“Huh? Duke Rothbason?” “Ya, Duke Rothbason.” “Dia teman ayah?” Eugene menoleh menatap putranya. “Bukan sekedar teman.” “Whoa, aku tidak menyangka ayah memiliki sahabat,” Arthur mengerjap polos, “apakah benar-benar sahabat ayah?” Eugene mendengus pelan seraya menoleh ke depan, melesatkan anak panah kelima ke lingkaran bidik dan sukses membidik tepat sasaran. “Tentu saja. Kau pikir aku orang seperti apa yang sampai tidak punya sahabat?” Bibir Arthur mengerucut dengan ekspresi menggemaskan. Dia ikut membidik lingkaran seperti sang ayah. Sayangnya, anak panah keempat yang dia lesatkan masih belum berhasil membidik lingkaran merah. Sukses membuat hati Arthur dongkol. Daripada berpedang dan bela diri, Arthur lemah dalam berpanah. Dalam bidang berpanah, Theo-lah yang paling mahir. Sat

