Bab 2. permainan baru di mulai

964 Kata
Rokok adalah teman dekatnya sejak beberapa tahun lalu, sekitar lima tahun lalu. Tapi selain rokok, Aluna punya satu teman baik, bernama Mila. menikmati sebatang rokok di balkon apartemen adalah salah satu kegemaran Aluna, begitu juga yang saat ini dilakukannya. Dua wanita tengah menikmati minuman beralkohol dan juga rokok, asap putih mengepul dari bibir keduanya. “Gimana kerjaan lo?” Aluna menoleh. “Ya,,, lumayan. Setidaknya gue bisa memenuhi kebutuhan gue dan bayar sewa apartemen.” “Adek lo, gimana?” Helaan lemah terdengar, “Masih gitu aja. Butuh biaya banyak. Anak khusus kayak gitu segalanya harus khusus.” Aluna tersenyum jahil. “Lo takut gue jual diri?” Mila terkekeh. “Iya. Takut lo kebablasan,” “Nggak lah. Gue masih waras di tengah kegilaa hidup ini. Menjadi LC tanpa harus menjual diri masih jadi profesi favorit sih.” “Penampilan lo terlalu menarik, Al. Gue yakin banyak lelaki hidung belang udah ngincer lo dari lama.” Aluna berdiri, bergaya layaknya seorang model. “Gue cantik, body bagus, siapa yang tahan coba? Gue jual minuman aja mereka mau beli dengan harga mahal, apalagi jual apem. Ngantri sih! “ senyum pongah terlihat di wajahnya, seolah ia benar-benar menginginkan pekerjaan itu, padahal yang terjadi justru sebaliknya, ia tidak menginginkan pekerjaan yang mempertaruhkan harga dirinya seperti yang digelutinya beberapa tahun ini. “Lo cantik banget, Al. Gue aja kalau jadi cowok pasti naksir berat. Lo cocoknya jadi istri CEO muda, bukan jadi LC kayak gini.” Aluna tertawa. “Jangan ketinggian kalau berkhayal, jatohnya sakit banget.” “Lo nggak pernah jatuh cinta emang?”Mila penasaran, sebab dari awal mengenal Aluna, tidak pernah melihat Aluna jatuh cinta. Tatapannya pada laki-laki hanya sebatas tertarik pada apa yang dimiliki lelaki, yakin uang. Aluna menoleh, “Gue nggak punya perasaan istimewa seperti itu untuk laki-laki. Di mata gue mereka hanya ATM berjalan yang bisa gue manfaatin.” Aluna terkekeh. “Hati gue udah mati.” Senyum samar terlihat, menyembunyikan sesal dan kecewa dalam hati. Ia pernah jatuh cinta. Jatuh sejatuh-jatuhnya pada seseorang yang dianggap akan menjadi cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya, namun kekecewaan itu menghantam angan-angan dan cintanya hingga tidak tersisa. Sejak saat itu dunia Aluna tidak lagi sama. *** “Bayarannya lumayan Al, masa mau di tolak.” Madam membujuk, saat menawarkan pekerjaan pada Aluna untuk malam ini. Tiba-tiba saja Aluna mendapatkan tawaran yang menggiurkan padahal sudah waktunya ia pulang ke Bogor untuk menjenguk ibu dan juga adiknya. “Jangan menolak rezeki. Kalau lagi ada, gas aja.” bujuk Madam lagi. “Jadwal cuti, Madam. Aku udah janji daka Gio dan Ibu mau pulang malam ini.” “Bayarannya besar, kalau nggak kamu boleh minta bayaran berapapun. Selain itu, kita juga dapat bonus seperti biasa dan tamu kita malam ini sangat spesial dia seorang CEO muda dan tampan, Madam sudah melihatnya. Kamu tidak akan kecewa. Kapan lagi dapat bayaran besar seperti itu, dengan bonus lelaki tampan.” Madam masih membujuk, menggunakan berbagai macam iming-iming. “Ayolah, sekarang sudah jam sembilan. Kamu datang saja dan si CEO tampan ini akan menunggumu.” Aluna terdiam sejenak, “Baiklah, aku hanya menemaninya minum, no bungkus!” Aluna mengingatkan. “Oke sayang,,, kalau mau dibungkus juga nggak apa-apa. Tamu kita malam ini sangat premium.” Memikirkan tawaran Madam yang begitu menggiurkan, akhirnya Aluna pun setuju untuk menunda kepulangannya, lebih baik mencari tambahan uang untuk biaya Ibu dan juga sang Adik yang memiliki kebutuhan khusus itu. “Hanya menjual minuman seperti biasa, kan?” Aluna meyakinkan, tak jarang tawaran besar itu datang dengan berbagai iming-iming, asal ia berani membuka celana dalamnya di depan lelaki hidung belang. “Iya, hanya jual minuman seperti biasa aja. Nggak lebih,” Madam tahu, selama ini Aluna hanya bersedia menjual minuman tanpa pernah mau menjual diri seperti yang dilakukan teman lainnya. “Baiklah, aku terima tawarannya.” Tepat pukul sebelas, Aluna sampai di lokasi. Klub sudah sangat ramai, biasanya memang semakin malam, akan semakin ramai. Aluna meletakkan tas kecil miliknya di loker yang sudah disediakan pihak klub, ia juga membuka coat hitam yang menutupi penampilan sexy nya malam ini. Dengan mengenakan rok pendek warna hitam sebatas paha, sementara bagian atas berupa tanktop berwarna senada, kulit putihnya semakin terlihat bercahaya. “Ayo, tamunya sudah menunggu.” ucap Madam. Aluna berjalan dengan penuh percaya diri, bahkan memasang wajah ramah dan menggoda seperti biasanya, ia masuk ke sebuah ruangan dimana lelaki berduit itu berada. Saat memasuki ruangan hanya terlihat satu orang saja, tamu khusus. Wajahnya masih belum terlihat jelas, samar oleh lampu yang sengaja dibiarkan redup. Dari penampilannya Aluna akhirnya percaya bahwa tamunya malam ini masih sangat muda, tampan atau tidak ia tidak tahu. Ia mendekat, menaruh beberapa botol minuman di meja. Minuman mahal yang sengaja dibawanya. “Mau saya temani malam ini,” nada sensual terdengar merdu dari bibirnya. Biasanya si hidung belang akan suka. “Tapi, saya hanya menemani minum saja tidak ada agenda lain setelahnya.” Aluna menjelaskan agar si lelaki tidak berharap lebih. “Tapi Tuan dijamin puas.” Aluna memberanikan diri menyentuh pundak lelaki itu dan di waktu yang bersamaan ia menoleh. Jarak yang sangat dekat membuat wajah si tamu terlihat jelas. “Murahan.” ucap si lelaki dengan seringai menghiasi wajahnya. Kedua mata Aluna terbelalak karena terlalu terkejut setelah tahu siapa tamunya. “Christian!” ucapnya pelan nyaris tidak terdengar. “Ya aku Lionel Christian. Kamu pasti masih ingat, kan?” Tian sengaja menyebutkan nama lengkapnya. Tangan yang semula ada di pundak Tian, dilepasnya dengan cepat. “Maaf, sepertinya saya salah ruangan.” Ia buru-buru beranjak, namun sayangnya Tian segera menahannya. “Kenapa buru-buru, kita belum melakukan apapun.” Lelaki itu menahan Aluna, mendekatkan wajahnya dan berbisik. “Bahkan kita baru saja memulainya, Aluna.” ucapnya yang membuat Aluna bergidik ngeri. Aluna berharap dirinya sedang berhalusinasi, kembali bertemu dengan lelaki itu di tempat seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN