“Kau tidak apa-apa?” tanya Kallista Trancy setelah Alysa Flow beserta dua temannya pergi meninggalkan pesta.
Lizzy mengangguk kecil. “Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuan kalian.”
“Seharusnya kau tidak menerimanya begitu saja. Dia ingin menamparmu, tahu,” omel salah satu laki-laki dengan mata hitam kelam.
“Kau buta? Dia memang berniat memancing perempuan itu untuk menamparnya,” sahut laki-laki lain datar membuat si mata hitam meliriknya sinis.
Lizzy hanya tersenyum canggung melihat mereka dua anak laki-laki itu mulai bertengkar. Setelah mereka berbalik badan menghadap Lizzy, Lizzy mengenali mereka. Sepasang laki-laki kembar bermata hitam kelam adalah anak-anak dari keluarga Phantomhive; Asher dan Ashton Phantomhive. Sedangkan dua anak lainnya dari keluarga Trancy; Kallista dan Darren Trancy.
Anak-anak yang sedari awal dicari-cari oleh Lizzy, kini menunjukkan batang hidung mereka sendiri.
Kallista mendecak pelan. “Berhenti bertengkar, bodoh. Tidak bisakah kalian untuk satu hari saja tanpa berdebat, huh?”
Asher dan Darren mengerucutkan bibir, cemberut. Mereka saling membuang muka dan bersedekap. Terlalu kompak.
“Sekali lagi, terima kasih atas bantuan kalian,” ujar Lizzy sedikit canggung setelah Asher dan Darren berhenti berdebat.
“Tidak perlu, kami tidak terlalu membantu,” sahut Ashton, satu-satunya yang berwatak tenang dan berwajah datar.
Lizzy tersenyum geli. “Tapi, jika kalian tidak datang, aku akan terkena tamparan Alysa.”
“Ya, kau cukup berani memakai strategi seperti itu. Jika itu aku, aku akan menghajarnya duluan tanpa ragu-ragu,” ujar Kallista santai membuat Lizzy hampir membelalak kaget, sepenuhnya tidak menyangka karakteristik Kallista tidak ada feminin-femininnya.
Asher melirik Kallista sinis. “Hei, jangan mengajarkannya menjadi perempuan tomboy sepertimu. Aku tidak ingin ada Kallista kedua.”
“Siapa kau ngatur-ngatur? Memangnya kenapa jika ada perempuan sepertiku, huh?” balas Kallista tidak terima.
“Bukankah sudah jelas? Satu Kallista sudah merepotkan, jangan ditambah lagi.”
“Seharusnya kalian berterimakasih dengan eksistensiku di sini. Jika tidak, siapa yang akan mengatur kalian?”
“Kami tidak butuh.”
“Kau ingin berduel lagi denganku?”
“Maju kalau berani!”
Mata Lizzy membulat melihat Kallista maju menyambar rambut Asher. Buru-buru Asher lari dari tangan pedas Kallista. Tidak butuh waktu lama, mereka menyingkir, terjebak kejar-kejaran selayaknya kucing dan tikus.
Lizzy seharusnya tidak perlu kaget. Dia sudah mendengar kedekatan anak-anak Trancy dan Phantomhive. Mereka membentuk kelompok sendiri dan menjauh dari anak-anak lain. Mereka tidak suka bergaul dengan anak-anak lain. Tidak menaruh peduli juga pada reputasi sosial. Mereka menghadiri pesta teh hanya untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai bangsawan, yakni debut sosial dan menunjukkan eksistensinya semata.
“Elizabeth, temanmu menunggu di sana,” ujar Ashton mengalihkan perhatian Lizzy dari aksi kejar-kejaran Asher dan Kallista.
Lizzy menoleh ke arah dagu Ashton menunjuk. Menemukan figur Gideon berdiri tidak jauh dari mereka dengan membawa nampan berisi secangkir teh. Buru-buru Lizzy pamit ke Ashton dan Darren untuk menghampiri Gideon. Lizzy sungguh melupakan eksistensi Gideon.
“Gideon, maaf merepotkanmu,” ujar Lizzy sesaat setelah sampai di hadapan Gideon.
Gideon tersenyum hangat. “Tidak masalah. Maafkan aku, aku tidak bisa membantumu saat diganggu oleh mereka. Kau juga terkena masalah karena dekat denganku.”
Lizzy menggeleng kecil. “Tidak, itu bukan salahmu. Kau tidak bersalah, Gideon.”
“Lizbeth memang baik,” senyuman Gideon semakin lebar sebelum dia menoleh ke Ashton dan Darren yang menatapnya terang-terangan dari kejauhan. Lantas, mata amber Gideon kembali menatap mata biru berlian Lizzy, “kau ditunggu oleh mereka. Lebih baik kau bersama mereka.”
Lizzy mengerjap bingung, menoleh ke belakang sekilas untuk menemukan Ashton dan Darren ternyata menatapnya. “Ah, sepertinya begitu.”
“Kembalilah. Aku akan menunggumu di sini.”
Lizzy menoleh ke Gideon, kaget. “Eh?”
“Mereka tidak pernah bergaul dengan anak-anak lain. Jadi, aku tidak bisa bergabung.”
“Tapi, apakah kau baik-baik saja? Menungguku akan memakan waktu yang la….”
Lidah Lizzy kelu kala matanya bertemu tatap dengan mata hijau Alice. Kakaknya itu berdiri tidak jauh di belakang Gideon. Menatapnya dengan wajah datar dengan tangan bersedekap. Dari auranya saja, Lizzy paham bahwa Alice marah padanya.
Lizzy menelan ludah susah payah. “… ma.” cicitnya menyelesaikan kalimat yang tertunda.
“Tidak masalah. Aku baik-baik saja. Mereka pasti ingin membicarakan sesuatu denganmu, pergilah,” ujar Gideon lagi-lagi menggunakan senyum tercerah yang tidak bisa ditolak oleh Lizzy.
Lizzy mengangguk kaku seperti robot. Matanya bergantian menatap Gideon dan melirik Alice. “Baiklah. Terima kasih banyak, Gideon. Setelah selesai, aku akan segera menemuimu.”
“Ya, nikmati waktumu, Lizbeth.”
Lizzy sempat melempar senyum kepada Gideon sebelum ambil langkah seribu mundur, kembali ke Asher dan Darren. Sepenuhnya menghindari Alice, bukan Gideon. Jika tidak ada Alice di dekatnya, Lizzy tidak akan semudah itu mengiyakan Gideon.
Ugh, Lizzy benar-benar harus memikirkan alasan yang bagus kepada kakak-kakaknya.
“Kau sungguh dekat dengan anak Weasley itu,” komentar Ashton setelah Lizzy kembali.
Raut Lizzy sedikit murung. “Begitulah. Apakah salah?”
“Tidak juga. Aku hanya cukup takjub.”
“Takjub?”
“Keluargaku tidak menyuruhku menjauh dari Weasley. Memang dasarnya aku dan Asher tidak berniat bergaul dengan anak-anak selain Trancy.”
Wajah murung Lizzy sirna, kini penasaran. “Lalu, apa pendapatmu tentang Gideon?”
“Dia sedikit aneh.”
“Aneh?”
Ashton menatap Gideon yang duduk di salah satu sofa sebelum kembali menatap Lizzy. “Entahlah, aku dan Asher merasa seperti itu.”
“Aku dan Kallista juga,” timpal Darren santai.
Lizzy menipiskan bibir, bingung. Benaknya mengingat seluruh sifat dan perlakuan Gideon yang tidak aneh sama sekali. Laki-laki itu sangat lembut serta penuh perhatian. Gideon tidak segan dalam berteman dengan Lizzy. Bahkan dia mengambilkan teh sebagai ucapan terima kasih.
Semua itu tidak aneh.
“Omong-omong, Elizabeth, kau mendapat informasi tentang rumor anak Battenberg yang disembunyikan?” tanya Darren membuyarkan benak Lizzy.
Lizzy mengerjap bingung, tidak tahu. “Anak Battenberg yang disembunyikan?”
“Ada rumor yang mengatakan anak keluarga Battenberg bukan hanya Irene,” tutur Ashton membuat mata Lizzy sedikit membulat kaget.
“Benarkah? Aku belum pernah mendengarnya,” sahut Lizzy tidak percaya.
Darren mengangguk. “Ya. Ayah dan kakak-kakakku pernah membicarakannya. Tampaknya itu bukan rumor, melainkan rahasia gelap yang hanya diketahui segelintir orang. Keluarga Phantomhive juga membicarakannya.”
“Begitulah. Ayahku sudah mengonfirmasinya, itu bukan rumor bebas, tapi rahasia gelap,” timpal Ashton, “keluarga Gilbert tidak membicarakannya?”
Lizzy menggeleng pelan. “Tidak. Em… mungkin pernah, tapi mereka tidak memberitahuku.”
“Sayang sekali. Biasanya keluarga Gilbert menjadi pihak pertama yang tahu hal-hal semacam itu,” ujar Ashton, tanpa sadar membuat Lizzy merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memberikan informasi apa-apa.
“Kami berniat mencarinya di mansion,” celetuk Darren sangat santai membuat Lizzy kaget.
“M—Mencari?” beo Lizzy nyaris melongo.
“Ya, berhubung Tuan Phantomhive sudah mengonfirmasi bahwa itu bukan sekedar rumor. Artinya, anak itu sungguh ada di suatu ruangan di dalam mansion,” Darren mengedip polos menatap wajah kaget Lizzy, “kenapa?”
“Bukankah masalah semacam itu terlalu bahaya untuk kalian?”
Giliran Ashton yang menatap Lizzy penuh kepolosan. “Huh? Hal-hal seperti ini bukan apa-apa bagi kami. Kami sudah melakukannya berkali-kali.”
Ah, jangan bilang mereka sama seperti kakak-kakakku, rutuk Lizzy mulai merasa malu sendiri karena meremehkan mereka duluan.
Darren berbalik badan untuk menghentikan Asher dan Kallista. “Hei, kalian! Berhenti melakukan hal-hal bodoh dan segera bawa p****t kalian ke sini! Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan!”
Baru sebentar Lizzy mengenal anak-anak Trancy dan Phantomhive, namun dia sudah merasa minder. Sudah terasa bahwa dirinya hidup di dunia yang berbeda dari mereka. Sama seperti yang dirasakan Lizzy terhadap kakak-kakaknya. Mereka serumah dan satu keluarga, namun hidup di dunia yang jauh berbeda. Jauh dari jangkauan Lizzy.
Mau bagaimana lagi, bukan?
Lizzy seorang calon Ratu Ophelia. Untuk apa calon Ratu diajarkan merampas nyawa lain dan melakukan hal-hal berbahaya?
“Elizabeth,” panggil Ashton pelan membuat Lizzy meliriknya, “kukatakan padamu, sedikit berhati-hatilah dengan anak Weasley itu. Kami memang tidak mengenalnya, tapi kami tahu ada yang aneh dari dia.”
Lizzy tidak punya pilihan untuk mendebatkan asumsi Ashton. Jadi, dia mengangguk kecil. “Tentu, terima kasih.”
***
“Yang Mulia, hadiah untuk Nona Elizabeth telah siap,” lapor Johan sesaat setelah memasuki ruang kerja Ian. “Para koki sudah menyiapkan menu yang cocok untuk perjamuan. Ruang makan sudah ditata dengan bunga sesuai perintah Anda. Semuanya telah siap, acara perjamuan makan malam besok siap dilaksanakan.”
“Kerja bagus,” puji Ian datar tanpa mengalihkan mata dari kanvas, sepenuhnya fokus melukis.
“Banyak sekali yang Anda berikan untuk Nona Elizabeth. Lebih banyak dari kado untuk Putri Elesis. Nona pasti akan senang menerimanya,” komentar Ben ceria, tanpa sadar mengundang dengusan Ian.
Tidak, Ben. Itu karena dia tidak mau repot-repot memikirkan satu barang yang cocok, jadi dia membeli seluruh produk di katalog. Selain itu, semua kado itu tidak sebanding dengan satu Royal Treasure untuk Putri Elesis, batin Chester dan Chloe satu pemikiran.
“Baguslah jika seperti itu anggapanmu,” Ian meniup kanvas sejenak, “si raja bodoh tidak akan protes lagi.”
Tidak, beliau akan protes lagi karena Anda tidak berniat memberikan Royal Treasure, batin Chester dan Chloe lagi.
“Grand Duke Gilbert telah mengirimkan balasan atas undangan perjamuan. Mereka akan hadir sesuai waktu yang tercantum di undangan,” ujar Johan.
“Apakah itu artinya anggota keluarga Gilbert akan hadir semua?” tanya Dale kalem.
Johan mengangguk kecil. “Berhubung ini adalah perjamuan makan malam antar keluarga, jadi seluruh anggota keluarga diwajibkan hadir. Terlebih keluarga Gilbert tidak hadir seluruhnya di pertemuan kemarin.”
“Alicia dan Theodoric, huh,” celetuk Ian datar diikuti hela napas pelan membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Ada masalah, Yang Mulia?” tanya Ben bingung.
“Tidak ada. Aku hanya bertanya-tanya apakah mereka segila yang dirumorkan para bangsawan,” jawab Ian seadanya sebelum kembali meniup kanvas.
“Nona Gilbert dan Tuan Muda Gilbert tidak segila yang rumor katakan,” sangkal Johan membuat alis Ian naik sebelah, meragukan sangkalannya.
“Benarkah? Aku sudah berkali-kali mendengar perbuatan mereka dalam membantu Grand Duke Gilbert dari ayah bodohku.”
“Saya pernah bertemu dengan mereka beberapa tahun lalu. Mereka tidak berbeda jauh dari Grand Duke Gilbert, rupawan dan berkharisma.”
“Ya, artinya mereka sama saja dengan Grand Duke. Tampilan luar mereka benar-benar menipu.”
“Benar, tapi yang rumor katakan terlalu berlebihan. Mereka tidak meminum darah manusia apalagi memakan daging manusia, Yang Mulia.”
Ben dan Dale melotot kaget bercampur ngeri mendengar ucapan Johan. Tidak tahu-menahu adanya rumor semacam itu tentang keluarga Gilbert. Selama ini yang mereka dengar adalah jasa-jasa keluarga Gilbert dalam ‘menjaga’ kerajaan, bukan rumor aneh dan gila semacam itu.
“Keluarga Gilbert adalah vampire?” cicit Ben pada Dale membuat Dale memelototinya.
“Tentu saja tidak, bodoh,” sahut Dale emosi.
“Aku tidak membicarakan rumor konyol itu. Aku membicarakan debut sosial mereka yang sempat menggemparkan wanita-wanita bangsawan,” ujar Ian dengan seringai geli.
“Ah, kabar itu,” gumam Johan tidak bisa berkata apa-apa. Mengingat kabar sekian tahun silam yang sempat menggemparkan seisi kerajaan.
Ian melirik Johan sekilas, menyeringai lebar. “Ya, Alicia de Gilbert kembali ke pergaulan sosial dengan pertunjukkan menampar dan menggunting rambut putri Viscount Sorensen. Sedangkan, Theodoric de Gilbert hampir membunuh dan mematahkan lengan putra Marquess Qollins.”
Johan tidak bisa menyangkal. Kabar itu memang benar, bukan sekedar rumor. Setelah kematian Eugene dan Ellie, anak-anak keluarga Gilbert kembali ke pergaulan sosial usai melalui masa berduka. Saat itu anak-anak lain merasa memiliki kesempatan untuk menghancurkan harga diri anak-anak Gilbert. Mereka tidak gentar melempar sindiran yang cukup tajam kepada Alice dan Theo.
Tidak tahu bahwa Alice dan Theo tidak pernah segan-segan dalam membalas perbuatan buruk. Apalagi Arthur.
Keluarga Sorensen langsung jatuh bangkrut setelah Arthur menarik kembali sekian investasi yang dia tanam di perusahaan Sorensen. Sedangkan, keluarga Qollins tidak bisa menuntut apa-apa. Marquess Qollins tidak berani sedikit pun untuk melawan Arthur karena berhutang jasa dan nyawa pada Arthur. Jika bukan karena bantuan Arthur, perbatasan kerajaan Ophelia di barat akan ditembus oleh para imigran gelap.
Sejak saat itu para bangsawan sadar, walau sang tirani Eugene de Gilbert telah tiada, itu tidak mengubah apa pun dalam hidup mereka. Masih ada Arthuria de Gilbert yang sama saja dengan Eugene. Selama keluarga Gilbert masih berdiri, kehidupan mereka tidak akan berubah.
“Mereka sangat eksentrik, benar-benar menghibur,” kekeh Ian santai memecah keheningan. Satu-satunya yang tertawa mengingat insiden menggemparkan itu.
“Omong-omong, Nona Elizabeth telah melakukan debut sosialnya kemarin, Yang Mulia,” ujar Johan membelokkan topik.
“Begitukah?” sahut Ian tidak minat.
“Ya. Nona melakukan debutnya di pesta teh yang diselenggarakan oleh Irene Battenberg.”
Ian manggut-manggut tidak peduli. “Apakah dia juga melakukan sesuatu seperti kakak-kakaknya?”
Johan beserta empat pengawal Ian langsung menahan napas mendengar pertanyaan Ian. Sama-sama mengingat kabar debut sosial Lizzy beserta rumor seputar gadis itu. Rumor yang sedikit tidak enak didengar.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari Johan, Ian menoleh. Mata merahnya teralih dari kanvas, menemukan Johan dan para pengawalnya sedang berdiri kaku menatapnya. Mengundang kernyitan di kening Ian.
“Apa?” tanya Ian heran.
“Tentang debut sosial Nona Elizabeth, ya, berjalan lancar,” ujar Johan berusaha tampak biasa saja. Padahal sia-sia saja mencoba menipu Ian.
Ian mendengus pelan. “Kau tidak bisa membohongiku, Johan. Apa yang kau sembunyikan?”
“Saya tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya saja rasanya tidak begitu penting bagi Anda untuk mengetahuinya.”
Kening Ian semakin mengerut heran. “Memangnya apa yang terjadi dengan perempuan itu?”
Johan saling melirik dengan empat pengawal cilik di sampingnya. Seolah sedang bertelepati satu sama lain, raut takut-takut mereka membuat Ian semakin heran.
Apa-apaan? Memangnya perempuan itu bisa apa? batin Ian mulai kesal sendiri menunggu penjelasan.
“Nona Elizabeth dekat dengan putra bungsu keluarga Weasley,” ungkap Johan penuh hati-hati.
Punggung Ian menegak, berhenti melukis. Tangan kirinya menyentuh pinggangnya, berkacak pinggang. Sementara tangan kanannya masih menggenggam kuas. Alisnya naik sebelah, sedikit tidak menyangka. “Maksudmu, Gideon Weasley?” tanyanya.
“Ya. Nona berteman dengan Gideon Weasley di perjamuan tersebut. Lalu, tiba-tiba saja Alysa Flow, Beatrice Berk, dan Rose Wisteria mengganggu Nona Elizabeth. Nona hampir terkena tamparan Alysa Flow jika saja tidak dihadang oleh anak-anak dari keluarga Trancy dan Phantomhive,” jelas Johan runtut.
Ian menyeringai kecil. “Bahkan perempuan itu juga membuat pertunjukkan menarik di pergaulan sosial.”
“Rumor kedekatan nona dengan Gideon Weasley merebak luas di kalangan para bangsawan sejak kemarin. Rumor itu mulai mempengaruhi istana.”
Ian mendengus pelan. “Memangnya mereka sedekat apa hingga sampai mempengaruhi istana, huh?”
“Terkait hal itu, banyak saksi yang melihat kedekatan mereka,” Johan menipiskan bibir sejenak, “ada yang mengatakan nona duduk bersamanya, Weasley mengambilkan teh untuk nona, Weasley berani mendekati nona dengan cara membenarkan syal nona. Ada juga yang mengatakan kedekatan mereka sampai di tingkat memanggil satu sama lain dengan nama kecil—“
KREK
Johan langsung menutup mulut melihat kuas di tangan Ian tiba-tiba patah seutuhnya menjadi dua. Tidak butuh waktu lama, suhu ruangan tiba-tiba turun drastis, membuat bulu kuduknya merinding. Perubahan atmosfer yang terlalu drastis pun sangat terasa.
Tidak jauh berbeda dengan Johan, para pengawal Ian bungkam seutuhnya. Sepenuhnya sadar untuk tidak mengeluarkan suara maupun bergerak.
“Ah, kuasnya tiba-tiba patah,” ujar Ian datar, mengagetkan Johan dan pengawalnya. Dengan santai dia membuang patahan kuas begitu saja, lalu duduk di kursi kecil, menatap lukisannya yang belum selesai. “Johan, bawakan kuas baru yang lebih kuat. Singkirkan kuas patah itu.”
“Baik, Yang Mulia.” sahut Johan sigap.
A—Apa yang baru saja terjadi? batin Ben, Chester, Chloe, dan Dale termenung sendiri di tempat karena perubahan sikap Ian yang terlalu drastis.
TO BE CONTINUED[Terima kasih atas jawaban kalian di BAB sebelumnya. Kalian berhasil menghilangkan kekhawatiranku, hehe. Jadi setelah kupikir-pikir, aku menemukan jalan alur yang lebih cocok. Yahh kuharap TQQ tidak akan membuat kalian cepat bosan, saking panjangnya]