WAktu menunjukkan pukul 7 malam Agus dan jinbersiap-siap untuk pergi makan malam bersama kedua orang tua Jimin, mereka akan membahas tentang keberangkatan nya ke Korea.
"Ahjooma ngapain nyuruh kita bertemu sekarang, bikin males saja" dengus jin.
Agus hanya tersenyum melihat ocehan saudaranya itu, Agus sudah mengetahui apa yang di rencanakan kedua orang tua Jimin.
"Gus, Agus. Kenapa Loe malahan tenang-tenang saja,?" Tanya jin yang melihat Agus tenang.
"Sudahlah jangan ngoceh Mulu, gue lagi pokus nyetir nihh?"
"Gus, gue mau jujur nih tapi, tapi Loe janji ya jangan tahu si Jimin?"
"Loe mau jujur apa b*****t? Jangan-jangan Loe?" Agus melirik kedua mata nya dengan tajam.
"G-gue, g-gue jatuh cinta sama Dita?" MObil yang di kendarai Agus Seketika berhenti.
Brughk.." awhh..bisa enggak Loe kalau ngerem tuh jangan mendadak begini.?" Dengus jin kaget, kepalanya terbentur sangat keras kedepan.
"Apa Loe cinta sama Dita? Jangan macam-macam Loe. Gue yang duluan deketin tuh anak, Loe bisakan deketin temannya saja" jelas Agus kaget apa yang di katakan saudaranya itu.
"Emang ada yang salah? Gue lihat Dita itu cantik dan baik juga kok? Atau jangan-jangan, Loe naksir juga ya sama tuh anak?"
"E-enggak kok! Tapi kan inget enggak kita itu akan pergi ke Korea, dan akan ikut Audisi boyband di Korea inget cita-cita kita bodoh?"
Jin hanya tertegun dan memikirkan lagi apa yang harus di perbuatanya kali ini.
"Tapi gimana dengan perasaan gue b*****t Loe akggghjhhhhh
…." Ucap jin prustasi. Tapi apa yang di katakan Agus juga ada benarnya, jin pikir jika nanti kalau sudah dia sukses akan mengutarakan perasaannya kepada Dita.
"Ngomong-ngomong si Jimin kemana? Apa dia enggak ikut?"
"Tadi sih gue udah kasih tahu tuh anak ya, tapi tahu datang atau tidaknya."
"Oh ya sudahlah!"
Suasana menjadi hening tanpa ada percakapan kembali.
"Padahal gue juga sudah jatuh cinta sama Dita! Apa, gue juga harus memendam perasaan ini?" Batinya. Hatinya pun mulai gelisah dan tak menentu.
Akghhhhh…. b*****t" teriak Agus.
"Kenapa Loe setan, bikin gue kaget saja" desis jin.
"Gue kesal saja sama si Jimin. Bisa-bisanya dia tadi nganterin Dita ke cafe" jelasnya.
"Yang benar Loe. Gue enggak salah dengar kan? Kok bisa? Si bangke itu kan benci banget sama tu anak?"
"Sudahlah jangn bahas lagi tentang Dita?" Ucap Agus mengalihkan pembicaraan.
"Gus, apa gue dan Dita akan bersatu ya? Sedangkan dia saja belum tahu, kalau gue cinta sama dia. Terlebih lagi kita itu beda keyakinan, mungkin Dita akan mau Nerima gue jadi pendamping nya." Gumam jin yang Kembali memikirkan tentang Dita.
"Sudahlah, Kita bahas yang lain saja. Jin apa audisi nanti kita akan lolos ya? Terlebih lagi pasti peserta nya banyak.?" Agus kembali gusar mengingat audisi yang akan mereka akan ikuti nanti.
"Kita pasti bisa. Ingat kita akan memulai karir kita nanti di Korea, dan gue janji enggak bakalan mikirin tentang pendamping dulu . Jimin, Namjoon juga akan mengikuti kita" Ucap jin memberikan semangat pada Agus.
Suasana kembali menjadi hening tanpa ada percakapan.
***""*
Dita kembali mengingat apa yang telah terjadi dengan Jimin itu seperti mimpi.
"Park Jimin, sebentar lagi kita akan berpisah dan kita tidak akan bertemu kembali." Ucapnya tanpa sadar.
"Apa sih Loe Dita sampe segitunya mikirin dia. Dia itu cowok berengsek, ingat ga waktu Agus membawa Loe ke partynya. Akhhgg.. terserah gue pusing mikirin dia." Ucap Dita mengacak rambut nya.
Sebenarnya Dita bingung apa yang di rasakan nya, tapi jujur dari dalam hatinya di sudah menyukai Jimin. Tapi apalah daya Dita yang hanya seorang pelayan cafe, sedangkan Jimin anak orang kaya.
Dita juga mendengar kalau mereka akan kembali ke Korea untuk menyelesaikan sekolahnya, terlebih lagi kemarin Jimin sudah mengatakan tentang rencananya yang akan mengikuti audisi yang di adakan di sana.
Druddtt… Suara handphone Dita bergetar,
Terlihat di situ nama park Jimin di layar.
"Iya halo, ada apa kak?" Tanya Dita pada sambungan teleponnya.
(" Enggak, aku cuma mau tahu kabar kamu saja? Sudah makan belum?" Tanya Jimin dari sebarang telepon.)
"Aku baik-baik saja kak! Oh iya untuk handphone nya terimakasih! Sudah tadi" Dita terheran-heran kenapa sikap Jimin berubah terhadapnya.
("Sudahlah kamu sudah berterima kasih itu lebih dari 5x dari tadi, santai saja Dita. Oh iya, apa aku boleh tanya sesuatu?")
" Iya ka ada apa?"
("Apa kamu ada hubungan lebih dengan Agus?")
"Tidak kak. Hanya sebatas teman, dan sebagai pelayan dengan atasan!. Memangnya ada apa kak?"
("Tidak ada, Cuma mau tanya saja. Ohh ya sudah dulu ya, aku ada urusan dulu? Mulai saat ini kamu harus jaga jarak dengan Agus ingat itu!" Tegas Jimin, kemudian memutuskan sambungan telepon nya.)
"Dasar cowok aneh, bisa-bisanya dia mengatur gue. Emang gue siapa dia!" Dengus Dita. Dita semakin heran dengan perubahan sikap Jimin akhir-akhir ini lebih over terhadapnya.
"Akh sudahlah terserah dia gue bingung dengan semuanya."
Dita pun memejamkan kedua matanya, dia sudah lelah dengan aktivitas tadi di sekolah dan lagi harus bekerja.
"Dita .ditaa.." teriak Reni dari luar rumah.
"Agjhh siapa lagi sih! Baru saja gue mau istirahat ada saja ganguannya." Desis Dita yang kemudian membuka daun pintu.
"Heyy putri cantik. Apa Loe enggak inget janji Loe mau neminin gue." Teriak Reni.
"Bisa enggak Loe jangan teriak-teriak gue enggak budeg ya! Oh iya maaf gue hampir saja lupa!"
"Dasar Loe. cepet gihh ganti baju jangan lupa dandan yang cantik ya?"
"Ok.." Dita bergegas pergi kekamar untuk mengganti pakaiannya.
Tidak memakan waktu lama Dita sudah bersiap dengan mengenakan celana jeans dan kaos oblong warna hitam, setara dengan kulit putih mulus. Di tenteng nya tas selempang warna hitam
rambut yang ikal itu diikat alakadarnya, tampilannya yang sangat sederhana namun siapa saja yang melihatnya akan kagum dengan kecantikan apa yang di miliki dita.
"Ren ayo, nanti terlambat." Ajak Dita.
Reni yang melihat penampilan Dita seadanya berdecak kagum, sahabat nya memang sangat cantik.
"Ren ayo cepat."
"Oh iya ayo? Dita gue kagum banget dengan penampilan Loe yang sederhana ini. Ingat enggak, waktu kita makan di kantin bersama ka Agus dan ka jin. Mereka menatap Loe dengan penuh perhatian."
" Sudahlah jangan bahas mereka, gue jadi enggak nyaman. Mending kita bahas yang lain saja. Nanti lama enggak?"
"Oh ya udah deh? Nanti tidak lama kok! Kata asisten papahnya Jimin juga ada acara keluarga."
Dita hanya tersenyum menatap ke arah Reni, Dita sangat bersyukur mempunyai seorang sahabat seperti Reni tidak memandang kasta.
Mobil Reni akhirnya melaju dengan kecepatan sedang membelah suasana kota Jakarta malam hari.
Teettttt….
Teeetttt..
Suara klakson entah mobil siapa yang jelas dari tadi mengikuti nya.
" Dita…ditaaa. "
"Dita ada yang manggil Loe tuh?"
"Siapa. Perasan gue enggak ada janji juga dengan siapapun" ucap Dita heran.
Terlihat seorang laki-lakiyang memakai hoody warna hitam itu turun, mengetuk pintu mobil Reni.
"Dita, cepat kamu turun."
Perlahan-lahan Reni membuka kaca mobil itu takutnya dia itu adalah begal.
" Loe.. ngapain Loe ngikutin gue?" Teriak Reni.