aku bukan Rangga

1244 Kata
dari Amerika ke Indonesia... Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sky menyaksikan rumah keluarga kandungnya secara langsung. Sebuah bangunan megah berdiri tegak di hadapannya—terlalu besar, terlalu sunyi, dan terlalu asing untuk disebut rumah. Sejak kecil, tempat ini hanya sebatas nama tanpa bentuk, tak pernah hadir dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada kenangan yang melekat, tidak ada suara tawa yang terngiang. Hanya sebuah fakta bahwa rumah ini pernah dan masih menjadi milik mereka—keluarga yang tak pernah ia kenal. Di pangkuannya, map berwarna cokelat tergenggam erat. Isinya adalah biodata keluarga yang berhasil dikumpulkan oleh Tio, pengawal dan pengasuh yang telah bersamanya sejak kecil. Melalui tangan Tio, ia mengetahui siapa saja orang yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya—meski kenyataannya, mereka hanya nama-nama asing yang tertera di atas kertas. Suasana di dalam mobil begitu hening, hingga suara Tio yang tenang pun terdengar begitu jelas. “Tuan muda, kita sudah sampai. Apakah Anda ingin turun?” Sky tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke arah bangunan yang menjulang di hadapannya. Dalam diamnya, ia berusaha menguatkan diri. Langkah kecil ini mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun baginya, ini adalah awal dari bab yang sama sekali belum pernah ia baca. Perlahan, ia mengangguk. Sky menenteng sebuah tas kecil di tangannya dan menggenggam erat boneka beruang biru yang sudah tampak usang. Boneka itu ia beri nama Biru, sesuai dengan warna kainnya yang pudar. Meski tampak lusuh, boneka itu sangat berharga baginya—satu-satunya benda yang selalu mengingatkannya pada nenek, hadiah ulang tahun saat ia genap berusia tujuh tahun. Pintu mobil telah terbuka. Dengan bantuan Tio, Sky akhirnya turun dan berdiri di luar, tepat di depan rumah yang selama ini hanya menjadi bayangan samar di pikirannya. Matanya menatap bangunan itu tanpa suara, namun jelas terlihat kegelisahan di wajahnya. Tio kemudian bergegas ke bagasi mobil, membuka pintu belakang untuk mengambil koper-koper mereka. Beberapa cukup berat, sehingga ia mengangkatnya satu per satu dengan tenang. “Paman, masih lama?” tanya Sky pelan. Ia masih berdiri di sisi mobil, tanpa niat mendekat atau membantu. “Sebentar lagi, Tuan. Jika Tuan Muda ingin masuk lebih dulu, silakan saja,” jawab Tio sopan sambil tetap sibuk dengan barang-barang. Sky cepat-cepat menggeleng keras. “Tidak, Sky tidak mau masuk sendirian. Sky tunggu Paman saja.” Mendengar itu, Tio tersenyum kecil, menahan kekehan yang hangat. Meski sudah bertumbuh besar, Sky tetaplah anak yang ia kenal sejak dulu—pemalu, berhati lembut, dan sedikit takut pada hal-hal baru. Melihat Tio masih sibuk, Sky akhirnya ikut membantu. Ia mengambil koper yang paling kecil dan mengangkatnya dengan dua tangan. Bebannya ringan, tapi penuh tekad. “Sky bantu yang ini saja, Paman. Yang besar biar Paman saja, ya,” ujarnya sambil menunduk sedikit, merasa bertanggung jawab. Tio menoleh sejenak, mengangguk pelan. “Baik, Tuan. Terima kasih.” Dan untuk pertama kalinya, keduanya melangkah bersama menuju rumah yang penuh tanda tanya—tempat di mana masa lalu, dan mungkin masa depan, menanti untuk ditemukan. Pintu utama perlahan terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat yang berusaha menyambut suasana canggung. Ia mengenakan seragam sederhana, rapi, dan penuh kesopanan. Dialah Bi Ningsih, asisten rumah tangga sekaligus kepala pengurus rumah. “Selamat datang, Tuan Muda Sky,” ucap Bi Ningsih dengan ramah, sembari menahan pintu agar tetap terbuka. Sky menoleh ke arah Tio dengan bingung. Ia hanya memahami sedikit bahasa Indonesia, dan tidak sepenuhnya mengerti ucapan wanita itu. Tio segera melangkah maju, menerjemahkan dengan lembut apa yang disampaikan Bi Ningsih. Mendengar itu, Sky hanya membalas dengan senyum kecil yang tulus namun canggung. “Dimana Tuan Robert sekarang?” tanya Tio kepada Bi Ningsih setelah menyapa dengan hormat. “Beliau ada di kamar,” jawab Bi Ningsih pelan. “Masih sangat terpukul dengan kepergian anak dan istrinya.” Suasana seketika terasa lebih berat. Bi Ningsih mulai membantu membawakan sebagian barang milik Sky, sementara Tio hanya mengangguk perlahan. Ekspresi wajahnya berubah—tak lagi setenang sebelumnya. Sky memperhatikannya, merasa bingung. “Paman, kenapa?” tanyanya pelan, nada suaranya cemas. “Tidak apa-apa, Tuan Muda,” jawab Tio dengan tenang. “Saya akan mengantar Anda menemui Tuan Besar—ayah Anda.” Sky langsung terpaku. Raut wajahnya berubah drastis. Ketakutan jelas terlihat dalam matanya. Ia menggeleng kuat. “Tidak mau, Paman… kalau papa nolak Sky gimana? Kalau dia marah? Atau… atau usir Sky? Atau… dipukul?” Suaranya gemetar, dan kalimatnya nyaris tak bisa diselesaikan karena rasa takut yang menumpuk di dadanya. Tio merunduk sedikit, menatap Sky dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. “Tidak akan terjadi seperti itu,” ucapnya meyakinkan. “Saya ada di sini. Di samping Tuan Muda. Kalau pun beliau menolak, kita akan pergi bersama. Tapi, setidaknya… beri kesempatan untuk mengenalnya, meski hanya sebentar.” Sky terdiam. Masih takut, tapi mulai ragu pada ketakutannya sendiri. Boneka Biru yang masih berada dalam genggamannya ia peluk lebih erat—seolah mencari keberanian di dalamnya. --- Bunyi lembut dentingan lift menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai tiga. Pintu terbuka perlahan, dan Sky melangkah keluar sambil tetap menggenggam tangan Tio erat-erat. Langkahnya ragu, dan matanya terus menyapu koridor dengan waswas. “Tenang saja, Tuan Muda,” bisik Tio dengan suara pelan namun mantap. “Kita hanya akan tinggal di sini sampai Papa Tuan sembuh. Setelah itu, jika Tuan masih ingin pulang, kita akan pulang.” Sky tak menjawab. Ia hanya mengangguk perlahan, mencoba menenangkan dirinya meskipun rasa takut masih membekap d**a. Sampailah mereka di depan sebuah pintu berwarna putih, tampak bersih dan terawat. Tio mengangkat tangannya dan mengetuk perlahan. Tok tok tok. Tidak ada jawaban dari dalam. Sky menatap Tio dengan cemas. Ia tetap menggenggam tangan pengawal setianya itu tanpa ingin melepaskan. Dengan sedikit ragu dan permisi yang sopan, Tio akhirnya membuka pintu perlahan. “Selamat siang, Tuan Robert. Saya mohon izin masuk,” ucapnya sebelum melangkah ke dalam, diikuti oleh Sky yang berjalan pelan-pelan di belakangnya. Ruangan itu tenang, dengan cahaya matahari menyusup masuk dari jendela besar yang terbuka tirainya. Seorang pria paruh baya duduk membelakangi mereka, di kursi roda, menatap kosong ke arah jendela. Dari tempat duduknya, pemandangan taman belakang terlihat jelas—sebuah kolam renang dan lapangan yang tertata rapi. Tio berhenti beberapa langkah dari kursi roda itu. Suaranya tenang saat berbicara. “Saya kembali, Tuan. Dan kali ini, saya ingin memperkenalkan anak Tuan… namanya Sky. Ia sudah besar sekarang. Apakah Tuan tidak ingin menoleh dan melihatnya?” Sky hanya diam. Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang dibicarakan, namun dari intonasi dan nada suara Tio, ia tahu ini momen penting. Tio lalu menyentuh bahu Sky dengan lembut, mendorongnya maju beberapa langkah. Dan saat itulah, lamunan Robert pecah. Matanya menatap lurus ke arah Sky, dan seketika wajahnya berubah—antara terkejut, bingung, dan tak percaya. Suaranya keluar serak, seakan baru bangun dari mimpi yang panjang. “Rangga…? Kamu… kamu masih hidup…?” Seketika, ia membuka lengannya dan menarik tubuh Sky ke dalam pelukan. Pelukannya erat dan penuh kerinduan, seakan menolak melepaskan kembali sosok yang diyakininya adalah anak yang telah tiada. Sky terkejut. Tubuhnya kaku, hatinya bergejolak. Pelukan itu hangat, namun asing. Bukan pelukan yang ia kenal… bukan pelukan yang pernah ia rindukan. Ia mencoba melepaskan diri, menahan napas yang mulai sesak karena emosi yang bercampur. “Lepaskan…” bisiknya pelan. “Lepaskan aku… aku bukan Rangga!” Pelan-pelan, Robert melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Sky dengan bingung, seolah kesadarannya baru saja kembali. Sky menunduk, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap langsung ke mata pria itu. “Aku Sky. Anak yang Papa tinggalkan… bukan kembaranku yang sudah pergi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN