“Uh… teman-teman.” Lima gadis menoleh ke belakang, menatap Alysa yang tiba-tiba memanggil dengan suara lebih pelan dari biasanya. Gadis itu bergerak sedikit gelisah hingga siapa pun dapat melihatnya dengan jelas. Ketidaktenangan dalam dirinya menimbulkan letupan rasa khawatir pada teman-teman sekelompoknya. Mereka sudah berurusan saat insiden Charlotte, jadi wajar bagi mereka untuk was-was lagi. Beatrice menghampiri Alysa, kembali dikuasai panik yang sama seperti saat insiden Charlotte. “Apa? Apa? Katakan padaku, kau sakit, terluka, lapar, haus?” Alysa memijat pelipis dan memeluk perutnya, memeragakan seseorang yang sedang menderita sebaik mungkin. Tak lupa sedikit batuk-batuk diiringi gerakan lemah seolah-olah hendak pingsan. “Duduklah dahulu, duduk,” ujar Beatrice, menuntunnya du

