Part 12

1860 Kata
Grizelle memandang bosan ke arah Gio dan Vino yang sedang bermain game di handphone mereka masing-masing. Grizelle berniat untuk menemui Gerald, namun yang Ia temukan malah kedua teman Gerald ini. Grizelle menatap ke arah Gio yang mulai berhenti bermain game dan membuka satu aplikasi obrolan online. Grizelle melirik sekilas untuk melihat dengan siapa Gio chattingan. Grizelle mendekat secara perlahan untuk melihat nama itu dengan jelas. Grizelle tidak salah lihat. “Kaila?” tanya Grizelle keceplosan Gio langsung menatap kesal Grizelle. Dan beralih menatap Vino yang masih asik bermain game. Kemudian Gio kembali menatap Grizelle sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya tanda menyuruh Grizelle diam. “K-kau dengan Kaila-“ bisik Grizelle Gio segera menarik tangan Grizelle dan membawanya untuk menjauh dari Vino. “Apa-apaan kau?” tanya Grizelle “Tenang mbak” jawab Gio “Kau pikir tarikan mu gak sakit?” tanya Grizelle “Lihat! Pergelangan tanganku jadi merah” sambung Grizelle “Iya, maaf” ucap Gio “Tapi apa itu benar?” tanya Grizelle “Apanya?” tanya Gio “Kau dan Kaila-“ “Iya, kami pacaran” potong Gio “Sejak kapan?” tanya Grizelle “Baru-baru ini” jawab Gio “Biar ku tebak, Gerald dan Vino belum tau ya soal ini?” tanya Grizelle Gio mengangguk. “Makanya, diam aja. Jangan bilang-bilang” ucap Gio “Kenapa?” tanya Grizelle “Gerald tidak akan membolehkannya. Dia pasti akan marah kalau tau Kaila pacaran” jawab Gio Grizelle memiringkan kepalanya. “Kenapa marah?” tanya Grizelle “Aih, Gerald itu sangat menyayangi adiknya. Dia mana mau Kaila dipermainkan cowok” jawab Gio “Baiklah, aku akan menjaga rahasia ini” ucap Grizelle “Sungguh?” tanya Gio Grizelle mengangguk. “Terima kasih” ucap Gio Grizelle kembali mengangguk. Gio yang tadi ingin melangkah pergi dihentikan oleh Grizelle. “Tapi kenapa Gerald belum datang juga?” tanya Grizelle “Memangnya dia mau datang ke sini?” tanya Gio balik “Lah aku kira dia bakalan ke sini” jawab Grizelle “Jam-jam segini biasanya dia ada di perpustakaan” ujar Gio “Kenapa gak bilang dari tadi?” tanya Grizelle kesal “Kau tidak ada bertanya” jawab Gio “Gak ada bertanya kau bilang? Aku sudah bertanya tadi apa Gerald bakalan ke sini apa enggak kalian jawab iya” ucap Grizelle kesal “Benarkah? Kami bilang begitu? Kami tidak fokus tadi karena bermain game, maaf” ucap Gio Grizelle menghentakkan kakinya kesal dan segera pergi meninggalkan Gio yang kembali melanjutkan main game dengan Vino. Grizelle melangkah menyusuri kampusnya. Sekarang sudah hampir sore, kelasnya sudah selesai tadi siang. Hari ini, dia memiliki shift malam. Langkah Grizelle terhenti saat melihat seorang laki-laki dan perempuan yang baru keluar dari perpustakaan. Grizelle mengikuti mereka yang sedang menuju taman dan duduk di sana. Dua orang itu adalah Gerald dan Kiara. “Apa benar Grizelle meminjam uangmu?” tanya Kiara membuka percakapan Gerald yang tadi hanya fokus dengan novelnya, melirik ke arah Kiara. “Kau tau darimana?” tanya Gerald “Hah! Ternyata benar ya? Astaga aku tidak menyangka” ucap Kiara “Aku tanya, kau tau darimana?” tanya Gerald “Aku mendengar beberapa orang bergosip seperti itu” jawab Kiara Gerald memutar bola mata malas. “Apa itu benar?” tanya Kiara sekali lagi “Benar atau tidaknya gosip itu, apakah ada hubungannya dengan mu?” tanya Gerald “Ya, ada hubungannya” jawab Kiara “Apa?” tanya Gerald “Aku tidak suka kalau kau terus berhubungan dengannya” jawab Kiara “Apa kita sedang dalam hubungan? Kenapa kau mengatur hidupku?” tanya Gerald “Aku hanya tidak suka, aku sudah ku bilang kan kalau aku menyukaimu” jawab Kiara “Wah, jadi kau suka pada Gerald?” tanya Grizelle yang menghampiri mereka “Kau menguping pembicaraan kami?” tanya Kiara “Enggak tuh, aku kebetulan lewat” jawab Grizelle Gerald menatap Grizelle dan Kiara secara bergantian. “Kau menyukai Gerald?” tanya Grizelle “Aku kan sudah pernah bilang padamu” jawab Kiara “Oh iya, aku lupa” ucap Grizelle “Maaf, aku dulu menanggap hal itu gak penting. Jadinya aku mudah melupakannya” ucap Grizelle “Jadi menurutmu sekarang ini penting?” tanya Kiara Grizelle mengangguk. Gerald tersenyum tipis saat melihat Grizelle mengangguk. “Kenapa? Kau menyukai Gerald juga?” tanya Kiara “Aku menyukai siapa, itu bukan urusanmu” ucap Grizelle “Pergilah! Kau mengganggu pembicaraan kami” ucap Kiara “Dan berhentilah merebut apa yang sudah aku miliki” sambung Kiara “Kau-“ “Kenapa? Kau takut aku membahasnya di depan Gerald?” tanya Kiara Grizelle mengepalkan telapak tangannya untuk menahan emosinya. “Kau memang tidak pernah berubah, kau selalu merebut milik orang lain. Tidak heran Tuhan mengambil nyawa kedua orangtuamu sebagai karma mu” ucap Kiara Grizelle sudah tidak tahan lagi. Grizelle menjambak rambut belakang Kiara. Gerald yang melihat itu sangat terkejut. “Apa kau bilang? Karma? Biar ku tunjukkan padamu apa itu karma yang sebenarnya” ucap Grizelle dan mulai ingin menampar Kiara “Grizelle!” seru Gerald menahan tangan Grizelle “Apa yang kau lakukan?” tanya Gerald “Lihat! Dia tidak pernah berubah. Pembuli memang akan selalu menjadi seorang pembuli” ucap Kiara “Kau tidak seharusnya menampar dia” ujar Gerald “Apa? Tidak seharusnya?” tanya Grizelle merasa tidak percaya dengan ucapan Gerald “Kau-“ ucapan Gerald terhenti saat melihat tetesan air mata yang jatuh dari mata kanan Grizelle Ya. Grizelle menangis. “Ya ampun! Kau menangis? Maaf” ucap Kiara Grizelle segera berlalu pergi meninggalkan Kiara dan Gerald. “Kau tidak seharusnya berkata seperti itu, apalagi kau membahas nyawa orangtuanya. Kau tidak malu dengan ucapanmu?” tanya Gerald kesal “Tapi itu memang benar” jawab Kiara “Untuk seterusnya kalau kau bicara seperti itu lagi, aku tidak akan tinggal diam” ucap Gerald dan segera berlalu pergi Kiara menatap punggung Gerald yang perlahan mulai menjauh dengan tatapan kesal. ***** Grizelle mencuci wajahnya yang sembap karena habis menangis. ‘Sial! Malu kali aku’ batin Grizelle ‘Kiara sialan! Lihat saja kau nanti’ umpat Grizelle dalam hatinya Setelah selesai mencuci muka, Grizelle keluar dari toilet yang berada di dekat taman itu. Grizelle melangkahkan kakinya untuk pergi, namun terdengar kerusuhan dari arah samping toilet itu. Grizelle bergegas mengikuti arah suara itu dan menemukan Kaila, Gigi dan Yeri yang sedang diperlakukan seenaknya oleh Shella, Bintang dan Ula. Grizelle segera menghampiri mereka. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Grizelle Grizelle membantu Kaila yang terjatuh karena didorong oleh Shella. “Eh ada Ay” ucap Shella “Berhenti memanggilku dengan sebutan Ay” ucap Grizelle “Kenapa? Karena kami bukan temanmu lagi? Ups, aku lupa. Kita memang tidak pernah berteman” ucap Shella Bintang tertawa. “Kalian tidak apa-apa?” tanya Grizelle Kaila, Yeri dan Gigi mengangguk. “Udah tobat sekarang?” tanya Ula “Diamlah!” ucap Grizelle “Sudah mau jadi sok pahlawan? Pembuli ya pembuli aja. Kau itu sama seperti kami. Jangan sekarang sok suci gini dong” ucap Bintang “Ayo kita pergi!” ajak Grizelle Gigi, Yeri dan Kaila hanya bisa mengangguk. Shella menarik baju belakang Grizelle. “Kau pikir bisa pergi begitu saja?” tanya Shella Grizelle mengatur nafasnya untuk menahan emosi. “Jadi kau mau apa?” tanya Grizelle “Kau mengambil mangsa kami, bukankah seharusnya minta maaf?” tanya Bintang “Ha? Kau bilang apa? Minta maaf? Kau bercanda?” tanya Grizelle “Apa ekspresi kami terlihat bercanda?” tanya Shella “Iya” jawab Grizelle santai Yeri, Kaila dan Gigi hanya bisa melihat tanpa berani membuka mulut. “b******k!” umpat Shella sambil mendorong kuat Grizelle hingga jatuh tersungkur ke tanah Grizelle bangkit berdiri dan segera melayangkan tangannya untuk menampar Shella. Plak! Tamparan Grizelle berhasil mengenai pipi kiri Shella dengan mulus. “Kau-“ Grizelle kembali menendang lutut Shella. “Hei, kau pikir kau siapa bisa mendorong ku seperti itu?” tanya Grizelle Bintang yang berniat membantu Shella segera dicegah oleh Grizelle. Grizelle menjambak rambut Bintang dan mendorongnya ke belakang. “Kau sudah tau aku pembuli, lalu kenapa kau mencoba untuk melawanku?” tanya Grizelle “Hei, ingat! Aku bos kalian dulu, lihat bos kalian sekarang. Hanya diam tak berkutik” ucap Grizelle membicarakan Ula “Pergilah dan jangan pernah mengganggu mereka lagi! Atau kalian masih ingin ku beri pelajaran lebih?” tanya Grizelle Bintang, Shella dan Ula segera pergi dengan penuh emosi. “Maaf ya, kalian harus melihatku bersikap seperti tadi” ucap Grizelle “Mereka kalau tidak digitukan, tidak akan pernah berhenti” sambung Grizelle “Iya kak, gak apa-apa kok” ucap Yeri “Justru kami harus berterimakasih” ucap Kaila “Terima kasih, kak” ucap Yeri, Kaila dan Gigi bersamaan Grizelle hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. “Oh aku sudah telat” ucap Yeri “Kalian ada kelas?” tanya Grizelle Yeri dan Gigi mengangguk. “Pergilah kalau gitu” ucap Grizelle “Tapi siku Kaila terluka” ucap Gigi Grizelle segera melihat siku Kaila. Dan benar saja, siku Kaila terluka. “Kalian pergi saja, aku akan mengobatinya” ucap Grizelle “E-enggak usah kak, biar aku obati sendiri” ucap Kaila “Tak apa, kalau gak diobati secepatnya nanti malah jadi infeksi” ucap Grizelle “Kalau begitu terima kasih ya kak, kami pamit dulu” ucap Gigi Grizelle mengangguk. Gigi dan Yeri pergi berlalu meninggalkan Grizelle dan Kaila. “Kau tunggu sini” ucap Grizelle Kaila mengangguk. Grizelle segera pergi ke warung terdekat untuk membeli obat luka dan penutup luka. Setelah selesai, Grizelle menghampiri Kaila dan mengobati sikunya. Kaila meringis kesakitan. “Sudah selesai” ucap Grizelle “T-terima kasih kak” ucap Kaila Grizelle mengangguk. “Mau ku belikan ice cream?” tanya Grizelle “Kau sangat menyukai ice cream kan?” tanya Grizelle lagi “Kakak tau darimana?” tanya Kaila “Dari kakakmu” jawab Grizelle “Kakak dan kak Gerald sejak kapan dekat?” tanya Kaila “Belum lama ini” jawab Grizelle “Mau ku belikan ice cream?” tanya Grizelle lagi Kaila menggeleng. “Gak perlu kak” tolak Kaila Grizelle hanya mengangguk. “Tapi, lutut kakak juga terluka” ujar Kaila Grizelle segera melihat lututnya. Dan benar, lututnya berdarah karena terluka. ‘Ah sial! Pasti karena Shella tadi’ batin Grizelle “Sini, biar ku obati juga” ucap Kaila “Aku tak apa. Bisa ku obati nanti” tolak Grizelle “Nanti bisa jadi infeksi loh kak kalau gak diobati secepatnya” ucap Kaila “Apa ini? Kau meniru ucapanku” ucap Grizelle Kaila tertawa. Dan segera mengobati lutut Grizelle. “Terima kasih” ucap Grizelle Kaila mengangguk. “Maaf ya kak, karena kami kakak juga ikut terluka” ucap Kaila “Ah gak apa-apa” ujar Grizelle “Kalau gitu aku pamit duluan ya kak, aku harus segera pulang” ucap Kaila Grizelle mengangguk. Kaila pun segera berlalu pergi. Grizelle kembali menatap lututnya yang terluka. ‘Kau memang tidak pernah berubah, kau selalu merebut milik orang lain. Tidak heran Tuhan mengambil nyawa kedua orangtuamu sebagai karmamu’ Kalimat itu kembali terlintas dipikiran Grizelle. ‘Aku tak pernah merebut siapapun’ batin Grizelle Grizelle kembali melangkahkan kakinya sambil terpincang-pincang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN