Tidak skidipapap?" Alana melotot, tak percaya dengan bahasa ambigu sang ibu yang meluncur bebas tanpa dosa. "Ibu, kami serius," dia mendengus, menahan tawa malu karena jam makan siang seleHiro dan para pegawai menatap mereka dengan bisik-bisik. Jelas saja,  Hayate layaknya toko emas berjalan. Kalung emas, anting emas, gelang emas, bahkan pakaian yang dia pakai berwarna emas. Cocok sekali penampilan nyentrik Hayate yang membuat mata Alana sakit bukan main. Akira tersenyum. Membuat Hayate bergidik karena yang dia dengar  Akira tipikal pria dingin, tak bersahabat, sombong dan angkuh. Tapi lihat? Pria ini banyak tersenyum hari ini. "Kemarin kau menyewa Tokyo Land, membawa McClaren milikmu dan tiba-tiba menghilang, ibu khawatir," katanya, memegang tangan Alana saat gadis itu melepas rangkulan Akira di bahunya. "Aku baik-baik saja," Alana mendesah panjang. "Aku tidak akan kembali ke rumah mulai sekarang. Karena aku sudah sehat, aku akan tidur di apartemen," Hayate menghela napas panjang. "Baiklah, kalau itu maumun," dia tersenyum. "Aku tidak bilang pada ayahmu kalau aku kemari," dia menatap Akira. "Kami hanya terkejut mendengar berita heboh pagi ini. Aku pikir itu bercanda dan media yang iseng karena silau mendapati kalian berdua selalu bersama tanpa hubungan yang serius." Akira mengangguk. Ekspresinya berubah serius. "Bibi hanya tinggal menunggu kejutannya," katanya, sok misterius. Hayate ternganga. Dia menatap Alana yang tersenyum dan putrinya bergerak membawanya ke dalam pelukan. "Ayolah, ibu. Aku sedang bekerja. Jangan di sini," ucapnya. Hayate yang mengerti segera membawa dirinya pergi, setelah melambai dan mencium pipi putrinya, dia bergegas keluar menuju mobil yang dibawa supir. Alana menghela napas. Mendapati mobil Audi itu sudah hilang dari pandangannya, dia menatap Akira. "Dia tidak tahu tentang lebam dan bekas lukaku karena Rei, kan?" Akira menatapnya dengan gelengan kepala. Tepat di matanya. Pria itu menunduk, membuat Alana mundur dengan tubuh menggigil panik. "Kau gila, ya?" Dia bergegas pergi, meninggalkan Akira yang mendengus dengan senyum tertahan. Pria itu berbalik, menatap Alana yang menunggu lift dan segera masuk, gadis itu menekan tombol, sampai Akira tidak mampu mengejar lift yang hampir tertutup, Alana hanya menjulurkan lidahnya, meledek Akira ketika lift menutup sempurna dan Akira tertinggal. Harus menunggu lift yang kosong selanjutnya. Alana menghela napas. Memandang pintu lift yang memantulkan bayangan dirinya dalam blur dan tersenyum kecil. Dia menunduk, merutuki kebodohannya semalam. Dia menyuruh pria itu untuk mencintainya, dia sudah gila? "Tidak apa, Alana. Untuk apa berkencan dan melalukan seks tanpa cinta?" Alana bergumam, menunjuk dirinya semdiri. "Sumpah yang tertulis dalam buku nikah saja bisa hilang, bisa lenyap. Apalagi di atas ranjang?" Alana melotot, menatap pantulan dirinya sekali lagi dan mendesah panjang. Dia tidak bisa mempercayakan ini seutuhnya pada Akira, terlebih masa lalu pria itu masih mengganggunya. Walau dia yakin Akira masih memikirkan Lay—Sara karena rasa bersalahnya. "Anak?" Alana memegang dinding lift yang dingin. Dia tersentak, ketika lift berdenting dan pintu terbuka, dia berjalan keluar. Menyapa sebentar tim divisi umum dan duduk di kursinya. Tidak lama berselang, Akira datang, dia mengabaikan Alana yang membungkuk, menyapanya secara formal. Dan ketika Alana menoleh, tatapan para pegawai divisi umum terlempar ke arahnya. Mereka berdeham keras, kembali sibuk pada pekerjaan dan berpura-pura tidak melihat apa pun. Sudut bibir Alana tertarik, mengintip Akira dari jendela ruangan yang terbuka. Pria itu kembali sibuk dan larut dalam pekerjaan. Dia ikut duduk, memikirkan bagaimana kacaunya  Kirei saat ini mengetahui putra bungsunya membuat hidupnya terguncang karena melakukan pemberontakan. Alana meringis, merasakan sudut bibirnya kembali perih dan lebam yang disebabkan Rei belum seutuhnya pulih dan dia memaksa bekerja. Karena Akira tidak akan mampu menyeleHirokan pekerjaan tanpa dirinya. Alana harus bersikap profesional. Selama dia bisa bangkit dari tempat tidur, dia harus bekerja. Bukankah seharusnya dia mendapat apresiasi? Mari, bertepuk tangan. *** Alana membawa beberapa pakaian dari apartemennya dan pindah ke rumah Akira yang besar, dan hanya ditinggali satu orang.  Akira seorang. Karena Akira tidak senang orang lain mengusiknya, dia memerintahkan para asisten rumah tangga untuk kembali ke rumah sebelum matahari terbenam, membayar mereka secara utuh dan tanpa lemburan. Karena malam adalah waktu yang bagus untuk dirinya beristirahat dalam damai. Dia menarik koper, membawanya ke dalam salah satu kamar tamu yang kosong dan sudah dibersihkan. Alana mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai selepas membersihkan diri. Akira mempersiapkan banyak hal untuknya. Seperti peralatan mandi dan handuk bersih. Ketika dia turun ke lantai dasar, pria itu sibuk dengan laptop di atas meja. Dan beberapa tumpuk dokumen di samping laptop hitamnya. Akira tidak lembur di kantor, tapi di rumah. Langkah kaki Alana berbelok ke dapur. Dia merebus air, mencari sesuatu dalam laci dan membuatnya. Setelah air mendidih, dia menuangkan air itu ke dalam gelas. Mengaduknya hingga cairan itu berubah kecokelatan. Akira masih fokus dengan pekerjaannya, melupakan Alana yang duduk dengan gelas yang dia taruh ke atas meja. Ketika oniks itu melirik, Alana memberikan senyum. "Teh baik sebagai pengusir lelah," katanya, mengangkat bahu. Akira kembali ke layar laptopnya. Dia mengacuhkan Alana yang melotot sebal dan mendengus tajam. Pria itu kembali mengecek laba di dalam daftar dan mencatat. Alana memiringkan kepala. Terkejut dengan Akira yang memakai kacamata. "Sejak kapan?" "Apa?" Akira menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. "Kacamata itu, aku tidak tahu kalau kau—" "Memakai kacamata?" Alana mengangguk. Keningnya terlipat agak dalam. Dia duduk di atas karpet, tidak di sofa. Menatap Akira lekat-lekat. "Kau menyembunyikan ini dari semua orang?" Akira menggeleng. Dia menatap Alana sebentar. "Souma dan Hiro tahu, juga Oki. Aku tidak menutupinya," balasnya. "Kau menutupinya dariku," ketus Alana. Gadis itu memangku pipinya di atas meja, alisnya naik turun menggoda. "Bisakah aku jujur? Kalau kau seratus kali lebih menggoda jika memakai kacamata," bisiknya. Gerakan tangan Akira yang luwes di atas keyboard, terhenti seketika. Alisnya terangkat, menatap Alana dengan dengusan pendek. "Kau berniat menggodaku?" "Aku? Tidak," Alana tertawa pelan. Dia menghela napas, menatap laptop Akira dari samping dan kembali ke pria itu. "Aku berkata jujur. Apa adanya," Akira mendengus. Dia mendorong dokumen itu dari meja, dan melirik layar laptopnya sebelum kembali pada Alana. "Tontonlah televisi kalau kau bosan," katanya. Alana melirik televisi dengan malas. Kembali pada Akira. "Memandangmu jauh lebih membuatku tertarik dibanding menonton televisi," balasnya, menggoda. Saat Akira melempar tatapan penuh hasrat padanya, Alana tidak sanggup bernapas dengan baik. Tenggorokannya terasa kering dan dia mulai pucat. Alana menipiskan bibir, mencari-cari remote televisi yang tertindih bantalan sofa. Alana memutar badan. Mengambil remote hitam itu dan mulai menyalakan televisi berlayar 52 inch dan mengeraskan volumenya. Hingga alis Akira menekuk tajam, dia tidak bisa berkonsentrasi mendengar suara kekehan layaknya kuntilanak pada sinetron yang Alana tonton. Akira memutar mata. Dia menatap gadis itu yang memunggunginya. Karena Alana menyanggul rambut panjangnya, menampilkan leher putih mulusnya yang bersih tanpa cela di hadapannya. Napas Akira memberat. Dia melepas kacamatanya, menaruhnya di atas tumpukan dokumen. Ketika Akira melingkarkan tangannya, di sepanjang bahu gadis itu dan Alana menegang di bawahnya. "Rileks, sayang," Genggaman tangan Alana pada tepi sofa mengerat. Dia menoleh, mendapati Akira menunduk, menarik tubuhnya agar lebih dekat dengan tubuhnya yang duduk di atas sofa, memberikan ciuman di sepanjang leher dan bahunya. "Apa yang kaulakukan?" "Menggodamu," balasnya seduktif. Akira meniupkan napas berat di sepanjang leher dan bahu gadis itu, membuat Alana bergidik dan merasakan bahunya mengencang dan sepanjang kulitnya meremang. Alana hanya memakai celana kain pendek dan atasan sabrina. Gadis itu tidak memakai piyama, atau belum? Akira tidak tahu dan dia tidak peduli. Karena Alana yang duduk di bawahnya, amat menggodanya hingga terasa sesak. Ketika hidung Akira merambat naik membelai sepanjang rahang dan pipinya, desahan tertahan meluncur bebas dari bibir Alana yang tertutup. Akira tidak bisa menahan diri lagi, dia membawa Alana untuk memutar, meraih bibir itu dengan bibirnya hingga ciuman penuh intim mereka terjadi. Alana tidak menolak atau mundur darinya. Gadis itu mengusap pipinya dan turun melingkari lehernya, mencari pegangan untuk bertahan dari lumatan bibir mereka yang berubah panas. Pagutan demi pagutan terjadi. Terjalin begitu erat hingga Akira rasanya mabuk, tidak sanggup memikirkan apa pun selain membawa Alana ke kamar dan menghabiskan waktu untuk memujanya. Napas Alana tertahan, saat samar-samar dia mendengar suara bel berbunyi. Dia yakin telinganya masih berfungsi dengan baik walau suasana yang terjadi cukup tegang dan mengaburkan pikirannya. "Akira," Alana mendorong d**a pria itu. Dan Akira menyerah, dia memegang kedua tangan Alana di dadanya, membawanya ke atas paha. "Ada tamu," bisik Alana. Dia berdiri, membawa dirinya pergi untuk membuka pintu saat Akira berdeham, mengacak rambutnya dan kembali memakai kacamata. Dia hanya memakai kacamata jika bekerja di rumah, dan tidak pernah memakainya saat dia berada di kantor atau di luar rumah. Alana membuka pintu, terkejut dengan kedatangan Ara yang menunduk malu dan gugup. Alis Alana terangkat tinggi, ketika tatapan mereka bertemu, Ara tampak terkejut dan bingung. "Kenapa kau di sini?" Ara bertanya, matanya menelusuri lekuk tubuh Alana yang membuat kaum hawa lainna iri, termasuk dirinya. "Kenapa kau bertanya? Aku yakin kau tidak terlewat berita hari ini," kata Alana, membalas ucapan Ara. "Aku membacanya," bisiknya pelan. Dia meremas tas selempangnya. "Kupikir itu hanya isapan jempol, hanya kabar burung," dia menunduk. "Ternyata kalian benar berkencan." Alana tersenyum. Tangannya terulur menepuk bahu Ara. "Sabarlah. Kenapa dengan Rei Rei?" Ara terkejut. Dia menatap Alana dengan bola matanya membulat panik. "Kau tahu?" "Tolonglah, aku bukan orang rumahan biasa. Jelas, aku tahu," balas Alana bosan. Dia tampak seperti tuan rumah yang sombong dan tidak suka berbasa-basi, tapi jelas kedatangan Ara ke rumah Akira pasti karena suruhan dari wanita psikopat itu. Wejangan untuk mendapatkan hati Akira jauh lebih penting dari apa pun. Tangan Ara saling meremas. Dia seperti aktris yang sedang memainkan peran wanita protagonis dan adegan dimana dirinya diinjak-injak oleh sang pemilik rumah, selaku sebagai peran antagonis. "Kalau begitu, aku permisi," Alana mengangguk. Dia menatap kepergian gadis malang itu ke mobil yang sudah menunggunya. Alana menghela napas. Dia merasa kasihan dengan Ara yang harus terombang-ambing karena Rei dan ibu Akira. Alana menutup pintu. Dia kembali ke ruang tengah, dan Akira kembali fokus pada pekerjaan. Karena rasa yang penuh hasrat itu sudah menguap entah kemana, Alana beranjak pergi ke dapur. Mencari gelas dan menuang air dingin. Bel kembali berbunyi. Alana hampir tersedak air minumnya sendiri ketika dia bergegas ke pintu utama, diikuti tatapan Akira. Dia melirik jam dinding, pukul delapan malam.  "Hai," Alana mendengus pendek. Mendapati Hiro dan Souma yang bertamu ke rumah Akira malam ini. Tatapan Hiro jatuh padanya dan pria itu bersiul. "Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini. Obat yang Tsunade berikan sangat ampuh hingga kau pulih dengan cepat," kata Hiro dan Souma tertawa. "Haru sudah membaik, kan?" Alana bertanya karena saat dia mengajak Haru makan siang, Hiro lebih dulu menetap janji padanya dan Alana mengalah. "Dia sangat mencemaskanmu," kata Hiro dan berjalan melangkah masuk ke dalam rumah. Tanpa memedulikan Alana yang masih berdiri di ambang pintu. "Akira!" Souma berteriak dengan dua botol anggur di tangan dan Hiro membawa camilan ringan untuk mereka. "Ayo, kita bertaruh untuk pertandingan bola malam ini." Akira terkejut, tetapi mampu tertutupi oleh ekspresi super datarnya ketika kedua serangga ini masuk dan menerobos pintu. Tatapan Akira jatuh pada Alana yang cemberut dan mengangkat bahu. "Kami tidak akan menginap. Santai saja," kata Souma ketika dia mengambil tempat di samping Akira dan Hiro duduk di sofa, berbaring dengan remote televisi di tangan. Mengganti siaran sinetron murahan ke siaran bola. "Akira, kau bertaruh apa kali ini?" Akira mengernyit. Dia masih belum melepas kacamatanya saat Alana bergerak merapikan meja. "Liburan dua hari satu malam ke Kyoto?" Souma menyeringai. Dan Hiro terkekeh pelan. "Akomodasi dan segala macam sudah difasilitasi?" Akira mengangguk pelan. Dia menatap Souma dan melepas kacamatanya. "Bagaimana denganmu?" "Memberikan kartu kreditku untukmu selama dua hari penuh." Akira memutar mata dan Hiro mendengus. "Sudah kuduga, kau tidak akan berani bertaruh hal yang diluar nalar," Souma menatap Hiro tak terima. Dia melotot, dan telunjuknya menuding Hiro dengan ekspresi sebal. "Kau bahkan bisa membeli sepuluh apartemen dengan kartu kredit tak terbatas milikku, b******n. Diam kau," Hiro hanya terkekeh. Alana membawa seluruh dokumen bersama laptop ke lantai atas. Berbelok ke ruang kerja Akira dan menaruhnya di sana. Dia merapikan meja kerja pria itu yang sedikit berantakan. Alana menghela napas. Karena Souma pasti membawa Akira ke dunia mereka sendiri, dia tidak akan mengganggu atau merengek minta ditemani. Dia sudah terbiasa. Karena Akira juga tidak akan bisa lepas dari dua sahabat dekatnya, Alana tidak keberatan dengan hal itu. Dia duduk di kursi kerja Akira. Mengangkat kakinya dan melipatnya. Tangannya memainkan pulpen di atas meja. Alis Alana mengernyit, mendapati laci meja Akira yang sedikit terbuka. Dia mengulurkan tangannya, menarik laci itu hingga terbuka seutuhnya. "Obat tidur?" Alana membawa botol itu ke tangannya. Membaca resep yang dokter tulis di atas tutup botol. Dia sendiri terkejut karena Akira harus mengkonsumsi obat tidur untuk menghilangkan mimpi buruknya. Alana berdecak. Dia membawa obat tidur itu ke tempat sampah. Membuka isinya, dan membuangnya. Setelah itu melemparnya bersama sampah lainnya, sebelum dia kembali duduk dan menutup laci itu rapat-rapat. "Kau punya aku, tentu, kau tidak perlu obat sialan itu lagi," kata Alana, bicara pada foto masa kecil Akira bersama Oki dan sang ayah di dalam pigura mungil yang Akira pajang di atas meja kerjanya. Alana tersenyum lirih. Jemarinya terulur mengusap wajah manis pria itu saat Akira masih berusia lima sampai enam tahun, masih dengan senyum polos khas anak-anak. Akira mengunci pintu rumahnya. Dia menguap lebar, menatap jam dinding yang menunjuk angka satu dini hari. Dia berjalan menaiki anak tangga setelah mematikan lampu ruangan, dan berbelok ke kamar tamu, alisnya menekuk tidak mampu menemukan Alana di sana. Dia berbalik, menuju kamarnya dan Alana juga tidak ada di sana. Berjalan menuju balkon, dan nihil. Pilihan terakhir adalah ruang kerja. Akira membuka pintu kayu itu, dan mendapati Alana berbaring telungkup di atas meja, tampak pulas. Dia membuka pintu itu agak lebar. Masuk ke dalam dan benar-benar Alana sudah tertidur. Tangannya terulur, mengusap anak rambut gadis itu dan menyelipkannya ke belakang telinga. Akira mendekatkan wajahnya, mencium aroma buah yang sangat kental menguar dari rambut dan tubuhnya. Alana benar, dia akan kalah. Karena jarak sedekat ini mampu membuatnya mabuk dan tidak bisa menahan diri. Alana tidak terbangun ketika Akira membawanya keluar dari ruang kerja. Dia menatap kamar tamu, dan berpaling menuju kamarnya sendiri. Dia membaringkan Alana di ranjang miliknya dan membawa selimut sutera hitam untuk menyelimuti tubuhnya. Ponsel Alana terjatuh di atas ranjang. Akira meraih ponsel itu dan alisnya terangkat, mendapati satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, disertai ancaman. Kau akan mati, Alana. Genggaman Akira mengencang. Ditambah dia tidak sengaja hampir meremukkan ponsel mahal Alana, dia menahan diri. Dengan gerakan kilat, dia merogoh ponsel dari saku celananya, mencatat nomor itu ke dalam ponselnya dan membawa ponsel Alana ke atas nakas. Alana menggeliat dalam tidurnya. Mulai gelisah. Akira menoleh, mendekati gadis itu dan menyalakan lampu tidur, membawa tangan Alana ke dalam genggaman tangannya. Gadis itu mulai menangis, terisak dengan kedua mata terpejam. Akira semakin bingung, dia membawa Alana ke dalam pelukannya, bermaksud menenangkan. "Lepaskan aku, kumohon. Aku tidak mau," Akira menunduk, menemukan Alana yang masih menangis. Meremas kaus oblongnya dan Akira membiarkannya, membiarkan gadis itu tenang sebelum kembali rileks dan pulas. Napas Akira memberat. Seperti dirinya yang tersiksa dengan masa lalunya, begitu juga dengan Alana yang tersiksa akan Rei yang menghancurkan dirinya. Alasan Alana ke Osaka, alasan dia pergi semua sudah semakin jelas. Mereka tahu kelemahan masing-masing dan berniat membantu untuk saling menyembuhkan dan tetap kuat. Dan malam itu Akira jatuh tertidur, memikirkan banyak dugaan dan spekulasi tentang masa depan mereka yang bisa dia rencakan matang-matang di dalam kepala sebelum akhirnya menyerah dalam rasa kantuk, menyusul Alana ke alam mimpi. *** Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Karena Akira sudah lebih dulu pergi meninggalkannya ke kantor, Alana masih memiliki waktu dua puluh menit sebelum terlambat. Setelah menyadari kalau tidak terjadi apa pun semalam, Alana bisa bernapas lega. Dia dan Akira belum melakukan apa pun, itu artinya dia masih aman. Dan jika mereka melakukannya, harus secara sadar. Alana turun ke lantai dasar. Menemukan sepotong roti bakar dan s**u hangat di atas meja makan, senyum Alana mengembang lebar. Dia menemukan secarik kertas di samping piring rotinya, Alana mengambil kertas itu sembari mengikat rambutnya. Selamat pagi. Nikmati sarapanmu. "Owwh, manis sekali," kata Alana gemas. Dia menaruh surat itu ke atas meja. Dan berpikir sebentar. Sayang jika surat itu terbuang, jadi dia memutuskan akan menyimpan surat itu untuk dirinya sendiri dengan melipatnya dan membawanya ke selipan saku blazer. Ponselnya berdering keras. Alana meraih ponselnya, membawanya ke telinga. "Aku sedang sarapan. Apa kau sudah merindukanku?" Terdengar dengusan tajam dari seberang telepon. "Merindukanmu? Aku tidak mengerti." Alana cemberut sebal. Kemudian, tertawa pelan. "Sepuluh menit lagi aku seleHiro," "Terlambat lima menit, aku tidak akan memaafkanmu," Alana tertawa keras kali ini. "Oke, oke," Dan telepon dimatikan. Alana menaruh ponselnya di atas meja. Ketika dia mengunyah roti bakarnya, dia mendengar bel berbunyi. Alis Alana menekuk. Menduga-duga siapa tamu yang datang sepagi ini. Dia berjalan, melewati ruangan yang sepi dan membuka pintu. Matanya melebar kala dia mendapati  Kirei turun dari mobil mewahnya. Dengan senyum congkak khas wanita psikopat pada umumnya, Alana memutar mata muak. Dia mendengus tajam. Tidak mempedulikan kehadiran mobil lain yang berjalan memutari taman dan tubuh Alana seketika membeku hebat. Senyum Kirei tak juga luntur. Dia berhasil membuat gadis kurang ajar itu pucat dan ketakutan. Seperti yang biasa Alana lakukan untuk menggertaknya, mencoba melawannya dengan memprovokasi Akira untuk membuatnya mundur dan menyerah,  Kirei tidak akan diam saja. Dia tidak akan kalah dengan siapa pun. Sosok itu keluar dari mobil dengan senyum puas dan penuh kemenangan. Tangan Alana terkepal di sisi tubuhnya, menatap Rei Rei yang mengangkat alis dan menggodanya dengan senyuman dingin. "Sekarang atau nanti, kau harus berhenti untuk tidak menyentuh putraku, Alana," Alana tidak mampu mundur. Karena dia terkepung dari semua sisi, tidak ada gunanya untuk menyerah selain tetap maju. Alana memiringkan kepalanya. Menatap Kirei dengan ekspresi tenang, tetapi sorot matanya menantang wanita paruh baya itu. "Aku tidak akan mundur untuk membawa Akira bebas dari penjaramu, Nyonya Kirei," balas Alana dingin. Dan ketika Rei mengeluarkan pistol dari balik saku celana jinsnya, Alana tercekat, kehilangan napasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN