Sore itu, mendung tebal. Gerimis sejak beberapa hari ini tiada berhenti, Sugeng keluar dari mobil membawa barang banyak, hingga harus dua kali bolak-balik. Atun hanya memandangi dari teras, tempatnya duduk. "Selamat sore sayang," sapa Sugeng kepada sang istri, sambil menyodorkan bungkusan, kemudian mengecup kening sang istri. "Mimpi apa semalam," pikir Atun heran, bercampur dengan kecurigaan penuh. “Maaf, selama ini, bapak memang terlalu sibuk mencari uang buat kalian, agar hidup kita layak, sampai-sampai lupa dengan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.” sambungnya, tapi tetap saja Atun masih merasakan keanehan. Sugeng tetap berusaha untuk meyakinkan, supaya dia bisa kembali mesra seperti masa itu, ia berusaha untuk kembali seperti dulu sebelum kehidupannya mapan seperti sekarang
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


