*** PRANG! BUGH! “ARGHH! s****n!” PRANG! Nathan menghancurkan segala barang yang berada di kamarnya, tidak peduli jika orang tua serta adiknya mendengar hal itu. Nathan sudah terlalu kalap, tidak mampu berpikir jernih lagi. Yang terlintas di benaknya hanyalah bagaimana cara untuk melampiaskan emosi ini tanpa melukai orang lain, tanpa harus membuat orang lain menjadi korban dari emosinya. Dan tentu saja tidak ada cara lain selain menghancurkan barang dan menyebabkan dirinyalah yang kini terluka. Nathan meninju dinding berkali-kali hingga menyebabkan buku-buku jarinya berdarah. Nathan merasakan tangannya yang mati rasa, tetapi ia belum puas. Emosinya belum berkurang sedikitpun walau sudah menghancurkan kamarnya hingga bisa dikatakan layaknya kapal pecah. Pikiran Nathan terulang pada k

