Tepat pukul lima sore, pertemuan Raja Garrold dengan Ian selesai. Cukup banyak hal yang mereka bicarakan selama empat jam penuh. Mayoritas mengenai perkembangan teknologi dan alur politik dunia. Bagi anak berusia 11 tahun bisa mengikuti topik pembicaraan semacam itu, Garrold sungguh terkesan. Dia tidak merasa sedang berbicara dengan anak kecil sama sekali berkat kejeniusan Ian yang sudah tidak perlu diragukan lagi.
Hubungan diplomatik antara Kerajaan Ophelia dan Kerajaan Pennsylvania semakin erat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Kau benar-benar di luar ekspektasiku, Nak. Aku sungguh menikmati waktuku bersamamu.” puji Garrold dengan wajah senang. “Aku menantikan kesempatan lain untuk membicarakan banyak hal denganmu. Kuharap kau tidak keberatan mendengar permintaan orang tua ini, Pangeran Mahkota.”
“Sebuah kehormatan bagi saya. Saya bersyukur saya tidak membuat Anda bosan. Saya menantikan kesempatan untuk menemani Anda lagi, Yang Mulia,” sahut Ian penuh hormat dan kharisma selayaknya seorang Pangeran Mahkota Kerajaan.
“Aku berharap tubuh tuaku dapat sedikit diajak kompromi untuk melalui perjalanan jauh sehingga dapat mengunjungi Ophelia kembali. Ah, masa muda memang masa-masa emas.”
Ian tersenyum lebar. “Anda tidak perlu khawatir. Saya akan berusaha menyempatkan waktu untuk mengunjungi Pennsylvania kembali.”
Mata tajam Elesis langsung menusuk Ian. Gadis itu berdiri di belakang Garrold dengan tangan melipat. Dia yang menjaga sikapnya menggunakan topeng elegan, tidak bisa bersikap tidak peduli kala Ian mengatakan kalimat semacam itu.
Coba saja kembali ke Pennsylvania, kubunuh kau! begitulah sorot tajam mata Elesis berkata kepada Ian.
Ian tidak buta, dia sangat menyadari sinyal tajam mata Elesis. Oleh karena itu, mata merahnya sempat melirik ke gadis itu, membalas sinyal sama tajamnya, Siapa yang ingin datang lagi ke kerajaan bodoh ini, huh?
Bibir Elesis bergerak mengeluarkan sepatah kalimat tanpa bersuara. “Cepat menjauh dari sini, Pangeran Idiot.”
Senyum penuh kepalsuan Ian semakin melebar menatap Garrold, semakin menyinggung Elesis. Ian membungkuk hormat diikuti Johan dan Nicholas di belakangnya. “Saya mengharapkan berkah dan perlindungan Tuhan selalu menyertai Kerajaan Pennsylvania.”
“Tentu, kuharap perjalananmu selalu dilindungi oleh Tuhan. Kau bisa berdiri.” sahut Garrold sebelum menoleh kepada Warren. “Warren, antarkan kepergian Pangeran Mahkota.”
Warren sedikit membungkuk. “Baik, Yang Mulia.”
“Terima kasih banyak atas bantuan dan bimbingan Anda, Yang Mulia.” ujar Ian sekali lagi bertingkah penuh kepalsuan membuat Elesis semakin geram. Tentu Ian menyadarinya sehingga lelaki itu menoleh ke Elesis. “Sampai jumpa, Putri Elesis. Saya menantikan kesempatan lain untuk bertemu Anda kembali.”
Dasar ular, hujat Elesis dalam lubuk hati terdalamnya.
“Saya juga menantikannya, Pangeran Ivander.” balas Elesis terpaksa tersenyum manis.
Dengan begitu rombongan Kerajaan Ophelia undur diri. Keluar dari ruang pertemuan utama, menyisakan Garrold dan Elesis dalam ruangan besar tersebut. Napas lega Elesis langsung berhembus setelah dirasa tamu kerajaan yang menyebalkan itu telah pergi. Buru-buru Elesis menoleh ke Garrold, hendak menyuarakan komplain.
“Apa tujuan ayah tadi pagi?” tanya Elesis tanpa basa-basi.
“Apa maksudmu?” tanya Garrold balik dengan polosnya.
Bola mata Elesis berputar jengah. “Ayah tahu apa maksudku.”
Garrold menghela napas lelah. Pria itu mendudukkan diri di kursi utama meja pertemuan. Mau tidak mau Elesis ikut duduk, bergabung. Wajah tidak suka Elesis terarah terang-terangan kepada Garrold. Garrold tahu, memaklumi. Elesis memang tipikal karakter blak-blakan yang akan langsung mengutarakan pemikirannya. Sekarang wajar baginya untuk komplain.
“Maka, bukankah sudah jelas bagaimana maksudku?” tanya Garrold ambigu membuat Elesis mengernyit bingung. “Menurutmu, bagaimana Pangeran Ivander?”
Alis Elesis menukik tajam, wajahnya mengeruh tenggelam dalam emosi. “Ayah benar-benar berniat menjodohkanku dengannya?!”
“Menjodohkan?” Garrold mengerjap bingung. “Aku bersyukur bila aku bisa melakukannya sejauh itu.”
“Huh?”
“Aku tahu hubungan kalian tidak baik. Bagaimanapun juga, aku hanya ingin membuatmu lebih menyadari posisimu sebagai perempuan yang pasti membutuhkan pendampingan laki-laki.”
Elesis sedikit melongo, mulai tidak mengerti arah maksud ayahnya.
“Dahulu saat Pangeran Ivander dan kau lahir, aku berniat menjodohkan kalian. Selain mempererat ikatan diplomatik antar kerajaan, aku sangat tahu akan menjadi seperti apa anak dari Marquis dan Victorique di masa depan. Sayangnya, empat tahun kemudian, muncul perintah Tuhan atas perempuan yang ditakdirkan menjadi pendampingnya.
“Aku bisa saja memaksa Marquis menjodohkan putranya denganmu, Elesis. Hanya saja aku tidak bisa melewati batas ketika aku tahu perempuan terpilih itu berasal dari keluarga Gilbert.”
Bibir Elesis sedikit menipis. “Ayah… tidak berani mendekati keluarga Gilbert.”
“Begitulah.” desah Garrold dengan napas berat. “Di antara semua orang, aku sangat tidak ingin berurusan dengan keluarga itu.”
“Jadi, apa kesimpulannya?”
“Aku mendekatkanmu dengan Ivander agar kau tahu bagaimana standar laki-laki yang kusetujui. Jika kau tidak ingin bertunangan dengan laki-laki pilihanku, setidaknya cari laki-laki yang kau sukai seperti Ivander. Aku benar-benar tidak akan berbicara lagi denganmu bila kau masih keras kepala atas pertunanganmu sendiri.”
Tubuh Elesis langsung berdiri, tangannya menggebrak meja cukup keras, dan wajahnya memerah padam. “Laki-laki seperti dia? Laki-laki menyebalkan, lancang, dan egois itu?!”
“Aku akan lebih bersyukur jika kau bisa benar-benar berakhir bertunangan dengannya.”
“Hal semacam itu tidak akan pernah terjadi! Lagipula dia sudah bertunangan!”
Garrold melengos pelan. “Ya. Dan aku tahu dengan pasti akan jadi seperti apa sosok Elizabeth de Gilbert itu.”
“Kau seorang Raja Pennsylvania, tapi kau masih berusaha mengeruk harta menggunakan cara menjijikkan ini. Bagaimana bisa kau tidak malu menyebut dirimu sendiri seorang Raja?”
Garrold masih mengingat sorot mata hijau dingin orang itu. Mata tajam itu seolah bercahaya dalam kegelapan, menyorot dengan lantang pada apa pun dalam kegelapan bagaikan mata burung hantu. Siap menghunuskan tatapannya tanpa gentar.
“Bersyukurlah aku tidak menghukummu dengan hukuman yang sewajarnya kulakukan. Kau memang Raja Pennsylvania, tapi akulah Penguasa Dunia Bawah Ophelia, dan kau memasuki teritorialku.”
Ya, aku tidak akan pernah bisa melupakan mata hijau mengerikan itu, rutuk Garrold seraya menoleh ke jendela. Aku juga tidak akan pernah bisa melupakan belas kasihan yang pria itu berikan. Eugene de Gilbert, kau tenang di dunia barumu?
***
“Memangnya apa yang ingin orang datar itu bicarakan, huh?” keluh Theo bernada malas membuat Alice ikut melengos kesal. “Aku baru saja pulang dini hari tadi dan sekarang sudah ada-ada saja masalah yang muncul.”
Alice menoleh, menatap Theo semakin terkapar di sofa. “Berhenti mengeluh dan mengeluarkan napas capek bodohmu. Kau membuat atmosfer ruangan semakin negatif.”
“Aku sangat berhak mendapatkan jadwal tidurku, kau tahu,” keluh Theo lagi, mengabaikan teguran Alice sepenuhnya.
“Kau pikir hanya tubuhmu saja yang perlu jadwal tidur, huh?”
Theo mendecak keras. “Hal bodoh ini pasti tidak jauh-jauh dari perkara bocah itu lagi.”
Seperti sulap, sela-sela jemari tangan kanan Alice sudah mengapit tiga jarum. “Siapa kau sebut bocah, huh?”
“Siapa lagi? Tentu saja bocah lemah itu,” Theo berdecak lagi, “aku tidak memiliki urusan apa-apa—ups.” ucapan Theo terputus kala jarum-jarum Alice menghunus ke arahnya. Dengan cepat tubuh Theo berpindah, terpaksa berhenti merebahkan diri.
“Dia punya nama.” desis Alice tajam dengan sorot dingin. “Kau tahu, Theo? Aku sungguh akan membunuhmu bila kurasa kau sudah melewati batas.”
Theo mendengus. “Kau benar-benar terlalu memanjakannya.”
“Lizzy tidak perlu menjadi seperti kita.”
“Ya, ya, dan lihatlah hasilnya. Seorang bocah lemah penuh kenaifan.”
Alice melipat kaki. “Jaga mulut sampahmu.”
Theo melompat ke sofa, kembali menempatinya setelah menyingkirkan jarum-jarum yang menusuk sofa. “Bila diingat-ingat, bukankah ini diskriminasi yang mengerikan? Dahulu kau dan pria datar itu tidak akan segan-segan menyiksaku bila aku bersikap sesuai hati nuraniku. Sekarang, kalian memperlakukan dan membesarkan bocah itu menjadi anak normal yang sangat lemah.”
Alice menyeringai kecil. “Jangan menyamakan gendermu dengan Lizzy. Kita semua tahu, sudah sewajarnya laki-laki dalam keluarga Gilbert harus mengemban kehidupan semacam itu.”
“Ah, seharusnya aku tidak komplain, bukan?” Theo tersenyum geli, terkesan merendahkan. “Untuk apa membesarkannya menjadi seorang pembunuh di saat dia akan menjadi seorang Ratu Ophelia di masa depan. Kita tidak ingin buku sejarah mencatat riwayat kehidupan seorang Ratu Ophelia yang gemar membunuh rakyatnya sendiri.”
KLEK.
“Hentikan omong kosongmu.”
Alice dan Theo menoleh ke pintu, menangkap figur Arthur memasuki ruang keluarga sambil menggendong adik mereka, Lizzy. Sebuah pemandangan yang mustahil terjadi hingga membuat Alice dan Theo melongo kaku. Theo sampai harus mengusap matanya berkali-kali demi memastikan pemandangan di hadapannya bukan sekedar ilusi. Sedangkan Alice mengalihkan mata ke segala arah sebelum kembali menatap Arthur dan Lizzy, benar-benar bukan ilusi.
Mengabaikan wajah melongo dua adiknya, Arthur bergerak menurunkan Lizzy, mendudukkannya di samping Alice. Sikapnya sangat tenang seolah-olah tindakannya bukanlah hal aneh. Arthur duduk di kursi kerjanya, berdehem pelan. Dia menggigit cerutu pipa porselain di ekor bibirnya, mata birunya menatap ketiga adiknya, siap memulai pembicaraan.
“Tanpa perlu basa-basi, waktunya sudah tiba.” ungkap Arthur ambigu, sepenuhnya membingungkan ketiga adiknya. Arthur menambahkan. “Membawa Lizzy ke istana kerajaan.”
Alice mengerjap sejenak. “Raja bodoh itu sudah mengirimkan surat perintah?”
“Seminggu yang lalu.” Arthur mengembuskan asap cerutu dari bibirnya. “Tanggal pertunangan masih belum diputuskan. Dia meminta kehadiran kita untuk membahasnya, mengingat ulang tahun Lizzy tiba enam hari lagi. Jadi, lusa kita akan pergi ke istana kerajaan.”
Mata Lizzy membulat sempurna, syok total. Padahal dia sudah menduga hal seperti itulah yang akan terjadi. Namun dia tidak menduga akan secepat itu Arthur memutuskan keberangkatan ke istana kerajaan. Lizzy pikir, tiga sampai lima hari lagi!
“Sudah kuduga ini tidak ada hubungannya denganku.” celetuk Theo kembali mengeluh. Kepalanya bersandar, lurus menatap langit-langit diikuti helaan napas lelah. “Kalian bisa pergi ke ibu kota sesuka hati. Jangan melibatkanku.”
Arthur mendengus pelan. “Aku tidak berencana melibatkanmu. Kau kupanggil karena kau ada tugas baru untuk menghabisi Harrison Alphinus.”
“Apa yang dia lakukan padamu, huh?” sahut Theo tidak terima dengan tugasnya. “Jujur saja, kau menyuruhku membunuh orang-orang tidak penting itu bukan karena mereka melanggar teritorialmu, tapi karena kau yang memang tidak suka melihat orang tidak berguna, bukan?”
Alis Arthur naik sebelah, tak terima. “Omong kosong. Harrison Alphinus menggelapkan dana bea cukai di pelabuhan Broxbroune. Menghabisinya merupakan perintah si raja bodoh.”
“Kenapa harus aku saat kaulah yang memegang mandat, huh?”
“Oh, kau ingin menemani Lizzy pergi ke istana kerajaan? Aku tidak keberatan bertukar posisi.”
Theo melotot. “Tentu saja tidak, bodoh! Ha! Terserah!”
Selesai mengatasi Theo, sorot Arthur berganti ke Alice dan Lizzy. “Seperti yang kukatakan, lusa kau akan pergi ke Ophele untuk menemui keluarga kerajaan. Ini akan menjadi pengalaman pertamamu keluar dari kediaman Gilbert, kau pasti sudah mengantisipasi sikapmu, bukan?”
“Aku mengerti. Aku pastikan untuk tidak mengecewakan kakak dan menjaga nama baik keluarga,” tanggap Lizzy terkesan percaya diri, padahal ia ingin melarikan diri, bersembunyi.
“Sesudah acara pertemuan di istana kerajaan, kau akan mulai aktif menghadiri pesta teh bersama Alice.”
Alice sedikit melotot. “Pesta teh? Kukira kita sudah sepakat akan membawanya setelah resmi bertunangan?”
Arthur memejamkan mata seraya mengembuskan asap cerutu. “Lebih cepat lebih baik.”
“Kau terlalu terburu-buru, bagaimana jika Lizzy belum siap?” protes Alice.
“Ya, bukankah kau seharusnya memikirkan kemungkinan dia akan mengacau dan membuat nama keluarga ternodai?” timpal Theo setuju diikuti hinaan pada Lizzy, membuat Lizzy terdiam.
“Dia bisa melakukannya,” sangkal Arthur sangat yakin.
Alice menoleh ke Lizzy, tangannya mengelus puncak kepala Lizzy. “Lizzy, kau baik-baik saja? Jika kau tidak merasa bisa melakukannya, jangan paksakan dirimu.”
Aku tidak baik-baik sama sekali, rutuk Lizzy sedikit tertekan. Aku belum siap, tidak akan pernah siap. Aku ingin lari, aku tidak ingin terlibat, aku ingin bebas, aku tidak akan pernah bisa melakukannya—.
“Dia adalah adikku, seorang Gilbert. Dia bisa melakukannya.” tandas Arthur dengan nada lebih tegas dan mutlak. Mengundang kekagetan dari ketiga adiknya, terutama Lizzy. “Jika dia gagal dan orang-orang menghinanya, maka sama saja mereka menghinaku.”
Kakak…, batin Lizzy tidak percaya.
Mata biru Lizzy melembut menatap Arthur, merasa asing dengan sikap dan tindakan lelaki itu. Perhatian yang tidak pernah Arthur tunjukkan itu sungguh asing bagi Lizzy. Lizzy pun tidak pernah berpikir Arthur akan melakukan hal-hal semacam itu. Lizzy sudah hampir pasrah pada ikatan persaudaraannya dengan Arthur setelah sekian lama Arthur memperlakukannya dengan dingin.
“Dia adalah adikku, seorang Gilbert.”
Oh, tidak, Lizzy ingin menangis.
TO BE CONTINUE
[Kuharap kalian tidak akan pernah bosan dengan TQQ. Bagi kalian yang menyukai cerita-ceritaku, follow ya, zheyenk. Tapi itu jika kalian suka dengan genre historical romance seperti TKL dan TQQ ini. Untuk ke depannya cerita-ceritaku bergenre historical romance semua, so, jangan berharap ada romance uwu kayak Koishiteru lagi, hehe]