"Uhuk, uhuk! Apa kau bilang?" Ozawara sampai tersedak tidak menyangka bahwa Ragana akan berkata seperti itu.
"Iya. Saya mau pinjam baju karena saya belum mandi dan lupa bawa baju," jelas Ragana.
Ozawara menepuk jidatnya dan berbalik masuk ke dalam. Ia meninggalkan Ragana yang berdiri kebingungan melihat ekspresi wanita itu.
"Sati! Sati!" teriak Ozawara memanggil asisten rumah tangga.
"Saya, Bu," sahut Sati berjalan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Kau urus pria gila yang ada di depan pintu. Rasa-rasanya kepalaku akan pecah menghadapi pria gila sepertinya," ujar Ozawara memerintah. Ia tidak yakin kepalanya akan tetap utuh jika berhadapan dengan Ragana lebih lama lagi.
"Siap, Bu."
Sati, gadis berusia delapan belas tahun itu langsung menghampiri Ragana. Baru sampai di depan pintu, gadis itu sudah seperti melihat idola KPop. Terpana dengan mulut yang terbuka lebar.
Melihat Sati yang seperti itu membuat Ragana maju ke depan. Tangan kanannya menyentuh dagu dan tangan kirinya menyentuh kepala Sati. Kemudian menekan keduanya bersamaan hingga mulut gadis itu tertutup rapat.
"Ya ampun, Cha Eun Woo Oppa. Kenapa Oppa bisa ada di sini?" tanya Sati melihat Ragana seperti idolanya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Ragana menjulurkan kepalanya menatap ke dalam sambil menggaruk kepalanya. Tidak lupa dengan mulutnya yang terus menguap.
"Ayo ikut Sati, Oppa!" ajak Sati.
Sebelum mengajak Ragana masuk ke dalam. Gadis itu sudah memastikan tidak ada orang lain di sana yang artinya memang Ragana lah yang dimaksud majikannya.
"Ke mana?" tanya Ragana.
"Tadi, Ibu Oza minta Sati untuk mengurus Oppa. Jadi, sekarang Oppa boleh ikut Sati buat istirahat," jawab Sati.
"Oke."
Ragana pun mengikuti Sati dari belakang menuju dapur. Lalu, gadis itu bertanya apa yang Ragana butuhkan dan pria itu pun menjawab apa saja yang ia butuhkan saat ini. Seperti, baju, kamar mandi, dan makanan untuk sarapan.
"Oppa tunggu di sini sebentar. Sati mau cari baju dulu buat Oppa," ujar Sati bergegas pergi mencari baju.
Tidak lama kemudian, gadis itu kembali dengan membawa setelan serba hitam. Mungkin, setelan itu milik Pentagon yang dulu pernah menjadi pengawal pribadi Kanagara, ayah dari Ozawara.
"Ini bajunya dan Oppa bisa mandi di sana," ujar Sati menyodorkan setelan dan menunjuk ke arah kamar mandi yang terletak tidak jauh dari dapur.
"Oke, terima kasih, Sati cantik," balas Ragana sambil mengedipkan sebelah matanya.
Perbuatan kecil Ragana mampu meluluhlantakkan hati Sati. Muncul beberapa bentuk hati yang menyelimuti gadis itu.
"Subuh-subuh ketemu hantu, no. Subuh-subuh ketemu cowok ganteng bak oppa-oppa korea, check," cetus Sati sambil melompat kegirangan.
Sementara Sati sibuk berkutat di dapur membantu rekannya yang sudah senior membuat menu sarapan pagi. Ragana bergegas membersihkan diri dan setelah selesai menunggu di ruang tamu. Pakaiannya yang serba hitam membuatnya terlihat sangat tampan. Mirip dengan Pentagon dulu ketika memakai baju itu. Namun bedanya, Pentagon selalu bersikap dingin. Sedangkan Ragana terlihat lebih lembut.
Tiba-tiba, terdengar suara hak tinggi yang beradu dengan lantai. Lama-kelamaan, suara itu kian mendekat membuat Ragana tertarik dan sedikit mengangkat kepalanya, lalu berdiri.
"Ini, sih, bukan bidadari turun dari kahyangan. Tapi, bidadari turun dari tangga," batin Ragana terkekeh geli.
"Apa lihat-lihat?!" ketus Ozawara.
"Ah, mmm ... Selamat pagi, Ibu," sapa Ragana.
Jangan sampai ia membuat kesal Ozawara di hari pertama sebelum melakukan percobaan sudah gagal. Mau bayar pakai apa nanti biaya kelulusannya kalau sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan.
"Pagi. Duduklah!" ketus Ozawara.
"Terima kasih." Ragana pun kembali duduk, "Maaf, Bu. Sebelum saya mulai bekerja sebagai baby sitternya Res. Alangkah baiknya saya tahu apa-apa saja yang Res sukai dan tidak sukai," tambahnya.
"Tugasmu di sini memang baby sitter, tapi berbeda dengan baby sitter lain. Kau hanya perlu menemani Res dua puluh empat jam. Kau bertugas menemaninya bermain, menyuapi makan, membuatkan s**u, dan menidurkannya di jam tidurnya. Selain itu, akan ada Sati yang mengerjakannya," jelas Ozawara.
Tidak mungkin ia menyerahkan tugas untuk memandikan dan membersihkan popok putrinya pada seorang pria yang bukan ayah dari putrinya. Ozawara juga tidak menyangka bahwa Ragana akan menanyakan perihal putrinya. Padahal sebelumnya, belum pernah ada baby sitter yang seperti Ragana. Mereka langsung melakukan tugas mereka tanpa ingin tahu tentang anak yang akan mereka urus.
"Baiklah. Aku rasa akan cukup mudah. Tapi, Bu. Dua puluh empat jam itu artinya saya harus tinggal di sini dong," ujar Ragana menilai.
"Apa kau keberatan? Kalau kau keberatan, kau tahu bukan di mana letak pintu keluar rumah ini?" tanya Ozawara dingin.
Wanita itu pikir, mana ada pria muda seperti Ragana akan menerima tawarannya. Pasti Ragana akan menolak karena merasa kehidupannya akan hancur jika terus-menerus di dalam rumah itu. Terlebih, ia harus mengurus seorang anak.
"Tidak, bukan itu. Siapa yang tidak mau tinggal di rumah sebagus dan sebesar ini," sahut Ragana sambil mengedarkan pandangannya menatap sekeliling rumah itu.
"Sial! Aku pikir dia akan menolak," batin Ozawara mengumpat sewot.
"Itu artinya kau setuju. Meskipun kau bekerja dua puluh empat jam, tapi kau tenang saja. Aku sebagai seorang ibu tidak akan lepas tangan. Karena aku bekerja dari pagi sampai sore. Jadi, kau akan dipanggil jika Res membutuhkan sesuatu."
Karena bekerja di perusahaan keluarga sendiri dan pimpinannya juga adik sendiri. Jadi, Ozawara membuat jadwal sendiri untuk selalu pulang sore meski banyak pekerjaan yang menumpuk. Adik kesayangannya, Lakeswara, akan siap membantu asalkan keponakan tercintanya tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu.
"Sepertinya pekerjaanku sangat ringan menjadi seorang baby sitter. Lalu, kalau masalah gaji bagaimana?"
Ragana merasa pekerjaannya ini bukan sebuah pekerjaan. Di sana ia hanya dituntut untuk menemani Reswara agar tidak kesepian. Jadi, karena tugasnya hanya untuk menjadi seorang teman bagi bocah mungil itu. Apa gajinya juga akan menyesuaikan dengan pekerjaannya? Jika iya, maka ia harus mencari pekerjaan lain.
"Untuk masalah gaji kau tidak perlu khawatir. Aku bisa memberi lebih dari yang kau bayangkan. Karena kau akan tinggal di sini. Jadi untuk kebutuhanmu, semuanya aku yang akan tanggung. Asalkan kau bekerja dengan baik. Maka, aku juga akan bersikap baik padamu," jelas Ozawara.
Untuk uang tidak akan menjadi masalah bagi seorang Ozawara. Yang ia butuhkan hanya kebahagiaan putri semata wayangnya. Jadi, asalkan putrinya selalu sehat dan bahagia. Maka, tidak ada yang ia inginkan lagi di dunia ini.
"Oke, aku mengerti. Tapi, dari kemarin saya mendengar ibu memanggil putri Ibu dengan sebutan Res. Kalau boleh tahu, siapa nama lengkap Res?" Tidak etis jika ia bekerja sebagai baby sitter, tapi tidak tahu nama lengkap anak yang akan ia urus.
"Nama putriku Reswara Candramawa dan namaku Ozawara Kasha Candramawa. Jadi, kau boleh memanggil putriku Res dan memanggilku Oza," jelas Ozawara agar Ragana tidak bertanya lagi.
"Baiklah, Ibu Oza. Apa boleh saya langsung melakukan pekerjaan saya?" izin Ragana.
"Tentu saja. Ayo ikut aku ke atas!" balas Ozawara mengajak Ragana ke kamar putrinya.
Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga dengan Ozawara yang di depan dan Ragana yang di belakang. Pria itu berjalan sambil mengedarkan pandangannya. Meneliti setiap sudut rumah dengan gumaman-gumaman takjub. Baru pertama kalinya bagi Ragana masuk ke dalam rumah semewah itu. Yah, meskipun rumah itu sudah turun temurun dari kakek uyutnya Ozawara. Namun, rumah itu tetap kokoh dan kuat.
Setelah berada di lantai dua, Ozawara menunjukkan letak kamarnya. Barangkali saja ada keadaan mendesak yang memungkinkan bagi Ragana untuk memanggilnya. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam kamar Reswara.
Baru saja membuka pintu, bocah mungil itu sudah berteriak dengan senyum yang merekah menghiasi wajah mungilnya.
"Daddy, Daddy ..." Reswara berdiri di tempat tidurnya yang terlihat seperti box bayi. Namun, box bayi milik Reswara terlihat lebih besar dan tinggi. Mungkin Ozawara sengaja agar ketika terbangun dan berdiri putrinya tidak akan terjatuh ke bawah.
"Halo, Res. Apa kabar?" sapa Ragana.
Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Reswara, hati Ragana merasa tenang. Ia merasa sangat cocok dan nyaman dengan bocah mungil itu.
Reswara merentangkan kedua tangannya dan berkata dengan lidah cadelnya, "Gendong, Daddy, gendong."
Ragana pun mendekat dan merengkuh tubuh Reswara dan menggendongnya. "Apa Res rindu sama Daddy?" tanya Ragana.
"Res rindu, Daddy," jawabnya.
Cara bicaranya yang masih sedikit kurang jelas membuat Ragana gemas.
"Res? Apa sekarang kau melupakan Mommy, hum?" tanya Ozawara seolah merasa cemburu dengan sikap putrinya.
"Iya, Mom," jawab Reswara sambil terkekeh menunjukkan deretan gigi susunya. Bocah mungil itu menyembunyikan wajahnya di bahu kiri Ragana.
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud untuk merebut Putri Ibu," cetus Ragana tidak enak. Baru sebentar berinteraksi dengan Reswara dan ia sudah merebut bocah mungil itu dari ibunya.
"Santai saja. Itu artinya Res benar-benar menyukaimu dan aku berharap kau bisa menjaganya dengan baik," balas Ozawara.
"Terima kasih, Bu." Ragana berusaha sesopan mungkin, agar ia bisa bertahan lama bekerja di sana.
"Kita turun ke bawah. Biar Sati yang mengurus Res sebelum pekerjaanmu di mulai."
Saat ini, Sati sedang menyiapkan sarapan untuk Reswara. Dan sekarang, sudah waktunya bagi bocah kecil itu membersihkan diri sebelum waktu sarapan tiba. Jadi, setelah Sati selesai membuat sarapan, gadis itu langsung memandikan Reswara.
Sementara Reswara membersihkan diri. Di ruang tamu Ozawara dan Ragana sedang berbicara serius.
"Jangan pernah menyebutkan kalau kau Daddy Res di depan orang lain. Kau hanya boleh mengatakannya jika di depan Res saja. Aku tidak ingin ada orang yang salah paham dengan kita dan mengira kalau kau benar-benar ayah dari anakku," ujar Ozawara mengingatkan. Ia takut orang akan salah paham padanya dan menimbulkan kekacauan.
"Iya, saya mengerti. Lagi pula, saya juga tahu batasan saya di rumah ini." Ragana tahu siapa dirinya dan tidak berencana untuk membuat masalah, "Kemarin saya sempat melihat ayahnya Res. Tampan, tapi kenapa sama sekali tidak mirip dengan Res. Ibu Oza juga tidak mirip dan justru lebih mirip dengan ayah Res."
Mungkin yang dimaksud oleh Ragana adalah Lakeswara. Karena pria itu sedikit mirip dengan Ozawara di bagian tertentu.
"Aku tidak menyangka, pria bodoh ini akan menganggap Lake sebagai ayah putriku," batin Ozawara.